Buah Ke-Ikhlasan

siswa akhir 2009
Buah Ke-Ikhlasan,- Pada tanggal 10 Ramadhan saya mengikuti yudisium kelulusan siswa akhir pondok modern Darussalam Gontor Ponorogo. Pada yudisium itu saya mendapat amanah untuk mengabdi dan mengajar di pondok cabang Gontor yaitu Gontor 9 yang berada di desa Tajimalela, Kalianda, Lampung Selatan.

Berawal saat menjadi guru tahun pertama di Gontor 9. Pada bulan pertama pengabdian, saya ditempatkan sebagai coordinator penatu atau sering kita sebut saat ini “laundry”. Hari-hari saya jalani penuh ikhlas dan rasa senang bersama staf yang lain. Tapi sebagai guru kewajiban utama kami harus mengajar berbagai macam dirosah islamiyah dan pelajaran umum lainnya. Dari kegiatan akademis dan non akademis juga harus kami laksanakan. 

Pada bulan kedua dari pengabdian saya terjadi perpindahan staf. Di saat perkumpulan guru-guru hari kamis siang. Bersama pimpinan pondok Gontor 9, kami diberi nasehat dan saat itu juga pengumuman perpindahan staf atau mutasi. Banyak dari guru-guru yang di mutasi ke beberapa sector penting di pondok. Seperti Pengasuhan santri, Pengajaran, KMI, Bahasa dan lain-lain. 

Bersamaan dengan itu, pimpinan pondok memberikan amanah kepada saya untuk menjadi salah satu staff Pengasuhan Santri. Pengasuhan Santri merupakan bagian yang sangat penting dan bisa dianggap paling tinggi di atas bagian lain walaupun pada hakikatnya semua bagian sangat penting. Sebagai staf pengasuhan santri harus benar-benar bekerja extra keras. Karena kami adalah staf yang berurusan langsung dengan kegiatan santri, disiplin santri bahkan wali santri. Kami dituntut untuk tegas, dewasa dan bijaksana dalam memberikan keputusan dari berbagai hal. 

Gontor 9
Masjid Gontor 9
Berawal dari inilah sebuah ke-ikhlasan saya benar-benar di uji. Saya sedikit terkenal keras dalam hal kedisiplinan ketika itu. Tapi itulah tuntutan yang harus dipikul. Seorang pemimpin harus siap dipuji dan dibenci demi menegakkan sebuah disiplin dan aturan yang sudah ditetapkan. Ada santri yang senang dan juga santri yang tidak senang dengan cara dan metode yang saya terapkan. Tetapi itu saya anggap wajar dalam dunia pendidikan. Sang senang mereka santri-santri yang taat dengan peraturan. Yang tidak senang mereka santri-santri yang bandel-bandel. 

Tepat pada hari kamis siang di saat semua guru berkumpul dengan pimpinan pondok dalam rangka evaluasi mingguan. Sebelum pergi meninggalkan kamar, saya lupa memasukkan laptop ke dalam kamar. Jadi laptop itu terletak di atas meja dekat jendela ruang depan kamar. Ketika itu pintu sudah saya kunci tapi jendela tetap terbuka.
Buah Ke-Ikhlasan
Ilustrasi Laptop - google image
Hati sudah mulai gelisah saat perkumpulan berlangsung. Pulang dari perkumpulan kegelisahan hati saya itu menjadi kenyataan. Laptop yang saya letakkan di atas meja dekat jendela kamar sudah tiada. Ke sana ke mari saya bertanya dan mencoba mencari tetap tidak ada yang tahu. Pada malam harinya saya adakan penggeledahan ke setiap asrama dan kamar-kamar, tetapi tetap hasilnya nihil. Saya berkata dalam hati “ Ya sudahlah mungkin umur laptop itu cuma sampai hari ini, mungkin ini juga keteledoran saya. Insya Allah ada hikmahnya. Kalau memang ada yang mengambil itu karena dia tidak suka dengan saya. Semoga dia senang dan bahagia bersama laptop itu. Kalau dia membutuhkan uang dengan laptop itu, semoga uangnya bermanfaat untuknya.” 

Jum’at pagi semua masyarakat pondok bersih-bersih bersama, Allah berkehendak lain. Ternyata  ada santri yang menemukan laptop saya itu di tumpukan sampah-sampah yang sudah kumuh, bau dan basah. Laptop saya ditemukan tetapi sudah tidak bisa digunakan kembali. Saya hanya bisa berdo’a, bersabar dan ikhlas dengan apa yang terjadi. Karena saya yakin semua apa yang terjadi di dunia ini ada pelajaran dan hikmah yang dapat kita ambil. Dan yakinlah bahwa semua itu pasti akan ada balasan dari yang Maha Kuasa. 

“ Jika kita membantu Allah, maka Allah akan membantu kita “


Kita mendidik dengan ikhlas dan niat baik “ amar ma’ruf nahi munkar “ Allah akan membalas itu sesuai dengan apa yang kita perbuat. Alhamdulillah setelah 4 sampai 5 bulan kemudian Allah swt memberikan rezeki kepada saya untuk memiliki netbook walaupun tidak sebesar laptop yang dulu. Hingga saat ini netbook itu selalu menemani saya menulis dan berkarya. 

Ikhlaskan semua yang telah terjadi,
Bersabar dalam menjalani,
Berusaha kembali untuk menjadi yang terbaik lagi. 


Tulisan ini diikut sertakan dalam GIVE AWAY TENTANG IKHLAS

Ke-ikhlasan membuahkan kedamaian, ketentraman, ketenangan, kebahagian dan pelajaran yang baru yang dapat kita ambil himahnya.