Masuk Neraka Siapa Takut " Ya Allah Ampuni Dosa Hamba "

Masuk Neraka Siapa Takut “ Ya Allah Ampuni Dosa Hamba “

Bismilllahirrahmanirrahim… 
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh sahabat – sahabat sukses yang dirahmati Allah SWT. Pada kesempatan kali ini penulis ingin sedikit berbagi kisah yang berkaitan dengan kenakalan yang mungkin pernah dilakukan sebagian dari kita. Sebelum penulis memulai kisah ini, penulis berharap semoga tulisan ini dapat memberikan sedikit renungan untuk sahabat – sahabat semua, merenungkan apa - apa yang pernah dilakukan sehingga pantaskan kita untuk masuk ke dalam surganya Allah SWT.

Berawal pada sebuah keluarga sederhana yang tinggal di sebuah kota di Sumatera Selatan, tepatnya di kota Muara Enim. Seorang anak laki - laki yang lebih dikenal dengan panggilan “ Iin” dalam keluarga itu. Dia ini merupakan anak pertama dalam keluarga sederhana ini. Sejak kecil kedua orang tuanya sudah mengajarkan untuk membantu orang tua seperti mencuci piring, menyapu rumah, mencuci pakaian sendiri dan lain sebagainya. Sudah menjadi hal yang biasa, apa – apa yang dikerjakan ibunya itu juga dikerjakan olehnya. 

Orang tua anak itu terkenal keras dan tegas dalam mendidik anak – anaknya terutama sang ayah. Karena orang tuanya ingin mengajarkan arti mandiri kepada anak – anaknya. Semua tetangga bahkan anak didik ayahnya di sekolah tahu akan ketegasan dalam hal mendidik. Ayahnya selalu menasehati jika apa – apa yang dikerjakan salah, tapi sang anak tidak pernah mau mendengarkan apa yang dijelaskan sang ayah. Sampai – sampai sang ayah memukulnya. Ibunya pun pernah menasehatinya akan hal – hal yang dia kerjakan itu salah. Tapi, hasilnya tetap sama dengan apa yang terjadi sebelumnya. Anak laki - laki itu merupakan anak yang keras kepala yang suka membantah perkataan orang tua. Tiap hari dia bisanya hanya membuat orang tuanya marah. Pulang sekolah berkelahi dengan temannya, pergi mandi di sungai sampai suatu hari pakaiannya hilang di ambil orang. Orang tuanya sudah mengingatkan berkali – kali tentang larangan mandi di sungai. Akhirnya dia pulang dengan tanpa mengenakan pakaian. Dia hanya mengenakan sebuah kaos yang dijadikan sebagai celana. Ketika sampai di rumah ayah dan ibunya langsung memarahinya habis – habisan. 

Keseharian anak itu hanya bisa membuat orang tuanya marah dan marah. Keluarga yang sederhana itu selalu di kelilingi oleh suara teriakan yang keluar dari mulut orang tuanya. Sang ibu menyuruh ataupun meminta tolong mengerjakan sesuatu, tapi dia menjawab “ nanti saja bu lagi asyik main bu “ sampai – sampai di dalam hati dia berkata “ ah mengganggu orang lagi asyik main saja “. Ibu akhirnya memarahinya “ Sudah dulu mainnya itu, kalau dipanggil dan disuruh itu cukup satu kali. Jangan mau dimarah – marah dulu baru mau mengerjakan “. Tapi di dalam hatinya mengomel dan menggerutu. Pada suatu malam sang ibu menangis di belakang rumah dikarenakan sang anak yang susah untuk dinasehati. 

Sampai dia menduduki kelas 3 Madrasah Tsanawiyah Hari – hari yang dilakukan hanya bisa membuat orang tuanya marah dan menangis. Dia pernah diusir dari rumah, semua pakaian di dalam lemari dibuang ke luar rumah kerena kenakalan dan sifat keras kepala terhadap orang tua. Singkat cerita, dia hanya bisa membuat orang tuanya marah dan menangis.

Pada saat kelulusan kelas 3 Madrasah Tsanawiyah orang tuanya bertanya mengenai kelanjutan pendidikannya. Apakah dia ingin melanjutkan pendidikannya ke SMK atau Aliyah. Ketika itu dia melontarkan perkataan bahwa dia ingin melanjutkan pendidikannya ke Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo. Orang tuanya merasa terkejut dengan apa yang diucapkan oleh anaknya itu. Dengan perasaan senang dan bingung, orang tuanya berpikir akan biaya yang harus dikeluarkan untuk keperluan pendidikan anaknya di Pondok Modern Darussalam Gontor. Orang tuanya bingung harus kemana mencari uang demi mengabulkan permintaan anaknya dengan penghasilan bulanan hanya pas-pasan. 

Suatu malam, berkumpullah keluarga sederhana itu. Pada saat itu juga pertanyaan - pertanyaan tegas yang diucapkan sang ayah kepada sang anak. 
“ Apakah kamu benar – benar ingin melanjutkan pendidikanmu di sana ? “  ucap sang ayah. 
“ Benar yah” jawabnya.
“ Jangan benar – benar, biaya ke sana itu tidak sedikit. Tidak gampang mencari uang.  Kalau kamu ke sana cuma hanya untuk buang – buang uang. Lebih baik tidak usah ke sana dan kamu lanjutkan di sini saja “ ucap tegas sang ayah dengan nada tinggi. 
“ Benar yah, benar saya ingin melanjutkan pendidikan saya ke sana “ jawabnya.
“ Kalau itu memang keinginan kamu. Ingat baik – baik tentang hal ini. Kita ini orang miskin bukan orang kaya. Kita bukan orang yang dapat mengeluarkan uang setiap hari, setiap jam, setiap menit bahkan setiap detik. Harus kamu ingat ini dengan baik – baik bukan dengan keras kepala. Kalau kamu saat ingin minta dijemput untuk pulang karena tidak betah belajar di sana. Jangan harap pulang ke rumah kamu dapat sekolah lagi, yang ada kamu tidak usah belajar lagi dan ikut pamanmu kerja membajak sawah. Itu yang harus kamu pegang baik – baik “ Kata sang ayah dengan tegas. 

Anak laki - laki tersebut menunduk kepala sambil berpikir kemudian menjawab dengan nada kurang meyakinkan kedua orang tuanya “ Iya yah “.
Tanpa berpikir panjang sang ayah berkata “ Ya sudah, ayah beri waktu satu minggu untuk berpikir mengenai hal ini “.    

Hari berganti hari , waktu berganti waktu dilalui oleh anak laki - laki itu untuk berpikir akan permintaannya untuk melanjutkan pendidikannya ke Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo. Dia berpikir apakah akan betah tinggal dan belajar di pondok dengan penddikan 24 jam di kelas dan asrama itu. Tapi, dengan keras kepalanya dia berpikir “ yang penting saya jauh dari orang tua, dari pada sedikit – sedikit dimarah sedikit – sedikit dimarah. Saya sudah seperti anak tiri saja dalam keluarga ini “. Pada akhirnya satu minggupun berlalu dan dia memutuskan untuk tetap melanjutkan pendidikannya ke Pondok Gontor. Walaupun niat awalnya hanya untuk jauh dari orang tuanya. Sebab, kalau dia meminta untuk melanjutkan sekolah keluar daerah hanya SMK atau Aliyah pasti tidak akan dikabulkan oleh orang tuanya. Ke esokan harinya, sang ibu mengajak dia pergi ke rumah saudara dengan mengendarai sebuah becak tua. Uang sebesar Rp. 3000,- diberikan kepada pengendara becak itu sesampainya mereka di rumah saudara. Ternyata di rumah itu sang ibu meminjam uang sebesar Rp. 5.000.000,- . Di perjalanan pulang ke rumah dia bertanya kepada sang ibu.
“ Uang itu untuk apa bu “ ? Tanya sang anak.
“ Uang ini untuk keperluan kamu berangkat dan biaya pendaftaranmu di sana “ jawab sang ibu.
Dengan polosnya sang anak menjawab “ oh begitu ya bu “.

Mulai pada tahun 2005 - 2009 anak laki - laki itu menjadi santri di Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo. Di sanalah dia baru menyadari akan arti “ berbakti kepada kedua orang tua “. Selama 4 tahun dia menyadari akan kesalahan terbesar yang telah dia perbuat kepada orang tuanya. Ada sebauh hadits yang selalu membuat dirinya merenungi kesalahan – kesalahannya yang dulu dia lakukan terhadap kedua orang tua yang telah membesarkannya yaitu“ Ridho Allah terdapat pada rhido kedua orang tua “. Ketika selesai yudisium kelulusan santri Pondok Modern Darussalam Gontor angkatan 2009, sang ibu sujud di kakinya sambil berkata “ Terima kasih ya Allah , terima kasih nak “ dan seketika itu juga sang ibu memeluknya.

Tetesan air matapun terjatuh membasahi wajah ibunya. Itu merupakan pertama kalinya dia melihat tangisan kebahagian sang ibu atas dirinya dan sang ayah juga turut bahagia dengan kelulusan yang dia dapatkan.
Dari sinilah dia merenung atas apa yang dulu pernah dia lakukan terhadap orang tuanya. Suatu malam dia berdo’a :
“ Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim, apa yang telah hambamu ini perbuat selama ini terhadap kedua orang tua yang telah membesarkan hamba sampai sekarang ini, ya Allah “. 
“ Kenapa hambamu ini baru menyadari kesalahan ini, ya Allah “. 
“ Betapa besar dosa yang telah hambamu ini perbuat, ya Allah “. 
“ Apakah masih ada ruang maaf bagi hambamu, ya Rab “. 
“ Apakah hambamu ini pantas untuk surgamu, ya Allah “.
“ Mereka tanpa perasaan dendam dan benci, atas semua kesalahan yang pernah hamba perbuat terhadap mereka “.
“ Ya Allah Ampuni Dosa hambamu ini, ya Allah”.
“ Bukakanlah pintu tobat untuk hambamu, ya Allah “. 
“ Berikanlah hamba kesempatan untuk membuat mereka bangga terhadap hambamu ini, ya Allah”.
“ Ya Allah ampunilah dosa kedua orang tua hamba yang telah membesarkan hamba, ya Allah “. 
“ Ya Allah ya Rahim, mulai pada detik ini hamba berjanji padamu akan benar – benar berbakti kepada kedua orang tua hamba dan tidak akan membaut mereka marah – marah lagi bahkan sampai ibu tercinta hamba meneteskan air mata lagi, ya Allah “.
“ Ya Allah berikanlah kesehatan jasmani , rohani kepada kedua orang tua hamba, ya Allah “.
“ Ya Allah berikanlah mereka umur panjang dan baik lagi bermanfaat bagi sesama, ya Allah “. 
“ Ya  Allah ampunilah dosa hambamu ini, ya Allah “.
“ Ya Allah, malam ini hamba bermunajat kepadamu dengan memohon ampunan atas semua kesalahan yang selama ini hamba perbuat terutama terhadap kedua orang tua hamba, ya Allah, karena Engkau Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang “. 
“ Rabbanaa Aatina Fid Dunyaa Hasanah wa Fil Aakhirati Hasanah wa Qinaa ‘Azaabannaar “
“ Walhamdulillahirabbil Aalamin “.

Sahabat – sahabat sekalian , penulis berharap semoga kisah ini bisa sedikit memberikan kita pelajaran akan arti “ Berbakti kepada orang tua “. Kisah ini tidak lain merupakan kisah yang penulis sendiri alami dan lakukan. Mari sahabat – sahabat sukses yang dirahmati Allah, kita mulai dari sekarang berjanji pada diri kita untuk memberikan hal yang terbaik untuk kedua orang tua kita. Pengorbanan orang tua kita sudah lebih dari cukup untuk kita saat ini, tapi pengorbanan itu akan terbalaskan dengan apa ?. Tentunya dengan kesuksesan kita, ketaatan kita kepada mereka dan yang paling utama adalah taat dalam ibadah kepada Alla SWT. 

“ Tiada Kata Terlambat Untuk Berbuat Baik dan Meninggalkan Keburukan “