5 Alasan kenapa sekarang adalah waktu yang tepat untuk bergabung di Bisnis PayTren




Info Lengkap, Silahkan Langsung Konfirmasi via WhatsApp

085743466026

Agar Lebih Mudah Pendaftaran & Bimbingan


Apakah Benar-benar Ada Perselisihan Pendapat Tentang Dianjurkannya Puasa Sembilan Hari Awal Bulan Dzulhijjah?


Om-Leehin.My.ID - Benarkah masih ada perselisihan pendapat ulama mengenai puasa sembilan hari pada awal bulan Dzulhijjah?

Saya jawab singkat: “benar-benar ada”.

apakah-benar-benar-ada-perselisihan-pendapat-tentang-dianjurkan-puasa-sembilan-hari-awal-bulan-dzulhijjah

Memang ada sebagian ulama yang menyatakan bahwa puasa tanggal satu sampai dengan tanggal sembilan Dzulhijjah dianjurkan, dan tidak terdapat perselisihan pada mereka. Mereka menyatakan bahwa banyak sekali dalil yang menunjukan hal itu, dan dalil-dalil tersebut sebagian dishahihkan oleh para ulama, dan sebagian lagi menyatakan bahwa dalil-dali (hadits-hadits) itu  masih diperselisihan keshahihannya oleh para ulama.

Di antara hadits tersebut ialah:
Hadits Pertama:

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ الْعَشْرِ. فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ 

“Tidak ada hari-hari yang mana amal shaleh padanya lebih dicintai oleh Allah kecuali sepuluh hari pertama (Dzulhijjah), Para shahabat berkata: “Wahai Rasulullah, (apakah melebih keutamaan) jihad di jalan Allah? Beliau bersabda: “(Ya, melebihi) jihad di jalan Allah, kecuali seorang yang keluar (berjihad di jalan Allah) dengan jiwa dan hartanya kemudian tidak ada yang kembali sedikitpun (darinya).”(Hadits Riwayat At-Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi, juz III, hal. 130, hadits no. 757 dari Abdullah bin Abbas radhiyallâhu anhumâ). Hadits dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Albani (Lihat: Irwâul Ghalîl, juz IV, hal. 110)

Sebagai catatan: “Hadits ini sama sekali tidak menyebutkan ‘puasa’”.
Hadits Kedua:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " مَا مِنْ عَمَلٍ أَزْكَى عِنْدَ اللهِ وَلَا أَعْظَمُ أَجْرًا مِنْ خَيْرٍ يَعْمَلُهُ فِي الْعَشْرِ الْأَضْحَى "، قِيلَ: وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ ؟، قَالَ: " وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ

“Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radiyallahu'anhuma, dari Nabi shalallahu 'alaihi wasalam bersabda: "Tidak ada amalan yang lebih suci di sisi Allah 'azza wajalla, dan tidak pula lebih besar pahalanya daripada kebaikan yang engkau lakukan pada tanggal sepuluh hari Adhha (Dzul Hijjah)." Beliau ditanya; "Tidak pula berjihad di jalan Allah 'azza wajalla?" Beliau menjawab: "Tidak pula berjihad di jalan Allah 'azza wajalla, kecuali seseorang yang keluar dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu pun.” (Hadits Riawayat Ad-Darimi, Musnad Ad-Dârimiy, juz II, hal. 1113, hadits no. 1815), yang dinyatakan shahih oleh Al-Albani.

Hadits ini juga tidak menyebutkan tentang ‘puasa’.

Kedua hadits di atas telah dishahihkan oleh para ulama.
Pendalilan dari dua hadits di atas, bahwa Nabi shalallahu 'alaihi wasalam menjelaskan bahwa seutama-utama amalan shalih di sisi Allah ta'ala adalah amalan-amalan shalih (yang dikerjakan) pada sepuluh pertama (1-9) bulan Dzulhijjah, dan amalan shalih di sini bersifat umum, mencakup: “puasa”. Oleh sebab itu maka puasa di waktu itu menjadi disunnahkan seperti amalan-amalan shalih lainnya. Jadi pendapat tentang dianjurkannya puasa itu sekadar ‘asumsi’, karena tidak ada kalimat -- yang terdapat dalam hadits tersebut --  yang secata eksplisit menyatakan tentang anjuran untuk berpuasa.

Ibnu Rajab rahimahullah berkata: "Hadits Ibnu Abbas menunjukan bahwa dilipatgandakannya pahala semua amal shalih di sepuluh pertama (Dzulhijjah) tanpa mengecualikan sesuatu pun darinya". Oleh karena itu, difahami oleh sebagain ulama, bahwa puasa termasuk amalan yang dimaksud oleh hadits itu.”

Hadits Ketiga:

عَنْ هُنَيْدَةَ بْنِ خَالِدٍ عَنْ امْرَأَتِهِ عَنْ بَعْضِ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ تِسْعَ ذِي الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنْ الشَّهْرِ وَالْخَمِيسَ 

“Dari Hunaidah bin Khalid dari Seorang wanita dari sebagian isteri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berpuasa pada sembilan hari bulan Dzulhijjah, serta pada Hari 'Asyura` serta tiga hari dari setiap bulan, dan hari Senin serta Kamis pada setiap bulan".(Hadits Riwayat Abu Dawud, Sunan Abî Dâwud, juz II, hal. 32t6, hadits no. 2437; juz I, 741, hadits no. 2437; dan Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad ibn Hanbal, juz V, hal. 27, hadits no. 22388; juz VI, hal. 288, hadits no. 26511; juz VI, hal. 243, hadits no. 27416) Imam Ahmad bin Hanbal dan Syu’aib al-Arnaut mendha’ifkan, karena kekacauan sanad dan matannya. Sementara itu, Syaikh al-Albani, dlam salah satu komentarnya, menyatakan bahwa sanadnya “shahih” dan para periwayatnya tsiqah,  selain Hunaidah bin Khalid (Lihat: Shahîh Abî Dawud, juz VII, hal. 196 hadits no. 2106).

Hadits yang lain:

عَنْ هُنَيْدَةَ بْنِ خَالِدٍ الْخُزَاعِيِّ عَنْ حَفْصَةَ قَالَتْ أَرْبَعٌ لَمْ يَكُنْ يَدَعُهُنَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صِيَامَ عَاشُورَاءَ وَالْعَشْرَ وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْغَدَاةِ. 

“Dari Hunaidah bin Khalid Al-Khuza'i dari Hafshah dia berkata, "Empat hal yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: puasa 'Asyura, puasa sepuluh hari, puasa tiga hari dalam setiap bulan dan dua raka'at sebelum Subuh.” (Hadits Riwayat An-Nasai, Sunan an-Nasâiy, juz  IV, hal. 220, hadits no.2416, Imam Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad ibn Hanbal, juz  VI, hal. 287, hadits no. 26502)

Syaikh al-Albani menyatakan, bahwa hadits ini “dha’if”; Sementara itu, Syu’aib al-Arnauth mengomentarinya sebagai hadits dha’if, kecuali pada pernyataan beliau [Rasulullâh shallallâllahu ‘alaihi wa sallam] dua rakaat sebelum subuh, penyataan ini (dua rakaat sebelum subuh:) “shahih”.

Hadits ini menetapkan secara jelas, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berpuasa pada sembilan hari di awal bulan Dzulhijah, ini sebagai dalil bahwa puasa tersebut sunnah. Namun para ulama berselisih pendapat tentang keshahihan hadits ini, sebagian mereka menshahihkankannya dan sebagian lagi medha’if, seperti Syaikh Al-Albani menshahihkan hadits yang diriwayatkan oleh sebagian isteri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, tetapi beliau mendhaifkan hadits yang berasal dari Hafshah.

Sementara itu, ada hadits yang berasal dari ‘Aisyah radhiyallâhu anhâ,

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا، قَالَتْ: “ مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَائِمًا فِي الْعَشْرِ قَطٌّ 

“Dari ‘Āisyah radhiyallâhu ‘anhâ, ia berkata: “Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada sepuluh hari pertama (secara penuh) bulan Dzulhijjah.” (Hadits Riwayat Muslim, Shahîh Muslim, juz III, hal.175, hadits no. 2846; An-Nasâiy, As-Sunan al-Kubrâ, juz III, hal. 243, hadits no. 2885; Al-Baihaqiy, As-Sunan al-Kubrâ, juz IV, hal. 427, hadits no. 8654; Ibnu Khuzaimah, Shahîh ibn Khuzaimah, juz III. Hal. 293, hadits no. 2103 dan Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad ibn Hanbal, juz VI, hal. 42, hadits no. 24648. Hadits ini dinyatakan shahîh oleh At-Tibrîzîy. Lihat: Muhammad bin ‘Abdullâh al-Khathîb at-Tibrîzîy, Misykâtul Mashâbîh, Tahqîq: Muhammad Nâshiruddîn al-Albâniy, juz I, hal. 462, hadits no. 2043).

Kata sebagain ulama, hadits yang berasal dari ‘Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ inilah yang harus dirujuk. Yang mengecualikan ‘puasa sembilan hari pada bulan Dzulhijjah’ sebagai sesuatu amalan yang tidak pernah dikerjakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga -- bisa difahami -- bahwa puasa sembilan hari itu ‘tidak disyari’atkan’.

Wallâhu ‘alamu bish-shawâb.

Sumber : Muhsin Hariyanto

Apa Yang Sebaiknya Kita Lakukan Untuk Membagikan Kulit Hewan Qurban?

Om-Leehin.My.ID - MENYEMBELIH udh-hiyah (hewan qurban) pada hari raya ‘Īdul Adh-ha merupakan salah satu bentuk ibadah ritual yang  hanya boleh dipersembahkan dan ditujukan dengan ikhlas kepada Allah semata.

Apa-Yang-Sebaiknya-Kita-Lakukan-Untuk-Membagikan-Kulit-Hewan-Qurban


Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ berfirman

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka dirikanlan shalat karena Tuhanmu, dan berqurbanlah (karena Tuhanmu pula).” (QS Al-Kautsar/108: 2)

Dengan demikian prosesi menyembelih hewan qurban yang dilakukan sebagai ibadah ritual persembahan untuk Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ adalah salah satu bentuk representasi kemurnian iman dan tauhid seorang mukmin.

Allah berfirman:

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ﴿١٦٢﴾ لَا شَرِيكَ لَهُ ۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ ﴿١٦٣﴾

“Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadah (sembelihan)ku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” (QS Al-An’âm/6: 162-163). Dan sebaliknya memeruntukkan dan memersembahkan sembelihan apa pun kepada selain Allah adalah sebuah tindakan syirik yang dilaknat oleh Allah. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam:

وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللَّهِ

“Dan Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah.” (Hadits Riwayat Muslim dari jalur Ali bin Abi Thalib radhiyallâhu `anhu, Shahîh Muslim, juz VI, hal. 84, hadits no. 5239))

Dan karena sifatnya sebagai persembahan khusus untuk Allah itu, maka menurut jumhur ulama, tidak ada bagian mana pun dari hewan qurban yang boleh dijual atau dijadikan sebagai upah jagal misalnya, termasuk kulitnya, bulunya dan bahkan kain penutup yang dipakaikan pada hewan qurban sebagai penahan cuaca panas dan dingin sejak seekor hewan telah ditetapkan sebagai udhiyah sampai saat disembelih. Karena sejak ditetapkan sebagai qurban yang dipersembahkan untuk Allah, maka hewan udh-hiyah itu telah murni menjadi “milik” Allah. Dan Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ – melalui Rasul-Nya shallallâhu ‘alaihi wa sallam – hanya mengizinkan agar “milik”-Nya itu dikonsumsi oleh pequrban (shâhibul qurbân) dan keluarganya, disimpan, dan dibagi-bagikan sebagai sedekah atau hadiah, dan tidak untuk dijual atau dijadikan upah jagal dan beaya operasional.

Dalam hadits yang berasal dari Ali bin Abi Thalib radhiyallâhu ‘anhu dinyatakan:

أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَهُ أَنْ يَقُومَ عَلَى بُدْنِهِ وَأَمَرَهُ أَنْ يَقْسِمَ بُدْنَهُ كُلَّهَا لُحُومَهَا وَجُلُودَهَا وَجِلَالَهَا فِي الْمَسَاكِينِ وَلَا يُعْطِيَ فِي جِزَارَتِهَا مِنْهَا شَيْئًا

“Sesungguhnya Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam memerintahnya (Ali) untuk mengurus onta-onta sembelihan (sebagai hadyu atau qurban) milik beliau, dan memerintahkan agar dia membagi-bagikan dagingnya, kulitnya dan bahkan “baju”-nya kepada orang-orang miskin, serta agar dia tidak memberikan sesuatu pun dari bagian hewan qurban itu kepada jagal (sebagai ongkos/upah).” (Hadits Riwayat Al-Bukhari, Shahîh al-Bukhâriy, juz II, hal. 211, hadits no 1717; dan Muslim, Shahîh Muslim, juz IV, hal. 87, hadits no. 3244).

Dan dalam hadits itu pula, dinyatakan oleh Ali bin Abi Thalib radhiyallâhu ‘anhu”:

أَمَرَنِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَتَصَدَّقَ بِجِلاَلِ الْبُدْنِ الَّتِي نَحَرْتُ وَبِجُلُودِهَا

“Rasulullah shallallâhu 'alaihi wa sallam memerintahkan aku agar menshadaqahkan pelana unta yang aku sembelih sebagai qurban dan juga kulitnya.” (Hadits Riwayat Al-Bukhari, Shahîh al-Bukhâriy, juz III, hal. 128, hadits no. 2299)
Dan dalam sebuah hadits yang diperselisihkan derajat riwayatnya, dinyatakan bahwa orang yang berkurban (shâhibul qurbân) tidak boleh menjual kulit hewan kurban atau bagian-bagian tubuh yang lain. Hal ini, karena Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

مَنْ بَاعَ جِلْدَ أُضْحِيَّتِهِ فَلاَ أُضْحِيَّةَ لَهُ.

“Barangsiapa menjual kulit hewan qurbannya, maka (seolah-olah) tiada qurban baginya.” (Hadits Riwayat Al-Hakim, Al-Mustadrak, juz II, hal. 422, hadits no. 3468; Al-Baihaqi, As-Sunan al-Kubrâ, juz IX, hal. 294, hadits no. 19708 dari [sahabat] Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu, dihasankan oleh Al-Albani, alam kitab Al-Jâmi’ ash-Shaghîr wa Ziyâdatuh, juz I, hal. 1107, hadits no. 11063). Atas dasar hadits-hadits tersebut dan lainnya, maka untuk haramnya penjualan daging hewan qurban secara khusus, telah menjadi ijma’ dan kesepakatan seluruh ulama. Sedangkan untuk bagian-bagian selain daging, seperti kulitnya, kepalanya dan lain-lain, memang terdapat sedikit perbedaan pendapat, namun jumhur madzhab (Maliki, Syafi’i dan Hambali) tetap sepakat bahwa, haram hukumnya bila bagian apa pun dari hewan qurban itu dijual atau dijadikan sebagai upah jagal, beaya operasional dan semacamnya.

Adapun mengapa tidak boleh dijual dan dijadikan upah jagal atau untuk biaya-biaya operasional yang lain, maka disamping memang hal itu semua dilarang berdasarkan dalil-dalilnya, juga karena penjualan, pengupahan jagal dan pengambilan beaya operasional dari bagian hewan qurban itu akan mengurangi nilai qurban dan menjadikannya tidak utuh lagi sebagai persembahan untuk Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ. Logikanya adalah bahwa, jika kulit hewan qurban itu misalnya dijual atau dijadikan upah jagal, maka seakan-akan sang pequrban (shâhibul qurbân) telah berqurban dengan misalnya seekor kambing atau sapi “tanpa kulit”.

Nah selanjutnya, jika demikian halnya, maka bagaimana cara panitia qurban di masjid dan lain-lain menyikapi dan memerlakukan kulit-kulit tersebut? Di bawah ini kami paparkan penjelasannya.

Perlu dipahami bahwa, larangan menjual kulit atau bagian apa pun dari hewan qurban itu tertuju kepada sang pequrban (shâhibul qurbân) dan juga panitia qurban dalam status, posisi dan kapasitasnya sebagai wakil kepercayaan dan penerima serta pengemban amanah para pequrban (shâhibul qurbân). Adapun jika yang melakukan penjualan itu si penerima kulit atau seseorang atau pihak yang berstatus sebagai wakil kepercayaan penerima, dan bukan wakil pequrban (shâhibul qurbân), maka hal itu – tentu saja -- boleh dan tidak dilarang. Karena memang para menerima bebas mengapakan saja (tentu saja, selain memubadzirkannya) apa-apa yang diterimanya dari bagian hewan qurban, seperti memanfaatkannya sendiri, mengonsumsinya, memberikannya kepada orang lain, termasuk ‘menjualnya’, dan lain-lain. Dan sebagaimana mereka (para penerima) bebas menjual sendiri yang mereka terima dari hewan qurban, seperti kulitnya misalnya, maka proses dan transaksi penjualan tersebut juga boleh jika diwakilkan kepada orang atau pihak lain.

Akhirnya, kami memandang perlu untuk mancari jalan keluarnya. Dan berikut ini beberapa opsi atau alternatif pilihan untuk cara memerlakukan dan mendistribusikan kulit hewan qurban, dengan pertimbangan untuk mencari dan memeroleh kemashlahatan dan menghindari kemadharatan:

1. Panitia melakukan pendataan nama orang-orang atau pihak-pihak penerima (tidak harus perorangan, tapi insyâallâh bisa juga yayasan, lembaga, masjid, panti, sekolah dan lain-lain) yang dinilai berhak mendapatkan kulit-kulit itu. Lalu setelah proses penyembelihan dan pengulitan usai serta kulit-kulit terkumpul, maka panitia menyerahkannya langsung dalam bentuk kulit kepada mereka sesuai data, dan membiarkan mereka melakukan apa saja terhadap kulit-kulit itu sesuai kemauan dan kebutuhan masing-masing. Karena dengan telah diserah terimakan, maka otomatis kulit-kulit itu telah menjadi hak milik sah para penerimanya. Yang berarti pula dengan begitu panitia telah lepas tanggung jawab terhadapnya.

2.Panitia melakukan pendataan para calon penerima seperti yang pertama, lalu mendatangi atau menghubungi masing-masing untuk memberi tahu bahwa ia akan ‘kebagian’ (mendapatkan bagian) kulit, seraya menanyakan apakah akan menerimanya langsung dalam bentuk kulit, ataukah ingin dibantu untuk dijualkan, lalu menerimanya sudah dalam bentuk uang senilai harga kulit yang telah ditetapkan menjadi bagian-nya. Nah, jika si penerima ingin dibantu untuk dijualkan, maka siapa saja (yang penting bisa bersikap amanah) bisa dan boleh mewakilinya menjualkannya, termasuk panitia itu sendiri. Karena yang penting di sini status dan posisinya sudah sebagai wakil penerima dan bukan lagi sebagai wakil pequrban (shâhibul qurbân). Ingat, yang tidak boleh adalah jika panitia menjual kulit masih dalan status dan posisinya sebagai wakil pequrban (shâhibul qurbân). Karena memang wakil itu terikat dengan seluruh hukum dan konsekuensinya yang mengikat pihak yang diwakilinya!

3.Panitia melakukan pendataan nama-nama calon penerima kulit seperti yang pertama dan kedua itu, akan tetapi tanpa harus mendatangi atau menghubungi satu persatu pihak-pihak penerima yang telah terdata tersebut, melainkan bisa langsung mewakili mereka dalam penjualan kulit yang menjadi bagian mereka sesuai data, lalu menyerahkan hasil penjualan kulit itu kepada mereka seusai proses transaksi jual beli. Dan hal itu insyâallâh ditoleransi, karena hampir bisa dipastikan bahwa, para penerima itu akan setuju jika dibantu dalam penjualan kulit-kulit itu untuk nantinya tinggal menerima hasil penjualan dalam bentuk uang, karena hal itu lebih memudahkan panitia dan sekaligus lebih meringankan dan membantu mereka sendiri.

Namun cara yang lebih afdhal untuk opsi terakhir ini adalah sebaiknya panitia menunjuk atau membentuk sub panitia yang secara khusus bertugas menangani kulit, yang sejak awal telah disepakati tentang status dan posisinya sebagai wakil para penerima kulit, khususnya dalam melakukan proses dan transaksi penjualan serta penyerahan hasilnya kepada mereka sesuai data dan fakta.

Dan satu hal yang harus ditegaskan agar tidak diabaikan di sini, dan juga supaya proses transaksi penjualan kulit itu dibenarkan dalam rangka mewakili dan atas nama pihak-pihak penerima, dan bukan lagi mewakili dan atas nama para pequrban (shâhibul qurbân), adalah bahwa pendataan nama-nama atau pihak-pihak penerima kulit harus sudah dilakukan sebelumnya, sehingga saat transaksi penjualan terjadi status kulit-kulit itu sudah benar-benar jelas sasaran alamat penerimanya. Dimana hal ini tentu saja sangat jauh berbeda dengan praktik umumnya panitia qurban selama ini, yang langsung menjual kulit-kulit qurban sebelum jelas betul siapa-siapa saja pihak penerimanya. Karena dalam kondisi seperti itu status dan posisi panitia tetap sebagai wakil para pequrban (shâhibul qurbân), dan bukan wakil penerima karena sampai penjualan terjadi, para penerima masih belum jelas dan definitif!
Itulah tiga opsi yang bisa dilakukan dalam menyikapi dan memerlakukan kulit hewan qurban yang selama ini memang selalu dilematis bagi para panitia qurban setiap tahun.

Wallâhu a’lamu bish-shawâb.

Sumber : Muhsin Hariyanto

Memahami Esensi Qurban


Om-Leehin.My.Id - TRADISI Qurban, hingga saat ini, telah menjadi bagian dari kegiatan umat Islam di seluruh belahan dunia. Dan mereka (baca: umat Islam) telah melaksanakannya sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kegiatan ritual yang menyertai pelaksanaan shalat ‘Īdul Adh-hâ.
Tetapi, pertanyaan yang harus diajukan: “apakah mereka melaksanakannya hanya sekadar sebagai sebuah tradisi, atau benar-benar telah melaksanakannya sebagai bagian dari kesadaran tauhîd ulûhiyyah mereka?” Karena Allah befirman:

لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَـٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ ۚ كَذَ‌ٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ ﴿٣٧﴾ 

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS al-Hajj/22: 37).

Qurban – dalam ayat tersebut – dinyatakan: “bukanlah sekadar kegiatan ritual untuk menyembelih hewan qurban. Tetapi, lebih jauh dari itu, dinyatakan oleh Allah sebagai perwujudan dari ketakwaan kepada Allah. Dan qurban yang dilakukan sebagai perwujudan dari ketakwaan itulah yang akan diterima oleh Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ sebagai ibadah qurban yang sesungguhnya.

Penjelasan

Qurban adalah sebuah istilah yang – bila dikembalikan kepada makna aslinya – bermakna “kedekatan atau pendekatan”, yang ketika dikaitkan dengan ibadah bermakna “upaya pendekatan diri seorang hamba kepada Khaliq-nya”. Simbolnya bisa berupa “penyembelihan hewan qurban”, sebagaimana yang dilakukan oleh umat Islam pada waktu hari raya “Idul Adha”, atau – sebenarnya – bisa dengan simbol lain yang tidak harus berupa penyembelihan hewan.

Memersembahkan “persembahan” kepada tuhan-tuhan adalah keyakinan yang dikenal manusia sejaka lama. Dalam kisah Habil dan Qabil yang disitir al-Quran disebutkan bahwa saudara kembar perempuan Qabil yang lahir bersamanya bernama Iqlimiya sangat cantik, sedangkan saudara kembar perempuan Habil bernama Layudza tidak begitu cantik. Dalam ajaran Nabi Adam ‘alaihis salâm dianjurkan untuk mengawinkan saudara kandung perempuan dengan saudara lak-laki dari lain ibu. Maka, dengan kebijakan itu, timbullah rasa dengki di hati Qabil terhadap Habil, sehingga ia menolak untuk melakukan pernikahan itu dan berharap bisa menikahi saudari kembarnya yang cantik. Lalu, untuk menyelesaikan perseteruan itu, mereka (Habil dan Qabil) bersepakat untuk memersembahkan “qurban” kepada Allah, dengan ketentuan: “siapa yang diterima qurbannya, itulah yang akan diambil pendapatnya dan dialah yang dianggap benar di sisi Allah. Selanjutnya, untuk melaksanakan kesepakatan itu, Qabil pun memersembahkan seikat buah-buahan dan Habil memersembahkan seekor domba dengan niat masing-masing. Dan ternyata, menerima qurban Habil, sebaliknya Dia (Allah) menolak qurban Qabil. Mengapa? Inilah sebuah peristiwa yang perlu dipahami sebagai sebuah pelajaran yang berharga.

Qurban ini juga dikenal oleh umat Yahudi untuk membuktikan kebenaran seorang nabi yang diutus kepada mereka, sehingga tradisi itu dihapuskan melalui perkataan nabi Isa bin Maryam. Tradisi keagamaan dalam sejarah peradaban manusia yang beragam juga mengenal persembahan kepada Tuhan ini, baik berupa sembelihan hewan hingga manusia. Mungkin kisah nabi Ibrahim ‘alaihis salâm yang diperintahkan menyembelih anaknya adalah salah satu dari tradisi tersebut.

Persembahan suci dengan menyembelih atau mengorbankan manusia juga dikenal dalam peradaban Arab pra-Islam. Disebutkan dalam sejarah bahwa Abdul Muthalib, kakek Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, pernah bernadzar, bahwa kalau ‘Ia’ diberi karunia 10 orang anak laki-laki, maka ‘Ia’ akan menyembelih salah satu anaknya sebagai qurban. Lalu, jatuhlah undiannya kepada Abdullah, ayah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Mendengar berita itu, kaum Quraisy melarangnya, agar tidak diikuti generasi setelah mereka. Dan akhirnya Abdul Muthalib pun sepakat untuk menebusnya dengan 100 ekor onta.

Karena kisah ini, pernah suatu hari seorang Badui memanggil Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam dengan panggilan: “Hai anak dua orang sembelihan!” Beliau hanya tersenyum. Dua orang sembelihan yang dimaksud dalam pernyataan itu adalah Isma’il ‘alaihis salâm dan Abdullah bin Abdul Muthalib.

Begitu juga persembahan manusia ini dikenal dalam tradisi agama masa Mesir kuno,  India, Cina, Irak dan dan umat manusia lainnya sebelum diutusnya Nabi Mummad shallallâhu ‘alaihi wa sallam sebagai Rasul Allah. Kaum Yahudi -- misalnya -- juga mengenal qurban manusia, hingga “Masa Perpecahan” (Diaspora). Kemudian lama-kelamaan qurban manusia diganti dengan qurban hewan atau barang berharga lainnya. Dalam sejarah Yahudi, mereka mengganti qurban dari manusia menjadi sebagian anggota tubuh manusia, yaitu dengan khitan. Kitab Injil – yang menjadi kitab umat Nasrani -- penuh dengan cerita qurban. Penyaliban Yesus menurut umat Nasrani merupakan salah satu qurban teragung. Umat Katolik juga mengenal qurban hingga sekarang, berupa kepingan “tepung suci”. Pada masa jahiliyah Arab, orang-orang Arab pun memersembahkan lembu dan onta ke Ka’bah sebagai qurban untuk tuhan-tuhan mereka.

Ketika Islam turun diluruskanlah tradisi tersebut. Islam mengakui konsep persembahan kepada Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ berupa penyembelihan hewan, namun diatur sedemikian rupa sehingga sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan dan bersih dari unsur penyekutuan (syirik) terhadap Allah. Islam memasukkan dua nilai penting dalam ibadah qurban ini, yaitu nilai historis berupa pengabadian kejadian penggantian qurban nabi Ibrahim ‘alaihis salâm dengan seekor domba – misalnya -- dan nilai kemanusiaan berupa pemberian makan dan membantu fakir miskin pada saat hari raya ‘Īdul Adh-hâ.

Jadi esensi qurban, dalam ajaran Islam -- bukanlah sekadar “penyembelihan hewan“ itu, yang pada akhirnya – hingga saat ini -- menjadi bahan yang diperdebatkan, dan sangat melelahkan, tetapi merupakan “pendekatan diri kepada Allah dengan simbol-simbol yang beragam“, termasuk hewan qurban itu, yang semuanya diorientasikan hanya untuk mencari ridha Allah semata-mata, sebagaimana yang diisyaratkan oleh Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dalam QS al-Hajj, 22:37 di atas.

Dari pemahaman yang tepat tentan Ibadah qurban, maka kita dapat mengambil beberapa pelajaran yang sangat berharga.

‘Ibrah (Pelajaran Penting) dari Ibadah Qurban


Kisah tentang Qurban, baik yang terjadi pada masa Nabi Adam ‘alaihis salâm,  terkait dengan dua orang puteranya, Habil dan Qabil, dan juga kisah yang terjadi pada masa Nabi Ibrahim ‘alaihis salâm, ketika diperitahkan oleh Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ untuk menyembelih puteranya (Isma’il), kini telah menjadi sebuah tradisi turun-temurun bagi umat Islam. Nabi Ibrahim ‘alaihis salâm yang sebenarnya pada saat itu -- secara pribadi -- berkeberatan untuk melaksanakannya, dengan kekuatan imannya, telah mengabaikan perasaannya, dan benar-benar bersedia untuk melaksanakannya dalam rangka mewujudkan ketaatannya kepada perintah Allah, sebagai satu-satunya Ilâh (Tuhan yang layak disembah). Inilah bagian dari kesadaran tauhîd ulûhiyyah yang diujudkan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salâm dalam bentuk ‘qurban’, yang layak dijadikan sebagai teladan bagi siapa pun yang hendak berqurban.

Nabi Ibrahim ‘alaihis salâm diutus oleh Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ. untuk mengorbankan puteranya (Isma’il), melalui mimpinya. Pada waktu itu Nabi Ibrahim ‘alaihis salâm yang gundah-gulana, akhirnya menceritakan perihal mimpinya kepada anaknya (Isma’il). Dan Isma’il pun berkomentar: “jika memang mimpi itu merupakan perintah dari Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ, maka segera laksanakanlah”, sebagaimana yang kita bisa fahami dari (makna) firman Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dalam QS ash-Shâffât/37: 102,

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah, apa pendapatmu." Ia (anaknya) pun menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insyâallâh kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

Kesungguhan serta keihklasan Nabi Ibrahim ‘alaihis salâm dengan menjalankan perintah Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ, dibalas dengan perubahan (pergantian) puteranya (Nabi Isma’il) dengan ‘hewan qurban’. Hingga pada akhirnya pun Isma’il tidak (jadi) tersembelih, karena kehendak Allah. Keteguhan serta kesabaran Nabi Ibrahim ‘alaihis salâm ini, telah memberikan suatu pelajaran bahwasanya Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ selalu memiliki jawaban yang terbaik atas semua perintah yang diberikan. Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dengan segala kemahasempurnaan-Nya telah memiliki alasan tertentu di dalam setiap ujian yang diberikan kepada seluruh hamba-Nya.

Dari keikhlasan Habil dan – juga – keteguhan iman yang dimiliki oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salâm beserta anaknya – Isma’il -- ini, kita dapat menarik  beberapa pelajaran, antara lain:

Pertama, makna berqurban adalah upaya pendekatkan diri kepada Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ. “Berqurban”, bermakna kesunggguhan untuk menyerahkan segalanya kepada Allah, sebagai perwujudan dari kesadaran Tauhîd Ulûhiyyah. Seperti -- misalnya -- Nabi Ibrahim ‘alaihis salâm yang telah mengikhlaskan puteranya (Isma’il) yang sesungguhnya sangat beliau cintai, dengan perintah Allah, beliau rela untuk mengurbankan puteranya tersebut. Hal ini tentu saja tidak akan mudah dilakukan, kecuali bagi orang yang telah memiliki keimanan yang kokoh, dan – utamanya – ber-tauhîd ulûhiyyah.

Kedua, dengan cara berqurban manusia tersebut diajarkan untuk berbagi kepada orang lain, seperti -- misalnya -- yang telah dipaparkan sebelumnya, bahwa Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ selalu memunyai alasan yang sangat kuat untuk memerintahkan para hamba-Nya untuk berqurban. Dengan adanya qurban ini kita dilatih untuk membuang sikap bakhil dan tamak dan menghadirkan sikap kedermawanan.

Ketiga, qurban bukanlah sekedar upacara ritual belaka. Dengan berqurban, manusia dilatih untuk membangun karakternya sebagai pribadi ‘pemberi’, dan melepas karakternya sebagai ‘peminta’. Karena Islam – dalam konsep zakat, misalnya --mengajarkan kepada umatnya untuk menjadi para muzakki, dan bukan ‘mustahiq’.

Demikian ulasan ringkas yang dapat penulis sampaikan tentang makna ‘qurban’, yang utamanya penulis rujuk pemahamannya dari QS al-Hajj/22: 37. Semoga bermanfaat.

Wallâhu ‘alamu bish-shawâb.

Sumber : Muhsin Hariyanto

Khutbah Jumat Kewajiban Kita Berpartisipasi Dalam Dakwah Ilallah

Kewajiban Kita Berpartisipasi Dalam Dakwah Ilallah
Oleh:Muh. Ubaidillah Al-Ghifary 


اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الْمَحْمُوْدِ عَلَى كُلِّ حَالٍ، اَلْمَوْصُوْفِ بِصِفَاتِ الْجَلاَلِ وَالْكَمَالِ، الْمَعْرُوْفِ بِمَزِيْدِ اْلإِنْعَامِ وَاْلإِفْضَالِ. أَحْمَدُهُ سُبْحَاَنَهُ وَهُوَ الْمَحْمُوْدُ عَلَى كُلِّ حَالٍ. وَأَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ ذُو الْعَظَمَةِ وَالْجَلاَلِ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَخَلِيْلُهُ الصَّادِقُ الْمَقَالِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ خَيْرِ صَحْبٍ وَآلٍ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كثيرا. أَمَّا بَعْدُ؛
فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى حَقَّ تُقَاتِهِ، حَيْثُ قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ n: اِتَّقِ اللهَ حَيْثُ مَا كُنْتَ.

Jamaah Jum’at yang berbahagia.
Pada jum’at yang berbahagia ini, mari kita sama-sama memanjatkan puji dan syukur kepada Allah yang telah memberikan kekuatan kepada kita berupa kesehatan, untuk memenuhi panggilanNya, yaitu menunaikan ibadah shalat  Jum’at.  Shalawat dan salam kita berikan kepada nabi besar Muhammad Shallallaahu alaihi wa Salam yang telah menuntun umat manusia dari jahiliyah, yang penuh kegelapan menuju Islam yang terang benderang, dan juga kepada para sahabatnya serta para generasi selanjutnya yang memperjuangkan Islam hingga akhir zaman nanti.
Mari kita sama-sama meningkatkan rasa taqwa kita kepada Allah yang selalu melihat gerak-gerik kita, dengan sebenar-benar takwa, Dengan menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya.
Dalam kesempatan ini, saya selaku khatib ingin membahas sebuah tema yang sangat penting sekali dan dibutuhkan oleh umat Islam yaitu:
Kewajiban kita berpartisipasi dalam dakwah Islamiah.

Jamaah Jum’at yang berbahagia.
Sebelum membicarakan pokok permasalahannya, sebaiknya kita memahami: Apa itu dakwah? Dakwah secara bahasa adalah berarti seruan, dan ajakan (kamus Ash Shihah 6/2336, kamus Mu’jamul Wasit 1/286). Adapun menurut istilah pengertiannya banyak sekali, di antaranya adalah menurut syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Dakwah adalah mengajak seseorang agar beriman kepada Allah dan yang dibawa oleh para rasulNya dengan cara membenarkan apa yang mereka beritakan dan mengikuti apa yang mereka perintahkan (Majmu’ Fatawa oleh Syaikul Islam Ibnu Taimiyah 15/157).
Semua umat Islam sepakat bahwa dakwah adalah amalan yang disyariatkan dan masuk kategori fardhu kifayah. Tidak boleh kategori diabaikan, diacuhkan, dan dikurangi bobot kewajibannya. Hal itu disebabkan terdapat banyak perintah dalam Al-Qur’an dan As Sunah untuk berdakwah dan amar ma’ruf nahi mungkar, seperti firman Allah:
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar.” (Ali Imran:104).
Ayat ini bersifat  umum dan merupakan kewajiban atas setiap individu untuk melaksanakannya disesuaikan dengan kemampuan masing-masing. Huruf (من) disitu berarti penjelas. Kalau menjadi penjelas maknanya jadilah kamu wahai kaum mukminin sebagai umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah kepada yang mungkar (lihat Jami’ul Bayan oleh At-Thabary 4/26). Atau sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Hafizh Ibnu Katsir, maksud dari ayat ini adalah jadilah kamu sekelompok orang dari umat yang melaksanakan kewajiban dakwah. Kewajiban ini wajib atas setiap muslim, sebagaimana hadits shohih yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, telah bersabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam , “Barangsiapa yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah dengan tangannya, kalau tidak mampu, hendaklah mengubah dengan lisannya, kalau tidak mampu hendaklah mengubah dengan hatinya, dan itulah selemah-lemah iman.” Dan pada riwayat lain, “Dan setelah itu tidak ada iman sedikitpun.” (Lihat Tafsil Al-Qur’an Al-‘Azhim, oleh Al-Hafizh Ibnu Katsir, 1/390).

Jamaah Jum’at  yang berbahagia.
Ingatlah, wahai kaum muslimin bahwa dakwah Ilallah merupakan kewajiban yang disyari’atkan dan menjadi tanggung jawab yang harus dipikul kaum muslimin seluruhnya. Artinya setiap muslim dituntut untuk berdakwah sesuai kemampuannya dan peluang yang dimilikinya. Oleh sebab itu wajiblah bagi kita untuk semangat berpartisipasi dalam berdakwah menyebarkan Islam ke mana saja dan di mana saja kita berada.
Dakwah dan amar ma’ruf merupakan prasyarat khairu ummah. seandainya umat ini tak mau berdakwah, maka akan mengalami kerugian dan kemunduran dalam pelbagai aspek kehidupan. Sebab mulianya umat dengan dakwah, dan kerugiannya akibat meninggalkan dakwah. Allah berfirman:
”Kamu semua adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia menyuruh kepada yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah.” (Ali Imran: 110).
Jadi dalam ayat ini dijelaskan bahwa Allah akan memberikan predikat yang terbaik kepada umat manusia bila memenuhi tiga syarat yaitu:
1. Menyuruh kepada yang ma’ruf
2. Mencegah dari yang mungkar, dan
3. Mau beriman kepada Allah. Jamaah Jum’at  yang berbahagia.
Dakwah merupakan pekerjaan terbaik, hal itu sesuai dengan firman Allah:
“Siapakah yang lebih baik perkataannya dari pada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal shalih dan berkata sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (Fushshilat: 33).
Adapun orang yang berdakwah karena hanya ingin mengharapkan ridha Allah dalam dakwahnya, maka Allah akan memberikan padanya balasan yang setimpal. Hal itu sesuai dengan sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam :


لِأَنْ يَهْدِيَكَ اللهُ بِكَ رَجُلاً وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُوْنَ لَكَ مِنْ حُمُرِ النَّعَمِ. (رواه مسلم).

“Sungguh jika Allah memberi petunjuk kepada seseorang melalui engkau (dakwah engkau) maka itu lebih baik bagimu daripada engkau memiliki onta merah.” (Hadits shahih riwayat Muslim dalam kitab fadha’il, no. 2406).

Jadi, karena dakwah merupakan perbuatan terbaik dan pelakunya akan dibalas dengan balasan yang besar. Maka dengan segera Rasulullah tetap tegar dalam dakwah, walau diganggu, dipersulit dan meskipun akan dibunuh tidaklah hal itu menghalangi beliau dalam berdakwah demi tegaknya dien Islam.
Para da’i hendaknya menyadari bahwa ancaman, intimidasi, dan teror serta ancaman bunuh dari musuh adalah sunnatullah yang sudah dialami para nabi sebelum Nabi Muhammad dan hal itu akan berlanjut sampai hari Kiamat.

Jamaah Jum’at yang berbahagia.
Marilah kita sejenak merenung dan meresapi untaian di bawah ini. Apa yang dialami Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam dan para sahabat dalam berdakwah? Mereka disiksa, diteror ada yang dibunuh, bahkan ada pula yang diembargo ekonomi dalam jangka waktu yang lama. Mereka sempat makan rumput-rumputan dan daun-daunan hingga mulut dan lidah mereka pecah-pecah.
Apa yang dialami Imam empat yang terkenal itu?
Imam Abu Hanifah, beliau dijebloskan dalam penjara gara-gara berdakwah dan mengatakan yang haq itu haq dan yang batil itu batil.
Imam Malik, karena menegakkan kebenaran beliau rela dipukuli sampai kedua tulang belikat beliau hampir lepas karena kerasnya pukulan.
Imam Syafi’i, gara-gara membela kebenaran beliau dimasukkan bui dan mau dibunuh oleh raja pada saat itu.
Imam Ahmad bin Hanbal, yang pada zamannya ada fitnah dari kaum mu’tazilah bahwa Al-Qur’an adalah makhluk Allah. Akhirnya, beliau menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah wahyu Allah bukan makhluk. Dari pernyataannya yang tegas itu, beliau dimasukkan bui dan dicambuk beberapa kali, hingga sebagian algojo yang menyiksa beliau membuat kesaksian dengan mengatakan, bahwa Imam Ahmad dicambuk sebanyak delapan puluh kali, jikalau gajah dicambuk seperti itu maka akan mati terkapar. Maka beliau terkenal dengan sebutan Imam As-Sunnah, karena membela sunnah Rasul Shallallaahu alaihi wa Salam dan Al-Haq.
Lalu apa yang diderita Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan muridnya yang terkenal yaitu Syaikhul Islam Ats-Tsani Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah?
Ibnu Taimiyah, karena berdakwah dan membela kebenaran, beliau rela masuk penjara, tak sempat menikah hingga beliau mati dalam penjara. Kata-kata beliau yang cukup terkenal yang patut kita ambil pelajaran:
“Apakah yang akan diperbuat musuh-musuh kepadaku?
Jika aku dipenjara, penjaraku adalah khalwat (untuk beribadah pada Rabb).
Jika diasingkan, pengasinganku adalan tamasya.
Jika aku dibunuh, kematianku adalah syahadah.
Itulah kata-kata beliau dalam tekadnya membela kebenaran.
Siapakah yang mampu menundukkan orang-orang yang segala alternatif perjuangannya adalah serba baik, sebagaimana beliau? Tidak ada, kecuali Maha Perkasa yang dengannya justru menaklukkan manusia ke dalam lindungan syari’at Islam nan agung dan penuh rahmat (Lihat buku Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah oleh Abul Hasan An-Nadawi).
Ibnul Qayyim, dalam membela kebenaran ia rela diikat badannya lalu diarak keliling kampung dan diludahi masyarakat, namun beliau tetap tegar dalam berdakwah sampai akhir hayatnya (Dari kitab Zadul Ma’ad).
Adapun ulama-ulama yang baru-baru ini meninggalkan kita, yaitu Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Bazz  (2000 M) dan Syaikh Muhammad Nasiruddin Al-Albani. Mereka adalah ulama-ulama yang gemar berdakwah dan menyebarkan Islam hingga akhir hayatnya. Begitu juga Syaikh Muhammad Shalih Al-Utsai-min yang telah wafat pula (1421 H / 2001 M). 

Jamaah  Jum’at  yang dimuliakan Allah.
Seorang da’i haruslah pandai dalam menyampaikan dakwah. Sebab darinyalah satu sebab dari beberapa sebab umat dapat paham Islam yang benar. Oleh karena itu dakwahnya harus sesuai Al-Qur’an dan As Sunah serta sesuai dengan manhaj nubuwwah Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam . Sebagaimana hal itu sesuai dengan firman Allah:
“Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (An-Nahl: 125).
Seorang da’i haruslah selalu introspeksi diri, apakah dakwahnya karena Allah atau karena yang lain:
Dalam firman Allah di atas tadi, kata bil hikmah, Imam Syafi’i memberi komentar: “Setiap hikmah dalam Al-Qur’an berarti As-Sunnah”.
Dan berkaitan dengan kata As-Sunah artinya adalah dakwah itu harus mengikuti sunnah Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam, bukan berdakwah mengajak orang pada golongan, partai tertentu yang marak hari ini, demokrasi, sekularisme dan lain-lain yang antagonis dengan Islam, silakan lihat komentar Imam Syafi’i dalam kitab Al-Madkhal fil Aqidah, hal 24.

Jamaah Jum’at  yang berbahagia.
Dakwah itu mempunyai urgensi yang banyak sekali, namun intinya kurang lebih adalah tersebarnya kebenaran pada umat manusia (khususnya kaum muslimin), lalu mereka bisa merubah pola pikir hidupnya dari jelek menjadi baik, dari beribadah kepada makhluk berubah menjadi beribadah kepada Khaliq. Lalu mereka membela Islam, mendakwahkan Islam semampunya hingga dengan usaha mereka setelah rahmat Allah manusia masuk Islam secara berbondong-bondong.
Maka alangkah bahayanya kalau dakwah itu sampai tidak berjalan, mogok total tanpa ada yang menjalankan, maka ketika itu adzab Allah akan turun ke bumi menimpa manusia semuanya. Apakah di dalamnya itu orang beriman atau bukan beriman. Firman Allah:
“Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang zhalim di antara kamu, dan ketahuilah Allah amat keras siksanya”. (Al-Anfal: 25).

Jamaah Jum’at yang berbahagia.
Demikian ringkasan dari kutbah Jum’at yang saya sampaikan, yang intinya sebagai bahan ringkasan dari khutbah tersebut adalah marilah kita tingkatkan partisipasi kita dalam berdakwah sesuai dengan kemampuan kita, profesi kita, hingga Allah memanggil kita, karena keutamaan umat ada dalam dakwah dan kerugian umat akibat meninggalkan dakwah. Sekali lagi mari kita tingkatkan semangat kita berdakwah sesuai dengan manhaj salafush shalih. Semoga Allah menolong kita dalam menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Amin ya Robbal’alamin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua


اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْ لاَ أَنْ هَدَانَا اللهُ. أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ؛
فَيَا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ، اِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى حَقَّ تُقَاتِهِ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ وَمَلاَئَكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ أَجْمَعِيْنَ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ



Khutbah Jumat Kondisi Kaum Muslimin Pada Masa Kini

Kondisi Kaum Muslimin Pada Masa Kini
Oleh: Sardona Siliwangi


إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ وَلاَ رَسُوْلَ بَعْدَهُ، قَدْ أَدَّى اْلأَمَانَةَ وَبَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَنَصَحَ اْلأُمَّةَ وَجَاهَدَ فِيْ سَبِيْلِهِ حَقَّ جِهَادِهِ.
اَلصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا الْمُصْطَفَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ سَلَكَ سَبِيْلَهُ وَاهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ وَيَسِّرْ لِيْ أَمْرِيْ وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِيْ يَفْقَهُوْا قَوْلِيْ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَقَالَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. وَقَالَ: وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى.
وَقَالَ النَّبِيُ n: اِتَّقِ اللهَ حَيْثُ مَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بَخُلُقٍ حَسَنٍ. (رواه الترمذي، حديث حسن).
 

Jamaah Jum’at hamba Allah yang berbahagia
Pertama-tama marilah kita panjatkan puji dan syukur kita kepada Allah, yang telah memberikan kita berbagai macam kenikmatan yang apabila kita ingin menghitungnya niscaya kita tidak akan sanggup untuk menghitung kenikmatan tersebut, sebagaimana Allah telah berfirman:
“Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghitungnya” (Ibrahim 34).
Dan terlebih-lebih karena Allah masih mengkaruniakan kepada kita dua kenikmatan yang besar yaitu nikmat Iman dan nikmat Islam, karena dengan kedua nikmat ini merupakan satu bukti bahwa kita merupakan umat pilihan, yang dipilih oleh Allah, sebagimana firman Allah:
“Dan tidak seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah” (Yunus 100).
Shalawat serta salam selalu terlimpah kepada nabi besar Muhammad beserta keluarga, shahabat dan kepada orang-orang yang mengikuti jejak beliau dengan baik sampai akhir zaman.
 
Jamaah Jum’at arsyadakumullah
Allah berfirman dalam Al-Qur’anul Karim surat An-Nur ayat 55:
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan yang mengamalkan kebaikan bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikaan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhaiNya untuk mereka dan Dia benar-benar akan merubah keadaan mereka sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembahKu dan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang masih kafir setelah janji itu maka mereka itulah orang-orang yang fasiq” (An-Nur 55).
 
Jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allah
Pada kesempatan kali ini tidak ada salahnya kalau kita mengingat kembali pesan yang telah Nabi Muhammad Shallallaahu alaihi wa Salam sampaikan ± 14 abad yang lalu, tentang sebuah kondisi yang akan menimpa umat Islam, yang akan menimpa kaum muslimin, dimana pada saat itu mereka akan dihinakan, direndahkan, dinjak-injak. Padahal mereka sebelumnya adalah kelompok-kelompok yang mulia, kelompok yang kuat dan kelompok yang dikenal keberaniannya, yang apabila musuh-musuh mendengar nama-nama mereka maka timbullah rasa takut dalam hati mereka.
 
Jamaah Jum’at yang berbahagia.
Namun, apabila kita melihat kondisi kaum muslimin sekarang, maka kita akan bertanya, dimanakah kemuliaan itu? yang telah Allah janjikan dalam firmanNya surat An-Nur ayat 55 di atas, dan dimanakah kekuatan dan keberanian yang pernah ada? maka jawabnya, semuanya sudah hilang, semuanya kini hanya menjadi sebuah kenangan dan menjadi sebuah cerita. Kalau kita lihat sejarah yang telah berlalu, maka kita akan mendapatkan bahwa kaum muslimin pada masa Rasulullah, shahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in, mereka hidup dengan mulia dan terhormat, mereka menjadi mulia dengan keislaman mereka.
 
Jamaah Jum’at yang berbahagia.
Setelah kita melihat sekilas sejarah masa lampau, maka secara sadar atau tidak sadar sebuah pertanyaan yang harus kita jawab yaitu: “Apa penyebab yang menjadikan umat Islam pada saat sekarang ini dihinakan bahkan diinjak-injak?”. Untuk menjawab pertanyaan tersebut marilah kita ingat-ingat kembali sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam ± 14 abad yang silam:

يُوْشَكُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمُ اْلأُمَمُ كَمَا تَدَاعَى اْلأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا، فَقَالَ قَائِلٌ: أَوَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ؟ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيْرٌ، وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ، وَسَيَنْزِعَنَّ اللهُ مِنْ صُدُوْرِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلْيَقْذِفَنَّ اللهُ فِيْ قُلُوْبِكُمُ الْوَهَنُ. قَالَ قَائِلٌ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَمَا الْوَهَنُ؟ قَالَ: حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ. (رواه البيهقي، حديث حسن).
 
“Hampir tiba saatnya persatuan bangsa-bangsa mengerubut atas kamu sekalian seperti bersatunya orang-orang mengerubut makanan yang ada di atas nampan. Ada sahabat bertanya: apakah karena sedikitnya jumlah kita pada masa itu? Beliau bersabda: Bahkan jumlah kalian pada masa itu banyak. Tetapi kalian pada saat itu bagaikan buih seperti buih banjir. Dan Allah akan mencabut dari dada-dada musuh kalian (rasa) ketakutan kepada kalian, dan Dia akan memasukkan ke dalam hati-hati kalian al-wahan. Lalu shohabat bertanya: Ya Rasul apakah al-wahan itu? Beliau bersabda: cinta dunia dan takut mati” (HR. Baihaqi, hadist hasan).
Dan Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِيْنَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيْتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرْكُتُم الْجِهَادَ، سَلَّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ عَنْكُمْ حَتَّى تَرْجِعُوْا إِلَى دِيْنِكُمْ. (رواه أبو داود، حديث صحيح).
 
“Jika kalian berjual beli dengan cara ‘inah dan kalian mengambil ekor sapi (sibuk dengan peternakan) dan kalian merasa lega dengan pertanian dan kalian meninggalkan jihad, maka Allah akan menurunkan kehinaan bagi kalian. Dan Allah sekali-kali tidak akan melepaskannya, kecuali jika kembali kepada agama kalian”. (HR. Abu Dawud hadist shahih)
 
Jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allah
Pada masa sekarang ini kita sering mendengar dan melihat slogan-slogan Islami yang setidaknya dapat membesarkan hati kita sebagai umat Islam. Namun pada sisi lain kita harus ingat bahwa memperjuangkan Islam itu tidak hanya sebatas slogan-slogan yang dipampang dikeramaian umum, sehingga setiap orang dapat melihat dan membaca, dan dalam memperjuangkan Islam ini tidak cukup hanya dengan menulis spanduk-spanduk, selebaran-selebaran dan lain sebagainya. Kita sebagai muslim harus sadar bahwa memperjuangkan Islam, untuk mengembalikan kemuliaan Islam dan muslimin kita dituntut untuk memperjuangkan Islam dengan perjuangan yang haqiqi, dengan mencurahkan tenaga yang ada, dengan mengorbankan harta benda bahkan lebih besar dari itu kita dituntut juga untuk mengorbankan jiwa kita, dengan kata lain kita dituntut untuk berjihad fii sabiilillah.
 
Jamaah Jum’at yang berbahagia.
Berjihad di jalan Allah inilah yang dapat menjadikan umat Islam umat yang mulia, umat yang dihormati, umat yang dikenal dengan keberanian yang ditakuti oleh lawan. Dan inilah kunci mengapa pada generasi pertama Islam, kaum muslimin menjadi umat yang kuat dan umat yang ditakuti, tidak lain jawabnya adalah bahwa dikarenakan mereka menjadikan jihad sebagai jalan hidup mereka. Mereka sangat cinta jihad dan mereka sangat merindukan gugur sebagai syuhada’, sehingga dikarenakan kecintaan mereka yang sangat besar terhadap jihad, didapati di antara mereka yang tidak mempunyai harta benda kecuali pedang dan seekor kuda perang yang keduanya digunakan untuk berjihad di jalan Allah.
 
Jamaah Jum’at yang berbahagia.
Dan sebaliknya apabila kita sudah melupakan jihad, kita disibukkan dengan masalah-masalah keduniaan, di antaranya kita sibuk dengan perdagangan dengan peternakan dan dengan pertanian atau perkebunan, dan dengan kesibukan itu semua kita meninggalkan jihad di jalan Allah, sehingga hari-hari kita habis atau hanya diisi dengan kesibukan untuk menghitung-hitung kekayaan yang kita miliki. Apabila semua ini ada pada diri kita, maka Allah akan menimpakan kehinaan kepada kita, yang kehinaan itu tidak akan Allah cabut kecuali apabila kita kembali kepada agama kita, dan Allah pun akan mencabut dari dada-dada musuh-musuh kita rasa takut kepada kita, dan semua ini akan atau bahkan telah terjadi sebagaimana yang telah disabdakan Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam , sebagai pesan buat kita selaku umatnya:

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَالْعَصْرِ، إِنَّ الإِنسَانَ لَفِيْ خُسْرٍ، إِلاَّ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ.


Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
جَمَاعَةَ الْجُمُعَةِ، أَرْشَدَكُمُ اللهُ. أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهُ، وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا وَيَرْزُقُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ، وَمَن يَتَّقِ اللهَ يُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا.
 
Jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allah.
Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman dalam surat At-Taubah ayat 24:
“Katakanlah (Hai Muhammad) jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari pada Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalanNya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasiq”.
 
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah.
Dari penjelasan khutbah yang pertama tadi, kemudian dari satu ayat yang kami bacakan di atas, maka kita dapat mengambil kesimpulan bahwa:
Pertama: Kemuliaan kaum muslimin akan tetap ada apabila kaum muslimin mau kembali untuk berpegang teguh kepada agamanya, dengan berjihad di jalan Allah membela agamaNya.
Kedua: Kemuliaan tersebut akan hilang apabila kaum muslimin telah disibukkan dengan kenikmatan dunia sehingga dengan gemerlapnya kenikmatan dunia ini menjadikan mereka lalai untuk berjihad di jalan Allah lii i’la i kalimatillah.
Ketiga: Dan apabila kaum muslimin sudah melupakan jihad, maka Allah akan menghinakan mereka di hadapan umat yang lain dan Allah akan mencabut dari dada-dada musuh kaum muslimin rasa takut kepada mereka.
Keempat: Untuk mengembalikan kemuliaan tersebut adalah dengan kembali kepada Agama, sehingga kaum muslimin dapat hidup dengan hidup yang mulia dan apabila mati, matipun dalam keadaan mulia pula.
 
Kaum Muslimin Jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allah;
Akhir dari khutbah ini, kita selalu berharap kepada Allah, agar Allah senantiasa memberikan kepada kita keteguhan untuk selalu berjalan di atas dienNya, dan agar Allah selalu memberikan kemuliaan kepada kaum muslimin kapan dan dimanapun kaum muslimin berada.

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.
اَللَّهُمَ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ انْصُرِ الْمُجَاهِدِيْنِ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ وَزَمَانٍ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ اْلأَبْرَارِ.
رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَّسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا، رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِن قَبْلِنَا، رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ، وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنتَ مَوْلاَنَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.
اَللَّهُمَّ إِنَا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَجَنَّتَكَ وَنَسْأَلُكَ شَهَادَةً فِيْ سَبِيْلِكَ.
اَللَّهُمَّ أَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُبْتَدِعَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ أَعْدَائَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ.
اَللَّهُمَّ شَتِّتْ شَمْلَهُمْ وَمَزِّقْ جَمْعَهُمْ وَزَلْزِلْ أَقْدَامَهُمْ وَأَلْقِ فِيْ قُلُوْبِهِمُ الرُّعْبَ.
اَللَّهُمَّ عَذِّبْهُمْ عَذَابًا شَدِيْدًا وَحَسِّبْهُمْ حِسَابًا ثَقِيْلاً.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ


Mengenal Makiyyah dan Madaniyyah Part 2

mengenal-makiyyah-dan-madaniyyah-part-2

Surat-Surat Makiyyah dan Madaniyah

Pembagian surat Makiyyah dan Madaniyah yang paling bagus dan lebih rajih, insya Allah, adalah sebagai berikut:

1. Surat-surat Madaniyyah ada 20 surat:

    Al Baqarah
    Al Imran
    An Nisa’
    Al Ma’idah
    Al Anfal
    At Taubah
    An Nuur
    Al Ahzab
    Muhammad
    Al Fath
    Al Hujurat
    Al Hadid
    Al Mujadalah
    Al Hasyr
    Al Mumtahanah
    Al Jumu’ah
    Al Munafiqun
    Ath Thalaq
    At Tahrim
    An Nashr

2. Surat-surat yang diperselisihkan apakah ia Makiyyah atau Madaniyyah ada 12 surat:

    Al Fatihah
    Ar Ra’du
    Ar Rahman
    Ash Shaf
    At Taghabun
    At Tathfif (Al Muthaffifin)
    Al Qadr
    Al Bayyinah
    Az Zalzalah
    Al Ikhlash
    Al Falaq
    An Naas

3. Sedangkan sisanya adalah surat-surat Makiyyah, jumlahnya 82 surat.

Total jumlah surat di dalam Al Qur’an ada 114 surat.

Poin-poin bahasan dalam ilmu Makki wal Madini


Dalam pembahasan ilmu Makki wal Madini atau ilmu tentang Makiyyah dan Madaniyyah ada cabang-cabang bahasan yang dibahas oleh para ulama ahli Al Qur’an. Akan kami sebutkan cabang-cabang bahasan tersebut berserta contohnya, semoga kita terpacu untuk lebih mendalam ilmu tentang Al Qur’an Al Karim.

Ada 14 bahasan yang dibahas dalam ilmu Makki wal Madini :


    1. Bahasan mengenai surat apa saja yang diturunkan di Mekkah
    2. Bahasan mengenai surat apa saja yang diturunkan di Madinah
    3. Bahasan mengenai surat apa saja yang diperselisihkan Makiyyah atau Madaniyyah-nya.
    Contoh dari tiga bahasan ini sebagaimana disebutkan di atas
    4. Bahasan mengenai ayat-ayat Makiyyah yang ada di surat Madaniyyah
    Suatu surat disifati sebagai surat Makiyyah atau Madaniyyah bukan berarti semua ayat di dalamnya juga demikian. Karena terkadang ada ayat Makiyyah yang ada dalam surat Madaniyyah dan sebaliknya.
    Contohnya ayat berikut ini:

    وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ

    “Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya” (QS. Al Anfal: 30).
    Muqatil rahimahullah mengatakan: “ayat ini diturunkan di Mekkah”. Dan ini juga didukung oleh isi ayat yang memiliki karakteristik surat Makiyyah yaitu menceritakan perjuangan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam di Mekkah sebelum hijrah. Namun ia berada dalam surat Al Anfal yang merupakan surat Madaniyyah.


  5. Bahasan mengenai ayat-ayat Madaniyyah yang ada di surat Makiyyah
    Contohnya adalah dalam surat Al An’am. Surat Al An’am seluruhnya Makiyyah kecuali tiga ayat, yaitu ayat 151 sampai 153. Demikian juga surat Al Hajj, seluruhnya Makiyyah kecuali tiga ayat, yaitu ayat 19 sampai 21.
   6.  Bahasan mengenai ayat yang turun di Mekkah namun dihukumi sebagai Madaniyyah.
    Contohnya ayat:

    يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

    “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (QS. Al Hujurat: 13).
    Ayat ini turun di Mekkah di hari Fathul Mekkah, yang artinya ia turun setelah hijrah. Oleh karena itu ia dihukumi sebagai Madaniyyah, sebagaimana telah dijelaskan pada artikel sebelumnya.


    7. Bahasan mengenai ayat yang turun di Madinah namun dihukumi sebagai Makiyyah.
    Para ulama ahli ilmu Qur’an memberikan contoh surat Al Mumtahanah. Karena ia diturunkan di Madinah, namun khithab (sasaran pembicaraan) dari surat ini adalah untuk penduduk Mekkah ketika itu. Sehingga menurut pendapat yang ketiga, yang menggunakan pendekatan khithab, surat Al Mumtahanah termasuk Makiyyah. Namun yang lebih rajih surat Al Mumtahanah termasuk Madaniyyah karena turun setelah hijrah.
    8. Bahasan mengenai ayat Madaniyyah yang mirip seperti Makiyyah
    Yaitu ayat-ayat yang digolongkan sebagai Madaniyyah namun uslub (gaya bahasa) dan karakteristik dari ayat tersebut mirip seperti ayat Makiyyah. Contohnya ayat:

    وَإِذْ قَالُوا اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ هَذَا هُوَ الْحَقَّ مِنْ عِنْدِكَ فَأَمْطِرْ عَلَيْنَا حِجَارَةً مِنَ السَّمَاءِ أَوِ ائْتِنَا بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

    “Dan (ingatlah), ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata: “Ya Allah, jika betul (Al Quran) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih”” (QS. Al Anfal: 32).
    Ayat ini turun setelah hijrah sehingga ia Madaniyyah, namun gaya bahasa ayat ini seperti ayat Makiyyah karena isinya berupa kesombongan kaum Musyrikin yang menantang untuk didatangkan adzab yang mencerminkan penentangan mereka terhadap dakwah tauhid dan risalah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam.
   9. Bahasan mengenai ayat Makiyyah yang mirip seperti Madaniyyah
    Yaitu ayat-ayat yang digolongkan sebagai Makiyyah namun uslub (gaya bahasa) dan karakteristik dari ayat tersebut mirip seperti ayat Madaniyyah. Contohnya ayat:

    الَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ إِلَّا اللَّمَمَ

    “(Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil” (QS. An Najm: 32).
    Ayat ini Makiyyah namun perhatikan penjelasan As Suyuthi: “Al fawahisy adalah setiap dosa yang terdapat hukuman hadd-nya. Sedangkan al kaba’ir adalah setiap dosa yang diancam neraka. Adapun al lamam adalah dosa yang bukan al fawahisy dan bukan al kabair. Sedangkan di Mekkah ketika itu belum ada hukuman hadd atau semacamnya” (Al Itqan, 18).
  10.  Bahasan mengenai ayat atau surat yang dibawa penduduk Mekkah ke Madinah
    Yaitu ayat-ayat yang diajarkan oleh kaum Muhajirin kepada kaum Anshar. Ayat tersebut tidak turun di Madinah, namun penduduk Madinah mengetahuinya dari penduduk Mekkah yang hijrah. Diantara contohnya adalah ayat:

    سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى

    “Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi” (QS. Al A’la: 1).
    Dalam riwayat Al Bukhari dari Al Barra’ bin ‘Adzib bahwa ayat ini digaung-gaungkan oleh penduduk Madinah karena mereka sangat gembira ketika Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam datang ke Madinah. Dan ayat tersebut diajarkan oleh para sahabat yang hijrah bersama Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam namun sudah datang terlebih dahulu di Madinah.
    11. Bahasan mengenai ayat atau surat yang dibawa penduduk Madinah ke Mekkah
    Yaitu ayat-ayat atau surat yang diajarkan penduduk Madinah kepada penduduk Mekkah. Diantara contohnya adalah surat At Taubah. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam memerintahkan Abu Bakar Ash Shiddiq untuk berhaji di tahun ke-9. Lalu turunlah surat At Taubah. Maka Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam mengutus Ali bin Abi Thalib dari Madinah ke Mekkah untuk menyampaikan surat At Taubah ini kepada Abu Bakar dan juga kepada kaum Musyrikin Mekkah, dan menyampaikan kepada kaum Musyirikin agar tidak berhaji lagi setelah tahun ini.
   12. Bahasan mengenai ayat atau surat yang turun di siang hari dan di malam hari
    Umumnya ayat Al Qur’an diturunkan siang hari. Sedangkan yang diturunkan pada malam hari lebih sedikit. Diantaranya adalah ayat-ayat terakhir surat Al Imran.
    13. Bahasan mengenai ayat atau surat yang turun di musim panas (shaifiy) dan di musim dingin (syita’iy)
    Diantara yang diturunkan pada musim panas adalah ayat kalalah (orang yang meninggal tidak meninggalkan anak dan orang tua) yang ada di akhir-akhir surat An Nisa. Berdasarkan riwayat yang dikeluarkan dalam Shahih Muslim (567), Umar bin Khathab radhiallahu’anhu berkata:

    ما رَاجَعْتُ رسولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم في شيءٍ ما راجَعْتُه في الكَلَالَةِ ، وما أَغْلَظَ لي في شيءٍ ما أَغْلَظَ لي فيه ، حتى طَعَنَ بإصبعِه في صدري ، فقال: يا عمرُ، ألا تَكْفيك آيةُ الصَّيْفِ التي في آخرِ سورةِ النساءِ ؟

    “Aku tidak pernah mendebat Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam sebagaimana aku mendebat beliau tentang masalah kalalah. Dan tidak pernah aku ngotot dalam suatu masalah sebagaimana aku ngotot dalam masalah kalalah hingga dia menusukku dengan jarinya ke dadaku. Beliau bersabda, ‘Wahai Umar tidak cukupkah ayat shaif (yang diturunkan di musim panas) yang berada pada akhir ayat dari surat an-Nisa?’”
    Diantara yang diturunkan pada musim dingin adalah surat An Nur ayat 11-26, yang turun karena kisah haditsul ifki, yaitu ketika Ummul Mu’minin Aisyah radhiallahu’anha dituduh oleh orang-orang munafik telah berzina. Asbabul nuzul ayat ini disebutkan dalam hadits Bukhari (4141) dan disebut di dalamnya:

    وهو في يومٍ شاتٍ

    “dan itu terjadi di musim dingin”
  14.  Bahasan mengenai surat atau ayat yang turun ketika safar dan ketika hadhar (tidak safar)
    Umumnya ayat Al Qur’an turun ketika hadhar (tidak safar). Ayat yang turun ketika safar biasanya terjadi ketika dalam safar untuk jihad fi sabilillah. Diantaranya awal-awal surat Al Anfal yang turun ketika perang Badar.

Faidah mempelajari ilmu Al Makki wal Madini


   1. Membantu dalam menafsirkan Al Qur’an dengan penafsiran yang benar. Karena pengetahuan tentang tempat-tempat turunnya ayat akan membantu memahami ayat dengan pemahaman yang tepat.
   2. Membantu untuk mengetahui nasikh dan mansukh
   3. Membuat kita meresapi uslub (gaya bahasa) Al Qur’an dan mengambil faedah darinya sehingga bisa diterapkan dalam metode dakwah ilallah. Misalnya dengan ilmu Al Makki wal Madini kita mengetahui bagaimana dakwah Nabi di awal-awal periode, ketika di Mekkah sebelum hijrah, beliau menekankan kepada dakwah tauhid dengan mengokohkan iman para sahabat. Sedangkan di Madinah, ketika iman para sahabat sudah kokoh, barulah turun ayat-ayat hukum. Hal ini mengajarkan tentang metode dakwah secara bertahap, memulai dari perkara akidah, dan menyesuaikan diri dengan audiens dakwah. Sebagaimana perkataan hikmah: likulli maqam maqaal (di setiap tempat masing-masing ada cara berbicara yang berbeda).
   4. Secara tidak langsung kita mempelajari sirah Nabawiyah dari ayat-ayat Al Qur’an.

Demikian sedikit pengenalan mengenai salah satu cabang dari ulumul Qur’an, yaitu ilmu Al Makki wal Madini. Semoga kita diberi hidayah untuk terus mempelajari Al Qur’an yang merupakan petunjuk dan pedoman hidup kita. Wabillahi at taufiq was sadaad.

***

Rujukan: Mabahits fii Ulumil Qur’an, Syaikh Manna’ Al Qathan, hal. 51 – 64, cetakan Mansyurat Al ‘Ashr Al Hadits


Sumber: https://muslim.or.id/28283-mengenal-makiyyah-dan-madaniyyah-2.html

Mengenal Makiyyah dan Madaniyyah Part 1

Om-Leehin.My.Id -- Diantara bahasan dalam ilmu Al Qur’an adalah pembahasan mengenai Makiyyah dan Madaniyyah. Yaitu diantara surat-surat dalam Al Qur’an ada yang disebut sebagai surat Makiyyah dan ada yang disebut sebagai surat Madaniyah. Misalnya surat Al An’am dan Al A’raf adalah surat Makiyyah. Sedangkan Al Baqarah dan Al Imran adalah surat Madaniyyah.



mengenal-makiyyah-dan-madaniyyah-part-1

Apa definisi dan apa saja perbedaannya? Insya Allah akan kita sebutkan secara ringkas dalam artikel ini. Dan yang akan kami sebutkan dalam artikel ini hanya muqaddimah atau pengenalan saja dari cabang ilmu Makki wal Madini yang merupakan cabang dari uluumul Qur’an (ilmu-ilmu Al Qur’an).

Dengan mengenal dan mempelajari ilmu ini juga, kita akan mengetahui betapa besar perhatian dan usaha para ulama dalam mempelajari serta menelaah Al Qur’anul Karim. Karena para ulama memberikan perhatian yang sangat besar dalam menganalisa mana yang surat atau ayat Makiyyah dan mana yang Madaniyyah. Mereka menganalisa ayat per ayat, surat per surat, lalu mengurutkan dan mengelompokkannya berdasarkan waktu, tempat dan mukhathab ayat atau surat tersebut diturunkan. Bukan hanya faktor waktu, tempat dan mukhathab (sasaran pembicaran) ketika ayat diturunkan yang menjadi patokan pengelompokan, namun terkadang mereka menggabungkan tiga faktor ini dalam pengurutan dan pengelompokkan ayat dan surat. Semuanya dilakukan dengan sangat teliti dan mendetail. Tentunya ini merupakan usaha yang berat dan besar yang telah dilakukan oleh para ulama kita, rahimahumullah jami’an.


Definisi Makiyyah dan Madaniyyah


Ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikan Makiyyah dan Madaniyyah menjadi tiga pendapat. Yang khilaf ini merupakan khilaf isthilahiy karena masing-masing pendapat menggunakan pendekatan yang berbeda.

Pendapat pertama, menggunakan pendekatan waktu. Makiyyah adalah surat atau ayat yang diturunkan sebelum hijrah walaupun bukan di Mekkah. Sedangkan Madaniyyah adalah surat atau ayat yang diturunkan setelah hijrah walaupun bukan di Madinah. Demikian juga ayat atau surat yang turun di Mekkah namun setelah hijrah, maka termasuk Madaniyyah. Contohnya ayat:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya” (QS. An Nisa: 58)

Ini ayat Madaniyyah karena ayat ini turun di Mekkah di sisi Ka’bah di tahun terjadinya Fathul Mekkah. Juga ayat:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu” (QS. Al Maidah: 3).

Ini adalah ayat Madaniyah walaupun turun di Mekkah, namun ia turun pada waktu haji Wada’.

Pendapat ini adalah pendapat yang paling banyak dikuatkan karena batasannya jelas dan pembagiannya konsisten serta mencakup semua ayat dan surat, tidak sebagaimana dua pendapat lainnya

Pendapat kedua, menggunakan pendekatan tempat. Makiyyah adalah surat atau ayat yang diturunkan di Mekkah, sedangkan Madaniyyah adalah surat atau ayat yang diturunkan di Madinah. Namun pembagian ini bermasalah ketika menemui fakta bahwa ada surat atau ayat yang diturunkan selain di Mekkah dan Madinah. Seperti surat atau ayat yang diturunkan di Tabuk, di Baitul Maqdis, dan lainnya, tidak masuk dalam pembagian. Demikian juga surat atau ayat yang di turunkan di Mekkah namun setelah peristiwa hijrah, konsekuensinya ia dikategorikan sebagai Makiyyah, padahal tidak sesuai dengan ciri dan sifat Makiyyah. Sehingga ada inkonsistensi di sini.

Pendapat ketiga, menggunakan pendekatan mukhathab (sasaran pembicaraan ayat). Makiyyah adalah surat atau ayat yang ditujukan bagi penduduk Mekkah, sedangkan Madaniyyah adalah surat atau ayat yang ditujukan bagi penduduk Madinah. Ulama yang berpegang pada pendapat ini, sebenarnya berpatokan pada kaidah: jika surat atau ayat diawali “yaa ayyuhannaas” (wahai manusia…) maka ia Makiyyah, jika diawali “yaa ayyuhalladzina aamanu” (wahai orang-orang yang beriman…) maka ia Madaniyyah.
Bagaimana para ulama mengetahui Makiyyah dan Madaniyyah?

Bagaimana ulama bisa sampai pada kesimpulan bahwa ayat atau surat ini Makiyyah atau yang itu Madaniyyah? Mereka bertopang pada dua metode pokok:


1. Metode sima’i naqli

Yaitu dalam menentukan Makiyyah dan Madaniyyah mereka melihat kepada riwayat-riwayat dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam yang shahih yang menjelaskan turunnya suatu ayat. Dan juga riwayat dari para sahabat Nabi yang mereka melihat, menyaksikan dan mengetahui secara jelas kapan, dimana, mengapa dan bagaimana ayat-ayat Al Qur’an turun. Demikian juga riwayat-riwayat dari para tabi’in yang mereka bertemu dan berguru kepada para sahabat dan mendapatkan informasi mengenai Al Qur’an dari para sahabat. Metode inilah yang menjadi metode utama dan sumber pengambilan utama untuk mengetahui Makkiyyah dan Madaniyyah.

2. Metode qiyasi ijtihadi


Yaitu pada ayat dan surat yang tidak terdapat riwayat secara tegas yang menjelaskan mengenai waktu, tempat dan kondisi turunnya. Para ulama berpegang pada karakteristik ayat-ayat Makiyyah dan Madaniyyah yang terdapat riwayatnya kemudian meng-qiyaskannya dengan ayat dan surat selainnya. Jika suatu ayat mengandung karakteristik Makiyyah maka disebut sebagai ayat Makiyyah, demikian juga Madaniyyah. Oleh karena itu metode ini bersifat ijtihadiy, artinya bisa jadi antara ulama yang satu dengan yang lain berbeda ijtihadnya dalam menentukan Makiyyah dan Madaniyyah dengan metode ini.

Kaidah dan Karakteristik Makiyyah dan Madaniyyah

Para ulama setelah menelaah ayat-ayat Al Qur’an, mereka menyusun kaidah dan juga menemukan karakteristik yang khas untuk masing-masing surat dan ayat Makiyyah dan Madaniyyah.

Diantara kaidah yang disusun oleh para ulama untuk memudahkan kita mengenal surat dan ayat Makiyyah dan Madaniyyah adalah sebagai berikut:

Kaidah-kaidah Makiyyah:


 1. Setiap surat yang terdapat ayat sajdah maka ia Makiyyah
 2. Setiap surat yang terdapat kata كلا (kalla) maka ia Makiyyah yang hanya terdapat di setelah pertengahan dari Al Qur’an. Terdapat 33 kata كلا (kalla) dalam Al Qur’an yang terdapat dalam 15 surat.

3. Setiap surat yang terdapat “yaa ayyuhannaas” namun tidak terdapat “yaa ayyuhalladzina aamanu” maka ia Makiyyah. Kecuali surat Al Hajj yang terdapat ayat:
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا

    “Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu”
    namun para ulama tetap menganggap surat Al Hajj sebagai surat Makiyyah.

4.Setiap surat yang terdapat kisah para Nabi dan umat terdahulu maka ia surat Makiyyah kecuali Al Baqarah.
5. Setiap surat yang terdapat kisah Nabi Adam dan iblis maka ia Makiyyah kecuali Al Baqarah.
6. Setiap surat yang dibuka dengan huruf tahajji seperti “alif laam miim”, “alif laam raa”, “haa miim” dan semisalnya, adalah surat Makiyyah. Kecuali surat yang dijuluki zahrawain, yaitu Al Baqarah dan Al Imran. Adapun surat Ar Ra’du diperselisihkan apakah ia Madaniyyah atau Makiyyah.

Kaidah-kaidah Madaniyyah:


1. Setiap surat yang terdapat penjelasan tentang ibadah-ibadah wajib dan hukuman hadd, ia Madaniyyah
2. Setiap surat yang terdapat penyebutan kaum munafik maka ia Madaniyyah kecuali Al Ankabut.
3. Setiap surat yang terdapat bantahan terhadap Ahlul Kitab maka ia Madaniyah.

Para ulama juga setelah menelaah ayat dan surat dalam Al Qur’an menemukan bahwa masing-masing Makiyyah dan Madaniyyah memiliki ciri-ciri khusus dari sisi konten (isi) ayat atau surat, yang membedakan keduanya.

Karakteristik isi surat Makiyyah

1. Dakwah kepada tauhid dan beribadah kepada Allah semata, menetapkan risalah kerasulan, menetapkan hari kebangkitan dan ganjaran amalan, penyebutan kabar tentang hari kiamat, neraka, surga, dan bantahan terhadap kaum Musyrikin dengan logika Al Qur’an, serta ayat-ayat kauniyah.
2. Penetapan landasan-landasan umum syariat serta akhlak-akhlak mulia serta penyebutan akhlak-akhlak tercela serta kebiasaan-kebiasaan buruk kaum Musyirikin

3.Kisah tentang para Nabi dan kaum terdahulu serta ganjaran bagi kaum tersebut.
4. Terdapat fawashil (susunan kalimat yang menyerupai sajak) yang pendek-pendek namun dengan ungkapan yang kokoh namun istimewa yang mengena di hati dan menguatkan serta memotivasi pendengarnya.

Karakteristik isi surat Madaniyyah

1. Penjelasan tentang ibadah, muamalah, hukuman hadd, aturan rumah tanga, aturan waris, keutamaan jihad, perbaikan masyarakat, perkara kenegaraan dalam keadaan tenang dan perang, serta kaidah-kaidah hukum.
2. Bantahan dan sanggahan untuk Ahlul Kitab, yaitu Yahudi dan Nasrani. Ajakan bagi mereka untuk masuk Islam, penjelasan bahwa mereka telah menyelewengkan kitab-kitab Allah, penyimpangan mereka dari kebenaran, dan penyelisihan mereka terhadap kebenaran setelah adanya bukti dan penjelasan yang jelas.
3. Membahas tabiat kaum munafik dan menjelaskan bahayanya mereka bagi agama
4. Penyebutan ungkapan-ungkapan pendek secara sering dan berulang dalam rangka menegaskan dan menetapkan syariat dan menjelaskan tujuan-tujuannya.

Pada artikel selanjutnya akan disebutkan surat mana saja yang Makiyyah dan mana saja yang Madaniyyah, insya Allah

[bersambung]

***

Rujukan: Mabahits fii Ulumil Qur’an, Syaikh Manna’ Khalil Al Qathan, hal. 51 – 64, cetakan Mansyurat Al ‘Ashr Al Hadits


Sumber: https://muslim.or.id/28241-mengenal-makiyyah-dan-madaniyyah-1.html


Inilah Sejarah Awal Mula Adanya THR di Indonesia

inilah-sejarah-awal-mula-adanya-thr-di-indonesia
Om-Leehin.My.Id -- Salah satu topik yang paling banyak dibicarakan menjelang akhir Ramadan, tak lain adalah Tunjangan Hari Raya alias THR.

Tahun ini, masyarakat Indonesia patut bersenang hati. Selain karena gaji ke-13 akan dibayarkan sekaligus pada saat pembayaran THR, aturan baru bagi pemerintah untuk memberikan THR bagi karyawan swasta yang baru bekerja satu bulan sudah tentu cukup melegakan.

THR mungkin telah menjadi tradisi di Indonesia. Di negara lain, mungkin tidak berlaku pemberian Tunjangan Hari Raya bagi karyawan menjelang lebaran. Namun omong-omong, sebenarnya sejak kapan tradisi THR mulai berlaku?

Menurut berbagai sumber, pemberian uang tunjangan menjelang Lebaran di Indonesia dimulai pertama kali pada era kabinet Soekiman Wirjosandjojo dari Partai Masyumi. Salah satu program kerja kabinet Soekiman yakni meningkatkan kesejahteraan pamong pradja.

Pada masa itu, pemberian tunjangan pada pegawai yakni sebesar Rp 125 -Rp 200 yang setara dengan Rp 1,1 juta-Rp 1,75 juta pada masa sekarang. Tak hanya itu, tunjangan juga diberikan dalam bentuk tunjangan beras tiap bulannya.

Nah, lantaran Tunjangan Hari Raya hanya diberikan pada para pegawai negeri, kaum buruh pun protes. Pada tanggal 13 Februari 1952, kaum buruh menggelar mogok sambil menuntut pemerintah untuk memberikan tunjangan juga bagi mereka. Namun, saat itu pemerintah tak langsung meloloskan begitu saja permintaan kaum buruh.

Lantas, mengapa THR menjadi kebijakan kabinet Soekiman pada masa itu? Ternyata hal ini dikarenakan sebagian besar pegawai negeri pada masa itu terdiri dari para priayi, menak, kaum ningrat, dan lainnya. Dengan harapan mengambil hati pegawai itulah THR diberikan. Nah, sejak itulah THR jadi anggaran rutin pemerintah hingga sekarang.

Sumber : http://ramadan.liputan6.com/

Perang Badar pada 17 Ramadan 2 Hijriah dipimpin Rasulullah SAW

Om-Leehin.My.Id - Perang ini merupakan peperangan antara umat Islam yang beriman dengan kaum kafir yang terjadi di Lembah Badar dan menjadi perang pertama yang dilakukan umat muslim setelah hijrah ke Madinah. Peristiwa yang terjadi pada 17 Ramadan tahun ke 2 Hijriyah ini dipimpin langsung oleh Rasulullah SAW.

F:\Mine\Blog\LIHIN\Om-Leehin.My.id\perang-badar-pada-17-ramadan-2-hijriah-dipimpin-Rasulullah-SAW.png

Setelah umat Islam mengalami intimidasi, kesulitan dan duka, mereka meninggalkan kampung halaman mereka di Mekkah. Rasulullah SAW akhirnya mengadakan rencana penyergapan kafilah Quraisy, namun rencana dan persiapan matang tersebut gagal. Kafilah dagang yang dipimpin oleh Abu Sufyan bin Harb berhasil melarikan diri.

Nabi bersama para sahabatnya keluar dari Madinah pada tanggal 12 Ramadan tahun 2 Hijriyah. Beliau tidak mewajibkan setiap kaum muslimin untuk ambil bagian menuju Badar, karena keberangkatan ini hanya bertujuan untuk menyergap kafilah Quraisy, bukan untuk berperang. Namun sayang, rencana ini kembali gagal karena berhasil diketahui Abu Sufyan.

Mengetahui pergerakan umat Islam dari Madinah, Quraisy segera menyiapkan pasukan besar untuk berperang. Mereka membawa 1300 pasukan. 600 di antaranya pasukan berbaju besi. Dan 100 di antaranya penunggang kuda.

Mereka juga membawa unta dalam jumlah yang besar. Sementara kaum muslimin hanya berjumlah 314 orang. Ada yang mengatakan 319 orang, 83 di antaranya adalah kaum Muhajirin.

Rasulullah SAW bersama sekitar 300 muslimin berhasil mengalahkan pasukan musyrikin Mekkah yang berjumlah lebih dari 1000 orang. Sebanyak 70 orang kaum musyrikin tewas di medan Badar.

Di antara mereka adalah tokoh-tokoh Quraisy, seperti Abu Jahal, Utbah bin Rabiah, Syaibah bin Rabiah, Umayyah bin Khalaf, Al-Ash bin Hsyam bin al-Mughirah. Dari pihak kaum muslimin, sebanyak 14 orang mati syahid, 6 orang kaum Muhajirin dan 8 orang kaum Anshar.

Kemenangan ini merupakan hadiah dari Allah atas kesabaran orang-orang yang beriman dalam memberantas kebatilan dan kemusyrikan.

Sumber : http://news.detik.com

Asyik ... Besok THR dan Gaji ke-13 PNS Cair

Om-Leehin.My.Id -- Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro menyatakan pemerintah akan memberikan gaji ke-14 atau Tunjangan Hari Raya (THR) kepada Pegawai Negara Sipil (PNS) mulai Kamis (23/6/2016).

Hal tersebut setelah ditandatanganinya regulasi mengenai pembayaran THR dan gaji ke-13, yaitu Peraturan Pemerintah (PP) dan Peraturan Menteri Keuangan (PMK)

"‎Sudah terbit empat PP dan empat PMK sebagai landasan pembayaran THR dan gaji ke-13," kata dia di Kementerian Keuangan Jakarta, Rabu (23/6/2016).

Dia menerangkan besaran THR yang diberikan meliputi gaji pokok ditambah tunjangan keluarga, tunjangan jabatan atau tunjangan umum. Pembayaran THR tidak termasuk tunjangan kinerja.

‎Sementara, dia mengatakan pemerintah juga menimbang perlunya meningkatkan daya beli masyarakat. Maka dari itu, pemerintah juga akan memberikan sebagian gaji ke-13 berbarengan dengan THR.

"Sebenarnya gaji ke-13 dikaitkan dengan tahun masuk ajaran baru. Karena kita melihat perlu meningkatkan daya beli di Juni, maka sebagian gaji ke-13 akan juga dibayarkan mulai hari-hari ini," jelas dia.

Dia mengatakan gaji ke 13 yang diberikan berbarengan dengan THR ialah gaji dan tunjangan. Sementara, tunjangan kinerja yang terdapat pada gaji ke 13 akan diberikan pada bulan depan atau tepat pada 11 Juli.

"Intinya mulai besok‎, hari Kamis, secara bertahap sudah dapat dilakukan pembayaran gaji 13 dan THR," kata dia.

Sumber : http://bisnis.liputan6.com

Serah Terima Sertifikat Syariah Halal PayTren dr MUI




Info Lengkap, Silahkan Langsung Konfirmasi via WhatsApp

085743466026

Agar Lebih Mudah Pendaftaran & Bimbingan