PAYTREN PENDAFTARAN

BONGKAR RAHASIA

Bisnis Modal Murah Hasil Mewah

Jika saat ini Anda sedang membutuhkan sebuah peluang bisnis, Selamat Anda sudah berada ditempat yang TEPAT

DAFTAR SEKARANG
PAYTREN PENDAFTARAN

BONGKAR RAHASIA

Bisnis Modal Murah Hasil Mewah

Jika saat ini Anda sedang membutuhkan sebuah peluang bisnis, Selamat Anda sudah berada ditempat yang TEPAT

DAFTAR SEKARANG
PAYTREN PENDAFTARAN

BONGKAR RAHASIA

Bisnis Modal Murah Hasil Mewah

Jika saat ini Anda sedang membutuhkan sebuah peluang bisnis, Selamat Anda sudah berada ditempat yang TEPAT

DAFTAR SEKARANG
PAYTREN PENDAFTARAN

BONGKAR RAHASIA

Bisnis Modal Murah Hasil Mewah

Jika saat ini Anda sedang membutuhkan sebuah peluang bisnis, Selamat Anda sudah berada ditempat yang TEPAT

DAFTAR SEKARANG

Inilah Alasan Kenapa Sekarang adalah Waktu yang Tepat Untuk Anda Bergabung di Bisnis "PayTren",DAFTAR SEKARANG !

  • Produk DIBUTUHKAN, MURAH. Membuatnya MUDAH Terjual

  • Fitur yang mudah dipahami dengan manfaat yang nyata dirasakan

  • KOMISI Penjualan Yang BESAR, Langsung Cair mingguan

  • TERBUKTI banyak yang menghasilkan puluhan juta perminggu

  • Terdapat support sistem yang bisa digunakan untuk memasarkan

  • Karya Anak bangsa yang bisa membanggakan Indonesia

Simak penjelasan Ustad Yusuf Mansur Tentang PayTren

Info Lengkap, Silahkan Langsung Konfirmasi via WhatsApp

085743466026

Agar Lebih Mudah Pendaftaran & Bimbingan


Apakah Benar-benar Ada Perselisihan Pendapat Tentang Dianjurkannya Puasa Sembilan Hari Awal Bulan Dzulhijjah?


Om-Leehin.My.ID - Benarkah masih ada perselisihan pendapat ulama mengenai puasa sembilan hari pada awal bulan Dzulhijjah?

Saya jawab singkat: “benar-benar ada”.

apakah-benar-benar-ada-perselisihan-pendapat-tentang-dianjurkan-puasa-sembilan-hari-awal-bulan-dzulhijjah

Memang ada sebagian ulama yang menyatakan bahwa puasa tanggal satu sampai dengan tanggal sembilan Dzulhijjah dianjurkan, dan tidak terdapat perselisihan pada mereka. Mereka menyatakan bahwa banyak sekali dalil yang menunjukan hal itu, dan dalil-dalil tersebut sebagian dishahihkan oleh para ulama, dan sebagian lagi menyatakan bahwa dalil-dali (hadits-hadits) itu  masih diperselisihan keshahihannya oleh para ulama.

Di antara hadits tersebut ialah:
Hadits Pertama:

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ الْعَشْرِ. فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ 

“Tidak ada hari-hari yang mana amal shaleh padanya lebih dicintai oleh Allah kecuali sepuluh hari pertama (Dzulhijjah), Para shahabat berkata: “Wahai Rasulullah, (apakah melebih keutamaan) jihad di jalan Allah? Beliau bersabda: “(Ya, melebihi) jihad di jalan Allah, kecuali seorang yang keluar (berjihad di jalan Allah) dengan jiwa dan hartanya kemudian tidak ada yang kembali sedikitpun (darinya).”(Hadits Riwayat At-Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi, juz III, hal. 130, hadits no. 757 dari Abdullah bin Abbas radhiyallâhu anhumâ). Hadits dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Albani (Lihat: Irwâul Ghalîl, juz IV, hal. 110)

Sebagai catatan: “Hadits ini sama sekali tidak menyebutkan ‘puasa’”.
Hadits Kedua:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " مَا مِنْ عَمَلٍ أَزْكَى عِنْدَ اللهِ وَلَا أَعْظَمُ أَجْرًا مِنْ خَيْرٍ يَعْمَلُهُ فِي الْعَشْرِ الْأَضْحَى "، قِيلَ: وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ ؟، قَالَ: " وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ

“Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radiyallahu'anhuma, dari Nabi shalallahu 'alaihi wasalam bersabda: "Tidak ada amalan yang lebih suci di sisi Allah 'azza wajalla, dan tidak pula lebih besar pahalanya daripada kebaikan yang engkau lakukan pada tanggal sepuluh hari Adhha (Dzul Hijjah)." Beliau ditanya; "Tidak pula berjihad di jalan Allah 'azza wajalla?" Beliau menjawab: "Tidak pula berjihad di jalan Allah 'azza wajalla, kecuali seseorang yang keluar dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu pun.” (Hadits Riawayat Ad-Darimi, Musnad Ad-Dârimiy, juz II, hal. 1113, hadits no. 1815), yang dinyatakan shahih oleh Al-Albani.

Hadits ini juga tidak menyebutkan tentang ‘puasa’.

Kedua hadits di atas telah dishahihkan oleh para ulama.
Pendalilan dari dua hadits di atas, bahwa Nabi shalallahu 'alaihi wasalam menjelaskan bahwa seutama-utama amalan shalih di sisi Allah ta'ala adalah amalan-amalan shalih (yang dikerjakan) pada sepuluh pertama (1-9) bulan Dzulhijjah, dan amalan shalih di sini bersifat umum, mencakup: “puasa”. Oleh sebab itu maka puasa di waktu itu menjadi disunnahkan seperti amalan-amalan shalih lainnya. Jadi pendapat tentang dianjurkannya puasa itu sekadar ‘asumsi’, karena tidak ada kalimat -- yang terdapat dalam hadits tersebut --  yang secata eksplisit menyatakan tentang anjuran untuk berpuasa.

Ibnu Rajab rahimahullah berkata: "Hadits Ibnu Abbas menunjukan bahwa dilipatgandakannya pahala semua amal shalih di sepuluh pertama (Dzulhijjah) tanpa mengecualikan sesuatu pun darinya". Oleh karena itu, difahami oleh sebagain ulama, bahwa puasa termasuk amalan yang dimaksud oleh hadits itu.”

Hadits Ketiga:

عَنْ هُنَيْدَةَ بْنِ خَالِدٍ عَنْ امْرَأَتِهِ عَنْ بَعْضِ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ تِسْعَ ذِي الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنْ الشَّهْرِ وَالْخَمِيسَ 

“Dari Hunaidah bin Khalid dari Seorang wanita dari sebagian isteri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berpuasa pada sembilan hari bulan Dzulhijjah, serta pada Hari 'Asyura` serta tiga hari dari setiap bulan, dan hari Senin serta Kamis pada setiap bulan".(Hadits Riwayat Abu Dawud, Sunan Abî Dâwud, juz II, hal. 32t6, hadits no. 2437; juz I, 741, hadits no. 2437; dan Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad ibn Hanbal, juz V, hal. 27, hadits no. 22388; juz VI, hal. 288, hadits no. 26511; juz VI, hal. 243, hadits no. 27416) Imam Ahmad bin Hanbal dan Syu’aib al-Arnaut mendha’ifkan, karena kekacauan sanad dan matannya. Sementara itu, Syaikh al-Albani, dlam salah satu komentarnya, menyatakan bahwa sanadnya “shahih” dan para periwayatnya tsiqah,  selain Hunaidah bin Khalid (Lihat: Shahîh Abî Dawud, juz VII, hal. 196 hadits no. 2106).

Hadits yang lain:

عَنْ هُنَيْدَةَ بْنِ خَالِدٍ الْخُزَاعِيِّ عَنْ حَفْصَةَ قَالَتْ أَرْبَعٌ لَمْ يَكُنْ يَدَعُهُنَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صِيَامَ عَاشُورَاءَ وَالْعَشْرَ وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْغَدَاةِ. 

“Dari Hunaidah bin Khalid Al-Khuza'i dari Hafshah dia berkata, "Empat hal yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: puasa 'Asyura, puasa sepuluh hari, puasa tiga hari dalam setiap bulan dan dua raka'at sebelum Subuh.” (Hadits Riwayat An-Nasai, Sunan an-Nasâiy, juz  IV, hal. 220, hadits no.2416, Imam Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad ibn Hanbal, juz  VI, hal. 287, hadits no. 26502)

Syaikh al-Albani menyatakan, bahwa hadits ini “dha’if”; Sementara itu, Syu’aib al-Arnauth mengomentarinya sebagai hadits dha’if, kecuali pada pernyataan beliau [Rasulullâh shallallâllahu ‘alaihi wa sallam] dua rakaat sebelum subuh, penyataan ini (dua rakaat sebelum subuh:) “shahih”.

Hadits ini menetapkan secara jelas, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berpuasa pada sembilan hari di awal bulan Dzulhijah, ini sebagai dalil bahwa puasa tersebut sunnah. Namun para ulama berselisih pendapat tentang keshahihan hadits ini, sebagian mereka menshahihkankannya dan sebagian lagi medha’if, seperti Syaikh Al-Albani menshahihkan hadits yang diriwayatkan oleh sebagian isteri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, tetapi beliau mendhaifkan hadits yang berasal dari Hafshah.

Sementara itu, ada hadits yang berasal dari ‘Aisyah radhiyallâhu anhâ,

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا، قَالَتْ: “ مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَائِمًا فِي الْعَشْرِ قَطٌّ 

“Dari ‘Āisyah radhiyallâhu ‘anhâ, ia berkata: “Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada sepuluh hari pertama (secara penuh) bulan Dzulhijjah.” (Hadits Riwayat Muslim, Shahîh Muslim, juz III, hal.175, hadits no. 2846; An-Nasâiy, As-Sunan al-Kubrâ, juz III, hal. 243, hadits no. 2885; Al-Baihaqiy, As-Sunan al-Kubrâ, juz IV, hal. 427, hadits no. 8654; Ibnu Khuzaimah, Shahîh ibn Khuzaimah, juz III. Hal. 293, hadits no. 2103 dan Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad ibn Hanbal, juz VI, hal. 42, hadits no. 24648. Hadits ini dinyatakan shahîh oleh At-Tibrîzîy. Lihat: Muhammad bin ‘Abdullâh al-Khathîb at-Tibrîzîy, Misykâtul Mashâbîh, Tahqîq: Muhammad Nâshiruddîn al-Albâniy, juz I, hal. 462, hadits no. 2043).

Kata sebagain ulama, hadits yang berasal dari ‘Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ inilah yang harus dirujuk. Yang mengecualikan ‘puasa sembilan hari pada bulan Dzulhijjah’ sebagai sesuatu amalan yang tidak pernah dikerjakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga -- bisa difahami -- bahwa puasa sembilan hari itu ‘tidak disyari’atkan’.

Wallâhu ‘alamu bish-shawâb.

Sumber : Muhsin Hariyanto

Apa Yang Sebaiknya Kita Lakukan Untuk Membagikan Kulit Hewan Qurban?

Om-Leehin.My.ID - MENYEMBELIH udh-hiyah (hewan qurban) pada hari raya ‘Īdul Adh-ha merupakan salah satu bentuk ibadah ritual yang  hanya boleh dipersembahkan dan ditujukan dengan ikhlas kepada Allah semata.

Apa-Yang-Sebaiknya-Kita-Lakukan-Untuk-Membagikan-Kulit-Hewan-Qurban


Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ berfirman

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka dirikanlan shalat karena Tuhanmu, dan berqurbanlah (karena Tuhanmu pula).” (QS Al-Kautsar/108: 2)

Dengan demikian prosesi menyembelih hewan qurban yang dilakukan sebagai ibadah ritual persembahan untuk Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ adalah salah satu bentuk representasi kemurnian iman dan tauhid seorang mukmin.

Allah berfirman:

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ﴿١٦٢﴾ لَا شَرِيكَ لَهُ ۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ ﴿١٦٣﴾

“Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadah (sembelihan)ku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” (QS Al-An’âm/6: 162-163). Dan sebaliknya memeruntukkan dan memersembahkan sembelihan apa pun kepada selain Allah adalah sebuah tindakan syirik yang dilaknat oleh Allah. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam:

وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللَّهِ

“Dan Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah.” (Hadits Riwayat Muslim dari jalur Ali bin Abi Thalib radhiyallâhu `anhu, Shahîh Muslim, juz VI, hal. 84, hadits no. 5239))

Dan karena sifatnya sebagai persembahan khusus untuk Allah itu, maka menurut jumhur ulama, tidak ada bagian mana pun dari hewan qurban yang boleh dijual atau dijadikan sebagai upah jagal misalnya, termasuk kulitnya, bulunya dan bahkan kain penutup yang dipakaikan pada hewan qurban sebagai penahan cuaca panas dan dingin sejak seekor hewan telah ditetapkan sebagai udhiyah sampai saat disembelih. Karena sejak ditetapkan sebagai qurban yang dipersembahkan untuk Allah, maka hewan udh-hiyah itu telah murni menjadi “milik” Allah. Dan Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ – melalui Rasul-Nya shallallâhu ‘alaihi wa sallam – hanya mengizinkan agar “milik”-Nya itu dikonsumsi oleh pequrban (shâhibul qurbân) dan keluarganya, disimpan, dan dibagi-bagikan sebagai sedekah atau hadiah, dan tidak untuk dijual atau dijadikan upah jagal dan beaya operasional.

Dalam hadits yang berasal dari Ali bin Abi Thalib radhiyallâhu ‘anhu dinyatakan:

أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَهُ أَنْ يَقُومَ عَلَى بُدْنِهِ وَأَمَرَهُ أَنْ يَقْسِمَ بُدْنَهُ كُلَّهَا لُحُومَهَا وَجُلُودَهَا وَجِلَالَهَا فِي الْمَسَاكِينِ وَلَا يُعْطِيَ فِي جِزَارَتِهَا مِنْهَا شَيْئًا

“Sesungguhnya Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam memerintahnya (Ali) untuk mengurus onta-onta sembelihan (sebagai hadyu atau qurban) milik beliau, dan memerintahkan agar dia membagi-bagikan dagingnya, kulitnya dan bahkan “baju”-nya kepada orang-orang miskin, serta agar dia tidak memberikan sesuatu pun dari bagian hewan qurban itu kepada jagal (sebagai ongkos/upah).” (Hadits Riwayat Al-Bukhari, Shahîh al-Bukhâriy, juz II, hal. 211, hadits no 1717; dan Muslim, Shahîh Muslim, juz IV, hal. 87, hadits no. 3244).

Dan dalam hadits itu pula, dinyatakan oleh Ali bin Abi Thalib radhiyallâhu ‘anhu”:

أَمَرَنِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَتَصَدَّقَ بِجِلاَلِ الْبُدْنِ الَّتِي نَحَرْتُ وَبِجُلُودِهَا

“Rasulullah shallallâhu 'alaihi wa sallam memerintahkan aku agar menshadaqahkan pelana unta yang aku sembelih sebagai qurban dan juga kulitnya.” (Hadits Riwayat Al-Bukhari, Shahîh al-Bukhâriy, juz III, hal. 128, hadits no. 2299)
Dan dalam sebuah hadits yang diperselisihkan derajat riwayatnya, dinyatakan bahwa orang yang berkurban (shâhibul qurbân) tidak boleh menjual kulit hewan kurban atau bagian-bagian tubuh yang lain. Hal ini, karena Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

مَنْ بَاعَ جِلْدَ أُضْحِيَّتِهِ فَلاَ أُضْحِيَّةَ لَهُ.

“Barangsiapa menjual kulit hewan qurbannya, maka (seolah-olah) tiada qurban baginya.” (Hadits Riwayat Al-Hakim, Al-Mustadrak, juz II, hal. 422, hadits no. 3468; Al-Baihaqi, As-Sunan al-Kubrâ, juz IX, hal. 294, hadits no. 19708 dari [sahabat] Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu, dihasankan oleh Al-Albani, alam kitab Al-Jâmi’ ash-Shaghîr wa Ziyâdatuh, juz I, hal. 1107, hadits no. 11063). Atas dasar hadits-hadits tersebut dan lainnya, maka untuk haramnya penjualan daging hewan qurban secara khusus, telah menjadi ijma’ dan kesepakatan seluruh ulama. Sedangkan untuk bagian-bagian selain daging, seperti kulitnya, kepalanya dan lain-lain, memang terdapat sedikit perbedaan pendapat, namun jumhur madzhab (Maliki, Syafi’i dan Hambali) tetap sepakat bahwa, haram hukumnya bila bagian apa pun dari hewan qurban itu dijual atau dijadikan sebagai upah jagal, beaya operasional dan semacamnya.

Adapun mengapa tidak boleh dijual dan dijadikan upah jagal atau untuk biaya-biaya operasional yang lain, maka disamping memang hal itu semua dilarang berdasarkan dalil-dalilnya, juga karena penjualan, pengupahan jagal dan pengambilan beaya operasional dari bagian hewan qurban itu akan mengurangi nilai qurban dan menjadikannya tidak utuh lagi sebagai persembahan untuk Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ. Logikanya adalah bahwa, jika kulit hewan qurban itu misalnya dijual atau dijadikan upah jagal, maka seakan-akan sang pequrban (shâhibul qurbân) telah berqurban dengan misalnya seekor kambing atau sapi “tanpa kulit”.

Nah selanjutnya, jika demikian halnya, maka bagaimana cara panitia qurban di masjid dan lain-lain menyikapi dan memerlakukan kulit-kulit tersebut? Di bawah ini kami paparkan penjelasannya.

Perlu dipahami bahwa, larangan menjual kulit atau bagian apa pun dari hewan qurban itu tertuju kepada sang pequrban (shâhibul qurbân) dan juga panitia qurban dalam status, posisi dan kapasitasnya sebagai wakil kepercayaan dan penerima serta pengemban amanah para pequrban (shâhibul qurbân). Adapun jika yang melakukan penjualan itu si penerima kulit atau seseorang atau pihak yang berstatus sebagai wakil kepercayaan penerima, dan bukan wakil pequrban (shâhibul qurbân), maka hal itu – tentu saja -- boleh dan tidak dilarang. Karena memang para menerima bebas mengapakan saja (tentu saja, selain memubadzirkannya) apa-apa yang diterimanya dari bagian hewan qurban, seperti memanfaatkannya sendiri, mengonsumsinya, memberikannya kepada orang lain, termasuk ‘menjualnya’, dan lain-lain. Dan sebagaimana mereka (para penerima) bebas menjual sendiri yang mereka terima dari hewan qurban, seperti kulitnya misalnya, maka proses dan transaksi penjualan tersebut juga boleh jika diwakilkan kepada orang atau pihak lain.

Akhirnya, kami memandang perlu untuk mancari jalan keluarnya. Dan berikut ini beberapa opsi atau alternatif pilihan untuk cara memerlakukan dan mendistribusikan kulit hewan qurban, dengan pertimbangan untuk mencari dan memeroleh kemashlahatan dan menghindari kemadharatan:

1. Panitia melakukan pendataan nama orang-orang atau pihak-pihak penerima (tidak harus perorangan, tapi insyâallâh bisa juga yayasan, lembaga, masjid, panti, sekolah dan lain-lain) yang dinilai berhak mendapatkan kulit-kulit itu. Lalu setelah proses penyembelihan dan pengulitan usai serta kulit-kulit terkumpul, maka panitia menyerahkannya langsung dalam bentuk kulit kepada mereka sesuai data, dan membiarkan mereka melakukan apa saja terhadap kulit-kulit itu sesuai kemauan dan kebutuhan masing-masing. Karena dengan telah diserah terimakan, maka otomatis kulit-kulit itu telah menjadi hak milik sah para penerimanya. Yang berarti pula dengan begitu panitia telah lepas tanggung jawab terhadapnya.

2.Panitia melakukan pendataan para calon penerima seperti yang pertama, lalu mendatangi atau menghubungi masing-masing untuk memberi tahu bahwa ia akan ‘kebagian’ (mendapatkan bagian) kulit, seraya menanyakan apakah akan menerimanya langsung dalam bentuk kulit, ataukah ingin dibantu untuk dijualkan, lalu menerimanya sudah dalam bentuk uang senilai harga kulit yang telah ditetapkan menjadi bagian-nya. Nah, jika si penerima ingin dibantu untuk dijualkan, maka siapa saja (yang penting bisa bersikap amanah) bisa dan boleh mewakilinya menjualkannya, termasuk panitia itu sendiri. Karena yang penting di sini status dan posisinya sudah sebagai wakil penerima dan bukan lagi sebagai wakil pequrban (shâhibul qurbân). Ingat, yang tidak boleh adalah jika panitia menjual kulit masih dalan status dan posisinya sebagai wakil pequrban (shâhibul qurbân). Karena memang wakil itu terikat dengan seluruh hukum dan konsekuensinya yang mengikat pihak yang diwakilinya!

3.Panitia melakukan pendataan nama-nama calon penerima kulit seperti yang pertama dan kedua itu, akan tetapi tanpa harus mendatangi atau menghubungi satu persatu pihak-pihak penerima yang telah terdata tersebut, melainkan bisa langsung mewakili mereka dalam penjualan kulit yang menjadi bagian mereka sesuai data, lalu menyerahkan hasil penjualan kulit itu kepada mereka seusai proses transaksi jual beli. Dan hal itu insyâallâh ditoleransi, karena hampir bisa dipastikan bahwa, para penerima itu akan setuju jika dibantu dalam penjualan kulit-kulit itu untuk nantinya tinggal menerima hasil penjualan dalam bentuk uang, karena hal itu lebih memudahkan panitia dan sekaligus lebih meringankan dan membantu mereka sendiri.

Namun cara yang lebih afdhal untuk opsi terakhir ini adalah sebaiknya panitia menunjuk atau membentuk sub panitia yang secara khusus bertugas menangani kulit, yang sejak awal telah disepakati tentang status dan posisinya sebagai wakil para penerima kulit, khususnya dalam melakukan proses dan transaksi penjualan serta penyerahan hasilnya kepada mereka sesuai data dan fakta.

Dan satu hal yang harus ditegaskan agar tidak diabaikan di sini, dan juga supaya proses transaksi penjualan kulit itu dibenarkan dalam rangka mewakili dan atas nama pihak-pihak penerima, dan bukan lagi mewakili dan atas nama para pequrban (shâhibul qurbân), adalah bahwa pendataan nama-nama atau pihak-pihak penerima kulit harus sudah dilakukan sebelumnya, sehingga saat transaksi penjualan terjadi status kulit-kulit itu sudah benar-benar jelas sasaran alamat penerimanya. Dimana hal ini tentu saja sangat jauh berbeda dengan praktik umumnya panitia qurban selama ini, yang langsung menjual kulit-kulit qurban sebelum jelas betul siapa-siapa saja pihak penerimanya. Karena dalam kondisi seperti itu status dan posisi panitia tetap sebagai wakil para pequrban (shâhibul qurbân), dan bukan wakil penerima karena sampai penjualan terjadi, para penerima masih belum jelas dan definitif!
Itulah tiga opsi yang bisa dilakukan dalam menyikapi dan memerlakukan kulit hewan qurban yang selama ini memang selalu dilematis bagi para panitia qurban setiap tahun.

Wallâhu a’lamu bish-shawâb.

Sumber : Muhsin Hariyanto

Memahami Esensi Qurban


Om-Leehin.My.Id - TRADISI Qurban, hingga saat ini, telah menjadi bagian dari kegiatan umat Islam di seluruh belahan dunia. Dan mereka (baca: umat Islam) telah melaksanakannya sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kegiatan ritual yang menyertai pelaksanaan shalat ‘Īdul Adh-hâ.
Tetapi, pertanyaan yang harus diajukan: “apakah mereka melaksanakannya hanya sekadar sebagai sebuah tradisi, atau benar-benar telah melaksanakannya sebagai bagian dari kesadaran tauhîd ulûhiyyah mereka?” Karena Allah befirman:

لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَـٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ ۚ كَذَ‌ٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ ﴿٣٧﴾ 

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS al-Hajj/22: 37).

Qurban – dalam ayat tersebut – dinyatakan: “bukanlah sekadar kegiatan ritual untuk menyembelih hewan qurban. Tetapi, lebih jauh dari itu, dinyatakan oleh Allah sebagai perwujudan dari ketakwaan kepada Allah. Dan qurban yang dilakukan sebagai perwujudan dari ketakwaan itulah yang akan diterima oleh Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ sebagai ibadah qurban yang sesungguhnya.

Penjelasan

Qurban adalah sebuah istilah yang – bila dikembalikan kepada makna aslinya – bermakna “kedekatan atau pendekatan”, yang ketika dikaitkan dengan ibadah bermakna “upaya pendekatan diri seorang hamba kepada Khaliq-nya”. Simbolnya bisa berupa “penyembelihan hewan qurban”, sebagaimana yang dilakukan oleh umat Islam pada waktu hari raya “Idul Adha”, atau – sebenarnya – bisa dengan simbol lain yang tidak harus berupa penyembelihan hewan.

Memersembahkan “persembahan” kepada tuhan-tuhan adalah keyakinan yang dikenal manusia sejaka lama. Dalam kisah Habil dan Qabil yang disitir al-Quran disebutkan bahwa saudara kembar perempuan Qabil yang lahir bersamanya bernama Iqlimiya sangat cantik, sedangkan saudara kembar perempuan Habil bernama Layudza tidak begitu cantik. Dalam ajaran Nabi Adam ‘alaihis salâm dianjurkan untuk mengawinkan saudara kandung perempuan dengan saudara lak-laki dari lain ibu. Maka, dengan kebijakan itu, timbullah rasa dengki di hati Qabil terhadap Habil, sehingga ia menolak untuk melakukan pernikahan itu dan berharap bisa menikahi saudari kembarnya yang cantik. Lalu, untuk menyelesaikan perseteruan itu, mereka (Habil dan Qabil) bersepakat untuk memersembahkan “qurban” kepada Allah, dengan ketentuan: “siapa yang diterima qurbannya, itulah yang akan diambil pendapatnya dan dialah yang dianggap benar di sisi Allah. Selanjutnya, untuk melaksanakan kesepakatan itu, Qabil pun memersembahkan seikat buah-buahan dan Habil memersembahkan seekor domba dengan niat masing-masing. Dan ternyata, menerima qurban Habil, sebaliknya Dia (Allah) menolak qurban Qabil. Mengapa? Inilah sebuah peristiwa yang perlu dipahami sebagai sebuah pelajaran yang berharga.

Qurban ini juga dikenal oleh umat Yahudi untuk membuktikan kebenaran seorang nabi yang diutus kepada mereka, sehingga tradisi itu dihapuskan melalui perkataan nabi Isa bin Maryam. Tradisi keagamaan dalam sejarah peradaban manusia yang beragam juga mengenal persembahan kepada Tuhan ini, baik berupa sembelihan hewan hingga manusia. Mungkin kisah nabi Ibrahim ‘alaihis salâm yang diperintahkan menyembelih anaknya adalah salah satu dari tradisi tersebut.

Persembahan suci dengan menyembelih atau mengorbankan manusia juga dikenal dalam peradaban Arab pra-Islam. Disebutkan dalam sejarah bahwa Abdul Muthalib, kakek Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, pernah bernadzar, bahwa kalau ‘Ia’ diberi karunia 10 orang anak laki-laki, maka ‘Ia’ akan menyembelih salah satu anaknya sebagai qurban. Lalu, jatuhlah undiannya kepada Abdullah, ayah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Mendengar berita itu, kaum Quraisy melarangnya, agar tidak diikuti generasi setelah mereka. Dan akhirnya Abdul Muthalib pun sepakat untuk menebusnya dengan 100 ekor onta.

Karena kisah ini, pernah suatu hari seorang Badui memanggil Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam dengan panggilan: “Hai anak dua orang sembelihan!” Beliau hanya tersenyum. Dua orang sembelihan yang dimaksud dalam pernyataan itu adalah Isma’il ‘alaihis salâm dan Abdullah bin Abdul Muthalib.

Begitu juga persembahan manusia ini dikenal dalam tradisi agama masa Mesir kuno,  India, Cina, Irak dan dan umat manusia lainnya sebelum diutusnya Nabi Mummad shallallâhu ‘alaihi wa sallam sebagai Rasul Allah. Kaum Yahudi -- misalnya -- juga mengenal qurban manusia, hingga “Masa Perpecahan” (Diaspora). Kemudian lama-kelamaan qurban manusia diganti dengan qurban hewan atau barang berharga lainnya. Dalam sejarah Yahudi, mereka mengganti qurban dari manusia menjadi sebagian anggota tubuh manusia, yaitu dengan khitan. Kitab Injil – yang menjadi kitab umat Nasrani -- penuh dengan cerita qurban. Penyaliban Yesus menurut umat Nasrani merupakan salah satu qurban teragung. Umat Katolik juga mengenal qurban hingga sekarang, berupa kepingan “tepung suci”. Pada masa jahiliyah Arab, orang-orang Arab pun memersembahkan lembu dan onta ke Ka’bah sebagai qurban untuk tuhan-tuhan mereka.

Ketika Islam turun diluruskanlah tradisi tersebut. Islam mengakui konsep persembahan kepada Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ berupa penyembelihan hewan, namun diatur sedemikian rupa sehingga sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan dan bersih dari unsur penyekutuan (syirik) terhadap Allah. Islam memasukkan dua nilai penting dalam ibadah qurban ini, yaitu nilai historis berupa pengabadian kejadian penggantian qurban nabi Ibrahim ‘alaihis salâm dengan seekor domba – misalnya -- dan nilai kemanusiaan berupa pemberian makan dan membantu fakir miskin pada saat hari raya ‘Īdul Adh-hâ.

Jadi esensi qurban, dalam ajaran Islam -- bukanlah sekadar “penyembelihan hewan“ itu, yang pada akhirnya – hingga saat ini -- menjadi bahan yang diperdebatkan, dan sangat melelahkan, tetapi merupakan “pendekatan diri kepada Allah dengan simbol-simbol yang beragam“, termasuk hewan qurban itu, yang semuanya diorientasikan hanya untuk mencari ridha Allah semata-mata, sebagaimana yang diisyaratkan oleh Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dalam QS al-Hajj, 22:37 di atas.

Dari pemahaman yang tepat tentan Ibadah qurban, maka kita dapat mengambil beberapa pelajaran yang sangat berharga.

‘Ibrah (Pelajaran Penting) dari Ibadah Qurban


Kisah tentang Qurban, baik yang terjadi pada masa Nabi Adam ‘alaihis salâm,  terkait dengan dua orang puteranya, Habil dan Qabil, dan juga kisah yang terjadi pada masa Nabi Ibrahim ‘alaihis salâm, ketika diperitahkan oleh Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ untuk menyembelih puteranya (Isma’il), kini telah menjadi sebuah tradisi turun-temurun bagi umat Islam. Nabi Ibrahim ‘alaihis salâm yang sebenarnya pada saat itu -- secara pribadi -- berkeberatan untuk melaksanakannya, dengan kekuatan imannya, telah mengabaikan perasaannya, dan benar-benar bersedia untuk melaksanakannya dalam rangka mewujudkan ketaatannya kepada perintah Allah, sebagai satu-satunya Ilâh (Tuhan yang layak disembah). Inilah bagian dari kesadaran tauhîd ulûhiyyah yang diujudkan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salâm dalam bentuk ‘qurban’, yang layak dijadikan sebagai teladan bagi siapa pun yang hendak berqurban.

Nabi Ibrahim ‘alaihis salâm diutus oleh Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ. untuk mengorbankan puteranya (Isma’il), melalui mimpinya. Pada waktu itu Nabi Ibrahim ‘alaihis salâm yang gundah-gulana, akhirnya menceritakan perihal mimpinya kepada anaknya (Isma’il). Dan Isma’il pun berkomentar: “jika memang mimpi itu merupakan perintah dari Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ, maka segera laksanakanlah”, sebagaimana yang kita bisa fahami dari (makna) firman Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dalam QS ash-Shâffât/37: 102,

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah, apa pendapatmu." Ia (anaknya) pun menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insyâallâh kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

Kesungguhan serta keihklasan Nabi Ibrahim ‘alaihis salâm dengan menjalankan perintah Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ, dibalas dengan perubahan (pergantian) puteranya (Nabi Isma’il) dengan ‘hewan qurban’. Hingga pada akhirnya pun Isma’il tidak (jadi) tersembelih, karena kehendak Allah. Keteguhan serta kesabaran Nabi Ibrahim ‘alaihis salâm ini, telah memberikan suatu pelajaran bahwasanya Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ selalu memiliki jawaban yang terbaik atas semua perintah yang diberikan. Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dengan segala kemahasempurnaan-Nya telah memiliki alasan tertentu di dalam setiap ujian yang diberikan kepada seluruh hamba-Nya.

Dari keikhlasan Habil dan – juga – keteguhan iman yang dimiliki oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salâm beserta anaknya – Isma’il -- ini, kita dapat menarik  beberapa pelajaran, antara lain:

Pertama, makna berqurban adalah upaya pendekatkan diri kepada Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ. “Berqurban”, bermakna kesunggguhan untuk menyerahkan segalanya kepada Allah, sebagai perwujudan dari kesadaran Tauhîd Ulûhiyyah. Seperti -- misalnya -- Nabi Ibrahim ‘alaihis salâm yang telah mengikhlaskan puteranya (Isma’il) yang sesungguhnya sangat beliau cintai, dengan perintah Allah, beliau rela untuk mengurbankan puteranya tersebut. Hal ini tentu saja tidak akan mudah dilakukan, kecuali bagi orang yang telah memiliki keimanan yang kokoh, dan – utamanya – ber-tauhîd ulûhiyyah.

Kedua, dengan cara berqurban manusia tersebut diajarkan untuk berbagi kepada orang lain, seperti -- misalnya -- yang telah dipaparkan sebelumnya, bahwa Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ selalu memunyai alasan yang sangat kuat untuk memerintahkan para hamba-Nya untuk berqurban. Dengan adanya qurban ini kita dilatih untuk membuang sikap bakhil dan tamak dan menghadirkan sikap kedermawanan.

Ketiga, qurban bukanlah sekedar upacara ritual belaka. Dengan berqurban, manusia dilatih untuk membangun karakternya sebagai pribadi ‘pemberi’, dan melepas karakternya sebagai ‘peminta’. Karena Islam – dalam konsep zakat, misalnya --mengajarkan kepada umatnya untuk menjadi para muzakki, dan bukan ‘mustahiq’.

Demikian ulasan ringkas yang dapat penulis sampaikan tentang makna ‘qurban’, yang utamanya penulis rujuk pemahamannya dari QS al-Hajj/22: 37. Semoga bermanfaat.

Wallâhu ‘alamu bish-shawâb.

Sumber : Muhsin Hariyanto

Serah Terima Sertifikat Syariah Halal PayTren dr MUI


Info Lengkap, Silahkan Langsung Konfirmasi via WhatsApp

085743466026

Agar Lebih Mudah Pendaftaran & Bimbingan