5 Alasan kenapa sekarang adalah waktu yang tepat untuk bergabung di Bisnis PayTren




Info Lengkap, Silahkan Langsung Konfirmasi via WhatsApp

085743466026

Agar Lebih Mudah Pendaftaran & Bimbingan


Mengenal Makiyyah dan Madaniyyah Part 2

mengenal-makiyyah-dan-madaniyyah-part-2

Surat-Surat Makiyyah dan Madaniyah

Pembagian surat Makiyyah dan Madaniyah yang paling bagus dan lebih rajih, insya Allah, adalah sebagai berikut:

1. Surat-surat Madaniyyah ada 20 surat:

    Al Baqarah
    Al Imran
    An Nisa’
    Al Ma’idah
    Al Anfal
    At Taubah
    An Nuur
    Al Ahzab
    Muhammad
    Al Fath
    Al Hujurat
    Al Hadid
    Al Mujadalah
    Al Hasyr
    Al Mumtahanah
    Al Jumu’ah
    Al Munafiqun
    Ath Thalaq
    At Tahrim
    An Nashr

2. Surat-surat yang diperselisihkan apakah ia Makiyyah atau Madaniyyah ada 12 surat:

    Al Fatihah
    Ar Ra’du
    Ar Rahman
    Ash Shaf
    At Taghabun
    At Tathfif (Al Muthaffifin)
    Al Qadr
    Al Bayyinah
    Az Zalzalah
    Al Ikhlash
    Al Falaq
    An Naas

3. Sedangkan sisanya adalah surat-surat Makiyyah, jumlahnya 82 surat.

Total jumlah surat di dalam Al Qur’an ada 114 surat.

Poin-poin bahasan dalam ilmu Makki wal Madini


Dalam pembahasan ilmu Makki wal Madini atau ilmu tentang Makiyyah dan Madaniyyah ada cabang-cabang bahasan yang dibahas oleh para ulama ahli Al Qur’an. Akan kami sebutkan cabang-cabang bahasan tersebut berserta contohnya, semoga kita terpacu untuk lebih mendalam ilmu tentang Al Qur’an Al Karim.

Ada 14 bahasan yang dibahas dalam ilmu Makki wal Madini :


    1. Bahasan mengenai surat apa saja yang diturunkan di Mekkah
    2. Bahasan mengenai surat apa saja yang diturunkan di Madinah
    3. Bahasan mengenai surat apa saja yang diperselisihkan Makiyyah atau Madaniyyah-nya.
    Contoh dari tiga bahasan ini sebagaimana disebutkan di atas
    4. Bahasan mengenai ayat-ayat Makiyyah yang ada di surat Madaniyyah
    Suatu surat disifati sebagai surat Makiyyah atau Madaniyyah bukan berarti semua ayat di dalamnya juga demikian. Karena terkadang ada ayat Makiyyah yang ada dalam surat Madaniyyah dan sebaliknya.
    Contohnya ayat berikut ini:

    وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ

    “Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya” (QS. Al Anfal: 30).
    Muqatil rahimahullah mengatakan: “ayat ini diturunkan di Mekkah”. Dan ini juga didukung oleh isi ayat yang memiliki karakteristik surat Makiyyah yaitu menceritakan perjuangan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam di Mekkah sebelum hijrah. Namun ia berada dalam surat Al Anfal yang merupakan surat Madaniyyah.


  5. Bahasan mengenai ayat-ayat Madaniyyah yang ada di surat Makiyyah
    Contohnya adalah dalam surat Al An’am. Surat Al An’am seluruhnya Makiyyah kecuali tiga ayat, yaitu ayat 151 sampai 153. Demikian juga surat Al Hajj, seluruhnya Makiyyah kecuali tiga ayat, yaitu ayat 19 sampai 21.
   6.  Bahasan mengenai ayat yang turun di Mekkah namun dihukumi sebagai Madaniyyah.
    Contohnya ayat:

    يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

    “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (QS. Al Hujurat: 13).
    Ayat ini turun di Mekkah di hari Fathul Mekkah, yang artinya ia turun setelah hijrah. Oleh karena itu ia dihukumi sebagai Madaniyyah, sebagaimana telah dijelaskan pada artikel sebelumnya.


    7. Bahasan mengenai ayat yang turun di Madinah namun dihukumi sebagai Makiyyah.
    Para ulama ahli ilmu Qur’an memberikan contoh surat Al Mumtahanah. Karena ia diturunkan di Madinah, namun khithab (sasaran pembicaraan) dari surat ini adalah untuk penduduk Mekkah ketika itu. Sehingga menurut pendapat yang ketiga, yang menggunakan pendekatan khithab, surat Al Mumtahanah termasuk Makiyyah. Namun yang lebih rajih surat Al Mumtahanah termasuk Madaniyyah karena turun setelah hijrah.
    8. Bahasan mengenai ayat Madaniyyah yang mirip seperti Makiyyah
    Yaitu ayat-ayat yang digolongkan sebagai Madaniyyah namun uslub (gaya bahasa) dan karakteristik dari ayat tersebut mirip seperti ayat Makiyyah. Contohnya ayat:

    وَإِذْ قَالُوا اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ هَذَا هُوَ الْحَقَّ مِنْ عِنْدِكَ فَأَمْطِرْ عَلَيْنَا حِجَارَةً مِنَ السَّمَاءِ أَوِ ائْتِنَا بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

    “Dan (ingatlah), ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata: “Ya Allah, jika betul (Al Quran) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih”” (QS. Al Anfal: 32).
    Ayat ini turun setelah hijrah sehingga ia Madaniyyah, namun gaya bahasa ayat ini seperti ayat Makiyyah karena isinya berupa kesombongan kaum Musyrikin yang menantang untuk didatangkan adzab yang mencerminkan penentangan mereka terhadap dakwah tauhid dan risalah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam.
   9. Bahasan mengenai ayat Makiyyah yang mirip seperti Madaniyyah
    Yaitu ayat-ayat yang digolongkan sebagai Makiyyah namun uslub (gaya bahasa) dan karakteristik dari ayat tersebut mirip seperti ayat Madaniyyah. Contohnya ayat:

    الَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ إِلَّا اللَّمَمَ

    “(Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil” (QS. An Najm: 32).
    Ayat ini Makiyyah namun perhatikan penjelasan As Suyuthi: “Al fawahisy adalah setiap dosa yang terdapat hukuman hadd-nya. Sedangkan al kaba’ir adalah setiap dosa yang diancam neraka. Adapun al lamam adalah dosa yang bukan al fawahisy dan bukan al kabair. Sedangkan di Mekkah ketika itu belum ada hukuman hadd atau semacamnya” (Al Itqan, 18).
  10.  Bahasan mengenai ayat atau surat yang dibawa penduduk Mekkah ke Madinah
    Yaitu ayat-ayat yang diajarkan oleh kaum Muhajirin kepada kaum Anshar. Ayat tersebut tidak turun di Madinah, namun penduduk Madinah mengetahuinya dari penduduk Mekkah yang hijrah. Diantara contohnya adalah ayat:

    سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى

    “Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi” (QS. Al A’la: 1).
    Dalam riwayat Al Bukhari dari Al Barra’ bin ‘Adzib bahwa ayat ini digaung-gaungkan oleh penduduk Madinah karena mereka sangat gembira ketika Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam datang ke Madinah. Dan ayat tersebut diajarkan oleh para sahabat yang hijrah bersama Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam namun sudah datang terlebih dahulu di Madinah.
    11. Bahasan mengenai ayat atau surat yang dibawa penduduk Madinah ke Mekkah
    Yaitu ayat-ayat atau surat yang diajarkan penduduk Madinah kepada penduduk Mekkah. Diantara contohnya adalah surat At Taubah. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam memerintahkan Abu Bakar Ash Shiddiq untuk berhaji di tahun ke-9. Lalu turunlah surat At Taubah. Maka Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam mengutus Ali bin Abi Thalib dari Madinah ke Mekkah untuk menyampaikan surat At Taubah ini kepada Abu Bakar dan juga kepada kaum Musyrikin Mekkah, dan menyampaikan kepada kaum Musyirikin agar tidak berhaji lagi setelah tahun ini.
   12. Bahasan mengenai ayat atau surat yang turun di siang hari dan di malam hari
    Umumnya ayat Al Qur’an diturunkan siang hari. Sedangkan yang diturunkan pada malam hari lebih sedikit. Diantaranya adalah ayat-ayat terakhir surat Al Imran.
    13. Bahasan mengenai ayat atau surat yang turun di musim panas (shaifiy) dan di musim dingin (syita’iy)
    Diantara yang diturunkan pada musim panas adalah ayat kalalah (orang yang meninggal tidak meninggalkan anak dan orang tua) yang ada di akhir-akhir surat An Nisa. Berdasarkan riwayat yang dikeluarkan dalam Shahih Muslim (567), Umar bin Khathab radhiallahu’anhu berkata:

    ما رَاجَعْتُ رسولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم في شيءٍ ما راجَعْتُه في الكَلَالَةِ ، وما أَغْلَظَ لي في شيءٍ ما أَغْلَظَ لي فيه ، حتى طَعَنَ بإصبعِه في صدري ، فقال: يا عمرُ، ألا تَكْفيك آيةُ الصَّيْفِ التي في آخرِ سورةِ النساءِ ؟

    “Aku tidak pernah mendebat Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam sebagaimana aku mendebat beliau tentang masalah kalalah. Dan tidak pernah aku ngotot dalam suatu masalah sebagaimana aku ngotot dalam masalah kalalah hingga dia menusukku dengan jarinya ke dadaku. Beliau bersabda, ‘Wahai Umar tidak cukupkah ayat shaif (yang diturunkan di musim panas) yang berada pada akhir ayat dari surat an-Nisa?’”
    Diantara yang diturunkan pada musim dingin adalah surat An Nur ayat 11-26, yang turun karena kisah haditsul ifki, yaitu ketika Ummul Mu’minin Aisyah radhiallahu’anha dituduh oleh orang-orang munafik telah berzina. Asbabul nuzul ayat ini disebutkan dalam hadits Bukhari (4141) dan disebut di dalamnya:

    وهو في يومٍ شاتٍ

    “dan itu terjadi di musim dingin”
  14.  Bahasan mengenai surat atau ayat yang turun ketika safar dan ketika hadhar (tidak safar)
    Umumnya ayat Al Qur’an turun ketika hadhar (tidak safar). Ayat yang turun ketika safar biasanya terjadi ketika dalam safar untuk jihad fi sabilillah. Diantaranya awal-awal surat Al Anfal yang turun ketika perang Badar.

Faidah mempelajari ilmu Al Makki wal Madini


   1. Membantu dalam menafsirkan Al Qur’an dengan penafsiran yang benar. Karena pengetahuan tentang tempat-tempat turunnya ayat akan membantu memahami ayat dengan pemahaman yang tepat.
   2. Membantu untuk mengetahui nasikh dan mansukh
   3. Membuat kita meresapi uslub (gaya bahasa) Al Qur’an dan mengambil faedah darinya sehingga bisa diterapkan dalam metode dakwah ilallah. Misalnya dengan ilmu Al Makki wal Madini kita mengetahui bagaimana dakwah Nabi di awal-awal periode, ketika di Mekkah sebelum hijrah, beliau menekankan kepada dakwah tauhid dengan mengokohkan iman para sahabat. Sedangkan di Madinah, ketika iman para sahabat sudah kokoh, barulah turun ayat-ayat hukum. Hal ini mengajarkan tentang metode dakwah secara bertahap, memulai dari perkara akidah, dan menyesuaikan diri dengan audiens dakwah. Sebagaimana perkataan hikmah: likulli maqam maqaal (di setiap tempat masing-masing ada cara berbicara yang berbeda).
   4. Secara tidak langsung kita mempelajari sirah Nabawiyah dari ayat-ayat Al Qur’an.

Demikian sedikit pengenalan mengenai salah satu cabang dari ulumul Qur’an, yaitu ilmu Al Makki wal Madini. Semoga kita diberi hidayah untuk terus mempelajari Al Qur’an yang merupakan petunjuk dan pedoman hidup kita. Wabillahi at taufiq was sadaad.

***

Rujukan: Mabahits fii Ulumil Qur’an, Syaikh Manna’ Al Qathan, hal. 51 – 64, cetakan Mansyurat Al ‘Ashr Al Hadits


Sumber: https://muslim.or.id/28283-mengenal-makiyyah-dan-madaniyyah-2.html

Mengenal Makiyyah dan Madaniyyah Part 1

Om-Leehin.My.Id -- Diantara bahasan dalam ilmu Al Qur’an adalah pembahasan mengenai Makiyyah dan Madaniyyah. Yaitu diantara surat-surat dalam Al Qur’an ada yang disebut sebagai surat Makiyyah dan ada yang disebut sebagai surat Madaniyah. Misalnya surat Al An’am dan Al A’raf adalah surat Makiyyah. Sedangkan Al Baqarah dan Al Imran adalah surat Madaniyyah.



mengenal-makiyyah-dan-madaniyyah-part-1

Apa definisi dan apa saja perbedaannya? Insya Allah akan kita sebutkan secara ringkas dalam artikel ini. Dan yang akan kami sebutkan dalam artikel ini hanya muqaddimah atau pengenalan saja dari cabang ilmu Makki wal Madini yang merupakan cabang dari uluumul Qur’an (ilmu-ilmu Al Qur’an).

Dengan mengenal dan mempelajari ilmu ini juga, kita akan mengetahui betapa besar perhatian dan usaha para ulama dalam mempelajari serta menelaah Al Qur’anul Karim. Karena para ulama memberikan perhatian yang sangat besar dalam menganalisa mana yang surat atau ayat Makiyyah dan mana yang Madaniyyah. Mereka menganalisa ayat per ayat, surat per surat, lalu mengurutkan dan mengelompokkannya berdasarkan waktu, tempat dan mukhathab ayat atau surat tersebut diturunkan. Bukan hanya faktor waktu, tempat dan mukhathab (sasaran pembicaran) ketika ayat diturunkan yang menjadi patokan pengelompokan, namun terkadang mereka menggabungkan tiga faktor ini dalam pengurutan dan pengelompokkan ayat dan surat. Semuanya dilakukan dengan sangat teliti dan mendetail. Tentunya ini merupakan usaha yang berat dan besar yang telah dilakukan oleh para ulama kita, rahimahumullah jami’an.


Definisi Makiyyah dan Madaniyyah


Ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikan Makiyyah dan Madaniyyah menjadi tiga pendapat. Yang khilaf ini merupakan khilaf isthilahiy karena masing-masing pendapat menggunakan pendekatan yang berbeda.

Pendapat pertama, menggunakan pendekatan waktu. Makiyyah adalah surat atau ayat yang diturunkan sebelum hijrah walaupun bukan di Mekkah. Sedangkan Madaniyyah adalah surat atau ayat yang diturunkan setelah hijrah walaupun bukan di Madinah. Demikian juga ayat atau surat yang turun di Mekkah namun setelah hijrah, maka termasuk Madaniyyah. Contohnya ayat:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya” (QS. An Nisa: 58)

Ini ayat Madaniyyah karena ayat ini turun di Mekkah di sisi Ka’bah di tahun terjadinya Fathul Mekkah. Juga ayat:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu” (QS. Al Maidah: 3).

Ini adalah ayat Madaniyah walaupun turun di Mekkah, namun ia turun pada waktu haji Wada’.

Pendapat ini adalah pendapat yang paling banyak dikuatkan karena batasannya jelas dan pembagiannya konsisten serta mencakup semua ayat dan surat, tidak sebagaimana dua pendapat lainnya

Pendapat kedua, menggunakan pendekatan tempat. Makiyyah adalah surat atau ayat yang diturunkan di Mekkah, sedangkan Madaniyyah adalah surat atau ayat yang diturunkan di Madinah. Namun pembagian ini bermasalah ketika menemui fakta bahwa ada surat atau ayat yang diturunkan selain di Mekkah dan Madinah. Seperti surat atau ayat yang diturunkan di Tabuk, di Baitul Maqdis, dan lainnya, tidak masuk dalam pembagian. Demikian juga surat atau ayat yang di turunkan di Mekkah namun setelah peristiwa hijrah, konsekuensinya ia dikategorikan sebagai Makiyyah, padahal tidak sesuai dengan ciri dan sifat Makiyyah. Sehingga ada inkonsistensi di sini.

Pendapat ketiga, menggunakan pendekatan mukhathab (sasaran pembicaraan ayat). Makiyyah adalah surat atau ayat yang ditujukan bagi penduduk Mekkah, sedangkan Madaniyyah adalah surat atau ayat yang ditujukan bagi penduduk Madinah. Ulama yang berpegang pada pendapat ini, sebenarnya berpatokan pada kaidah: jika surat atau ayat diawali “yaa ayyuhannaas” (wahai manusia…) maka ia Makiyyah, jika diawali “yaa ayyuhalladzina aamanu” (wahai orang-orang yang beriman…) maka ia Madaniyyah.
Bagaimana para ulama mengetahui Makiyyah dan Madaniyyah?

Bagaimana ulama bisa sampai pada kesimpulan bahwa ayat atau surat ini Makiyyah atau yang itu Madaniyyah? Mereka bertopang pada dua metode pokok:


1. Metode sima’i naqli

Yaitu dalam menentukan Makiyyah dan Madaniyyah mereka melihat kepada riwayat-riwayat dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam yang shahih yang menjelaskan turunnya suatu ayat. Dan juga riwayat dari para sahabat Nabi yang mereka melihat, menyaksikan dan mengetahui secara jelas kapan, dimana, mengapa dan bagaimana ayat-ayat Al Qur’an turun. Demikian juga riwayat-riwayat dari para tabi’in yang mereka bertemu dan berguru kepada para sahabat dan mendapatkan informasi mengenai Al Qur’an dari para sahabat. Metode inilah yang menjadi metode utama dan sumber pengambilan utama untuk mengetahui Makkiyyah dan Madaniyyah.

2. Metode qiyasi ijtihadi


Yaitu pada ayat dan surat yang tidak terdapat riwayat secara tegas yang menjelaskan mengenai waktu, tempat dan kondisi turunnya. Para ulama berpegang pada karakteristik ayat-ayat Makiyyah dan Madaniyyah yang terdapat riwayatnya kemudian meng-qiyaskannya dengan ayat dan surat selainnya. Jika suatu ayat mengandung karakteristik Makiyyah maka disebut sebagai ayat Makiyyah, demikian juga Madaniyyah. Oleh karena itu metode ini bersifat ijtihadiy, artinya bisa jadi antara ulama yang satu dengan yang lain berbeda ijtihadnya dalam menentukan Makiyyah dan Madaniyyah dengan metode ini.

Kaidah dan Karakteristik Makiyyah dan Madaniyyah

Para ulama setelah menelaah ayat-ayat Al Qur’an, mereka menyusun kaidah dan juga menemukan karakteristik yang khas untuk masing-masing surat dan ayat Makiyyah dan Madaniyyah.

Diantara kaidah yang disusun oleh para ulama untuk memudahkan kita mengenal surat dan ayat Makiyyah dan Madaniyyah adalah sebagai berikut:

Kaidah-kaidah Makiyyah:


 1. Setiap surat yang terdapat ayat sajdah maka ia Makiyyah
 2. Setiap surat yang terdapat kata كلا (kalla) maka ia Makiyyah yang hanya terdapat di setelah pertengahan dari Al Qur’an. Terdapat 33 kata كلا (kalla) dalam Al Qur’an yang terdapat dalam 15 surat.

3. Setiap surat yang terdapat “yaa ayyuhannaas” namun tidak terdapat “yaa ayyuhalladzina aamanu” maka ia Makiyyah. Kecuali surat Al Hajj yang terdapat ayat:
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا

    “Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu”
    namun para ulama tetap menganggap surat Al Hajj sebagai surat Makiyyah.

4.Setiap surat yang terdapat kisah para Nabi dan umat terdahulu maka ia surat Makiyyah kecuali Al Baqarah.
5. Setiap surat yang terdapat kisah Nabi Adam dan iblis maka ia Makiyyah kecuali Al Baqarah.
6. Setiap surat yang dibuka dengan huruf tahajji seperti “alif laam miim”, “alif laam raa”, “haa miim” dan semisalnya, adalah surat Makiyyah. Kecuali surat yang dijuluki zahrawain, yaitu Al Baqarah dan Al Imran. Adapun surat Ar Ra’du diperselisihkan apakah ia Madaniyyah atau Makiyyah.

Kaidah-kaidah Madaniyyah:


1. Setiap surat yang terdapat penjelasan tentang ibadah-ibadah wajib dan hukuman hadd, ia Madaniyyah
2. Setiap surat yang terdapat penyebutan kaum munafik maka ia Madaniyyah kecuali Al Ankabut.
3. Setiap surat yang terdapat bantahan terhadap Ahlul Kitab maka ia Madaniyah.

Para ulama juga setelah menelaah ayat dan surat dalam Al Qur’an menemukan bahwa masing-masing Makiyyah dan Madaniyyah memiliki ciri-ciri khusus dari sisi konten (isi) ayat atau surat, yang membedakan keduanya.

Karakteristik isi surat Makiyyah

1. Dakwah kepada tauhid dan beribadah kepada Allah semata, menetapkan risalah kerasulan, menetapkan hari kebangkitan dan ganjaran amalan, penyebutan kabar tentang hari kiamat, neraka, surga, dan bantahan terhadap kaum Musyrikin dengan logika Al Qur’an, serta ayat-ayat kauniyah.
2. Penetapan landasan-landasan umum syariat serta akhlak-akhlak mulia serta penyebutan akhlak-akhlak tercela serta kebiasaan-kebiasaan buruk kaum Musyirikin

3.Kisah tentang para Nabi dan kaum terdahulu serta ganjaran bagi kaum tersebut.
4. Terdapat fawashil (susunan kalimat yang menyerupai sajak) yang pendek-pendek namun dengan ungkapan yang kokoh namun istimewa yang mengena di hati dan menguatkan serta memotivasi pendengarnya.

Karakteristik isi surat Madaniyyah

1. Penjelasan tentang ibadah, muamalah, hukuman hadd, aturan rumah tanga, aturan waris, keutamaan jihad, perbaikan masyarakat, perkara kenegaraan dalam keadaan tenang dan perang, serta kaidah-kaidah hukum.
2. Bantahan dan sanggahan untuk Ahlul Kitab, yaitu Yahudi dan Nasrani. Ajakan bagi mereka untuk masuk Islam, penjelasan bahwa mereka telah menyelewengkan kitab-kitab Allah, penyimpangan mereka dari kebenaran, dan penyelisihan mereka terhadap kebenaran setelah adanya bukti dan penjelasan yang jelas.
3. Membahas tabiat kaum munafik dan menjelaskan bahayanya mereka bagi agama
4. Penyebutan ungkapan-ungkapan pendek secara sering dan berulang dalam rangka menegaskan dan menetapkan syariat dan menjelaskan tujuan-tujuannya.

Pada artikel selanjutnya akan disebutkan surat mana saja yang Makiyyah dan mana saja yang Madaniyyah, insya Allah

[bersambung]

***

Rujukan: Mabahits fii Ulumil Qur’an, Syaikh Manna’ Khalil Al Qathan, hal. 51 – 64, cetakan Mansyurat Al ‘Ashr Al Hadits


Sumber: https://muslim.or.id/28241-mengenal-makiyyah-dan-madaniyyah-1.html


Inilah Sejarah Awal Mula Adanya THR di Indonesia

inilah-sejarah-awal-mula-adanya-thr-di-indonesia
Om-Leehin.My.Id -- Salah satu topik yang paling banyak dibicarakan menjelang akhir Ramadan, tak lain adalah Tunjangan Hari Raya alias THR.

Tahun ini, masyarakat Indonesia patut bersenang hati. Selain karena gaji ke-13 akan dibayarkan sekaligus pada saat pembayaran THR, aturan baru bagi pemerintah untuk memberikan THR bagi karyawan swasta yang baru bekerja satu bulan sudah tentu cukup melegakan.

THR mungkin telah menjadi tradisi di Indonesia. Di negara lain, mungkin tidak berlaku pemberian Tunjangan Hari Raya bagi karyawan menjelang lebaran. Namun omong-omong, sebenarnya sejak kapan tradisi THR mulai berlaku?

Menurut berbagai sumber, pemberian uang tunjangan menjelang Lebaran di Indonesia dimulai pertama kali pada era kabinet Soekiman Wirjosandjojo dari Partai Masyumi. Salah satu program kerja kabinet Soekiman yakni meningkatkan kesejahteraan pamong pradja.

Pada masa itu, pemberian tunjangan pada pegawai yakni sebesar Rp 125 -Rp 200 yang setara dengan Rp 1,1 juta-Rp 1,75 juta pada masa sekarang. Tak hanya itu, tunjangan juga diberikan dalam bentuk tunjangan beras tiap bulannya.

Nah, lantaran Tunjangan Hari Raya hanya diberikan pada para pegawai negeri, kaum buruh pun protes. Pada tanggal 13 Februari 1952, kaum buruh menggelar mogok sambil menuntut pemerintah untuk memberikan tunjangan juga bagi mereka. Namun, saat itu pemerintah tak langsung meloloskan begitu saja permintaan kaum buruh.

Lantas, mengapa THR menjadi kebijakan kabinet Soekiman pada masa itu? Ternyata hal ini dikarenakan sebagian besar pegawai negeri pada masa itu terdiri dari para priayi, menak, kaum ningrat, dan lainnya. Dengan harapan mengambil hati pegawai itulah THR diberikan. Nah, sejak itulah THR jadi anggaran rutin pemerintah hingga sekarang.

Sumber : http://ramadan.liputan6.com/

Perang Badar pada 17 Ramadan 2 Hijriah dipimpin Rasulullah SAW

Om-Leehin.My.Id - Perang ini merupakan peperangan antara umat Islam yang beriman dengan kaum kafir yang terjadi di Lembah Badar dan menjadi perang pertama yang dilakukan umat muslim setelah hijrah ke Madinah. Peristiwa yang terjadi pada 17 Ramadan tahun ke 2 Hijriyah ini dipimpin langsung oleh Rasulullah SAW.

F:\Mine\Blog\LIHIN\Om-Leehin.My.id\perang-badar-pada-17-ramadan-2-hijriah-dipimpin-Rasulullah-SAW.png

Setelah umat Islam mengalami intimidasi, kesulitan dan duka, mereka meninggalkan kampung halaman mereka di Mekkah. Rasulullah SAW akhirnya mengadakan rencana penyergapan kafilah Quraisy, namun rencana dan persiapan matang tersebut gagal. Kafilah dagang yang dipimpin oleh Abu Sufyan bin Harb berhasil melarikan diri.

Nabi bersama para sahabatnya keluar dari Madinah pada tanggal 12 Ramadan tahun 2 Hijriyah. Beliau tidak mewajibkan setiap kaum muslimin untuk ambil bagian menuju Badar, karena keberangkatan ini hanya bertujuan untuk menyergap kafilah Quraisy, bukan untuk berperang. Namun sayang, rencana ini kembali gagal karena berhasil diketahui Abu Sufyan.

Mengetahui pergerakan umat Islam dari Madinah, Quraisy segera menyiapkan pasukan besar untuk berperang. Mereka membawa 1300 pasukan. 600 di antaranya pasukan berbaju besi. Dan 100 di antaranya penunggang kuda.

Mereka juga membawa unta dalam jumlah yang besar. Sementara kaum muslimin hanya berjumlah 314 orang. Ada yang mengatakan 319 orang, 83 di antaranya adalah kaum Muhajirin.

Rasulullah SAW bersama sekitar 300 muslimin berhasil mengalahkan pasukan musyrikin Mekkah yang berjumlah lebih dari 1000 orang. Sebanyak 70 orang kaum musyrikin tewas di medan Badar.

Di antara mereka adalah tokoh-tokoh Quraisy, seperti Abu Jahal, Utbah bin Rabiah, Syaibah bin Rabiah, Umayyah bin Khalaf, Al-Ash bin Hsyam bin al-Mughirah. Dari pihak kaum muslimin, sebanyak 14 orang mati syahid, 6 orang kaum Muhajirin dan 8 orang kaum Anshar.

Kemenangan ini merupakan hadiah dari Allah atas kesabaran orang-orang yang beriman dalam memberantas kebatilan dan kemusyrikan.

Sumber : http://news.detik.com

Asyik ... Besok THR dan Gaji ke-13 PNS Cair

Om-Leehin.My.Id -- Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro menyatakan pemerintah akan memberikan gaji ke-14 atau Tunjangan Hari Raya (THR) kepada Pegawai Negara Sipil (PNS) mulai Kamis (23/6/2016).

Hal tersebut setelah ditandatanganinya regulasi mengenai pembayaran THR dan gaji ke-13, yaitu Peraturan Pemerintah (PP) dan Peraturan Menteri Keuangan (PMK)

"‎Sudah terbit empat PP dan empat PMK sebagai landasan pembayaran THR dan gaji ke-13," kata dia di Kementerian Keuangan Jakarta, Rabu (23/6/2016).

Dia menerangkan besaran THR yang diberikan meliputi gaji pokok ditambah tunjangan keluarga, tunjangan jabatan atau tunjangan umum. Pembayaran THR tidak termasuk tunjangan kinerja.

‎Sementara, dia mengatakan pemerintah juga menimbang perlunya meningkatkan daya beli masyarakat. Maka dari itu, pemerintah juga akan memberikan sebagian gaji ke-13 berbarengan dengan THR.

"Sebenarnya gaji ke-13 dikaitkan dengan tahun masuk ajaran baru. Karena kita melihat perlu meningkatkan daya beli di Juni, maka sebagian gaji ke-13 akan juga dibayarkan mulai hari-hari ini," jelas dia.

Dia mengatakan gaji ke 13 yang diberikan berbarengan dengan THR ialah gaji dan tunjangan. Sementara, tunjangan kinerja yang terdapat pada gaji ke 13 akan diberikan pada bulan depan atau tepat pada 11 Juli.

"Intinya mulai besok‎, hari Kamis, secara bertahap sudah dapat dilakukan pembayaran gaji 13 dan THR," kata dia.

Sumber : http://bisnis.liputan6.com

Rahasia Infaq Di Bulan Ramadhan


Dalam hadits Ibnu Abbas disebutkan:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ وَكَانَ جِبْرِيلُ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling dermawan, dan beliau bertambah kedermawanannya di bulan Ramadlan ketika bertemu dengan malaikat Jibril, dan Jibril menemui beliau di setiap malam bulan Ramadlan untuk mudarosah (mempelajari) Al Qur’an” (HR Al Bukhari).

Hadits tersebut memberikan faidah kepada kita bahwa kedermawanan hendaknya lebih di tingkatkan lagi di bulan Ramadlan. Mengapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lebih meningkatkan kedemawanan di bulan Ramadlan secara khusus? Al Hafidz Ibnu Rajab menyebutkan banyak faidah mengapa demikian.

Beliau berkata, “Meningkatnya kedermawanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di bulan Ramadlan secara khusus memberikan faidah yang banyak, diantaranya:

Pertama: Bertepatan dengan waktu yang mulia dimana amalan dilipatkan gandakan pahalanya bila bertepatan dengan waktu yang mulia.

Kedua: Membantu orang-orang yang berpuasa, sholat malam, dan berdzikir dalam ketaatan mereka, sehingga orang yang membantu itu mendapatkan pahala seperti pahala orang-orang yang dibantu. Sebagaimana orang yang memberikan persiapan perang kepada orang lain mendapat pahala seperti orang yang berperang.

Ketiga: Allah amat dermawan kepada hamba-hamabNya di bulan Ramadlan dengan memberikan kepada mereka rahmat, ampunan dan kemerdekaan dari api Neraka, terutama di malam lailatul qodar. Allah merahmati hamba-hambaNya yang kasih sayang, sebagaimana Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

إِنَّمَا يَرْحَمُ اللَّهُ مِنْ عِبَادِهِ الرُّحَمَاءَ

“Sesungguhnya Allah hanyalah menyayangi hamba-hambaNya yang penyayang” (HR Bukhari dan Muslim).

Barang siapa yang dermawan kepada hamba-hamba Allah, maka Allahpun akan dermawan kepadanya dengan karuniaNya, dan balasan itu sesuai dengan jenis amalan.

Keempat: Menggabungkan puasa dan sedekah adalah sebab yang memasukkan ke dalam surga, sebagaimana dalam hadits Ali Radliyallahu ‘anhu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ فِي الْجَنَّةِ غُرَفًا تُرَى ظُهُورُهَا مِنْ بُطُونِهَا وَبُطُونُهَا مِنْ ظُهُورِهَا فَقَامَ أَعْرَابِيٌّ فَقَالَ لِمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ لِمَنْ أَطَابَ الْكَلَامَ وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ وَأَدَامَ الصِّيَامَ وَصَلَّى لِلَّهِ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَام

“Sesungguhnya di dalam surga terdapat kamar-kamar yang luarnya terlihat dari dalamnya, dan dalamnya terlihat dari luarnya.” Seorang arab badui berdiri dan berkata, “Untuk siapa wahai Rasulullah?” Rasulullah bersabda, “Untuk orang yang membaguskan perkatannya, memberi makan, senantiasa berpuasa, dan shalat malam karena Allah sementara manusia sedang terlelap tidur” (HR At Tirmidzi).

Amalan-amalan yang disebutkan dalam hadits ini semuanya ada dalam bulan Ramadlan, maka terkumpul pada seorang mukmin puasa, qiyamullail, shodaqoh, dan berbicara baik karena orang yang sedaang berpuasa dilarang melakukan perbuatan sia-sia dan kotor.

Kelima: Menggabungkan antara puasa dan sedekah lebih memberikan kekuatan yang lebih untuk menghapus dosa dan menjauhi api Neraka, terlebih bila ditambah sholat malam. Dalam hadits yang shahih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan bahwa puasa adalah perisai. Beliau juga mengabarkan bahwa shodaqoh itu dapat memadamkan kesalahan sebagaimana air dapat memadamkan api.

Keenam: Orang yang berpuasa tentunya tidak lepas dari kekurangan dan kesalahan, maka shodaqoh dapat menutupi kekurangan dan kesalahan tersebut, oleh karena itu diwajibkan zakat fithr di akhir Ramadlan sebagai pensuci bagi orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan kata-kata yang kotor.

Faidah lainnya adalah yang disebutkan oleh Imam Asy Syafi’i, beliau berkata, “Aku suka bila seseorang meningkatkan kedermawanan di bulan Ramadlan karena mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, juga karena kebutuhan manusia kepada perkara yang memperbaiki kemashlatan mereka, dan karena banyak manusia yang disibukkan dengan berpuasa dari mencari nafkah”.

***

Penulis: Ust. Abu Yahya Badrusalam, Lc.

Artikel Muslim.or.id

Sumber: https://muslim.or.id/28225-rahasia-infaq-di-bulan-ramadhan.html

Hadits-Hadits Dhaif Seputar Bulan Ramadhan

Om-Leehin.My.Id -- Cukup banyak hadits shahih dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam yang menjelaskan keutamaan bulan Ramadhan dan amal-amal shalih di dalamnya. Namun, banyak pula hadits-hadits seputar keutamaan bulan Ramadhan yang dha’if (lemah)1, maka kami pandang perlunya dipaparkan sekilas tentang beberapa hadits dha’if tersebut, yang telah banyak beredar di masyarakat, dan mencakup segala jenisnya.

Hadits dha’if dampak negatifnya cukup besar pada masyarakat, disebabkan adanya keyakinan orang-orang yang mengamalkannya bahwa hadits tersebut benar-benar berasal dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, baik berupa sabda atau perbuatan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, padahal kenyataannya Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam tidak pernah mengamalkan atau mengucapkannya. Karena inilah, maka kami anggap perlu menjelaskan hakikat hadits-hadits lemah tersebut, agar kita waspada selalu terhadap syariat yang tidak benar adanya dari Nabi kita Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam. Di antara hadits-hadits dha’if yang cukup masyhur dan sering dibawakan oleh banyak khatib dan penceramah di bulan Ramadhan tersebut adalah beberapa hadits berikut ini:

1. Hadits Anas bin Malik radhiallahu’anhu, beliau berkata:

كانَ النَّبيُّ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ إذا دخلَ رجَبٌ ، قالَ : اللَّهمَّ بارِكْ لَنا في رجَبٍ وشَعبانَ ، وبارِكْ لَنا في رمَضانَ

Adalah Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam jika memasuki bulan Rajab, beliau berdoa, “Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan berkahi kami (pula) di bulan Ramadhan”.

Hadits ini dha’if (lemah) atau munkar2.

Dikeluarkan oleh al-Imam Ahmad dalam Musnadnya (4/180 nomor 2346), dan lain-lain. Pentahqiq Musnad al-Imam Ahmad, Syaikh Syu’aib al-Arnauth menyatakan bahwa sanadnya dha’if. Dan hadits ini dilemahkan pula oleh al-Imam al-Albani t dalam kitabnya Misykatul Mashabih (1/432) dan Dha’iful Jami’ ash-Shaghir (4395).

2. Hadits Mu’adz bin Zuhrah rahimahullah (seorang tabi’i), telah sampai kepadanya kabar bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam ketika berbuka puasa beliau berdoa:

اللهم لك صمت وعلى رزقك أفطرت

“Ya Allah, untukmu aku berpuasa dan atas rizki-Mu aku berbuka puasa”.

Hadits ini mursal dan dha’if.

Dikeluarkan oleh al-Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya (2358), dan lain-lain.

Hadits ini lemah dengan sebab irsal, yaitu terputusnya sanad antara Mu’adz bin Zuhrah dan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Lihat penjelasan terperincinya pada kitab Dha’iful Jami’ ash-Shaghir (4349) dan Irwa-ul Ghalil (4/38 nomor 919).

Hadits ini diriwayatkan pula dari sahabat Anas bin Malik radhiallahu’anhu dan Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu’anhuma. Namun, kedua-duanya pula hadits dha’if.

Al-Imam asy-Syaukani rahimahullah menjelaskan dalam kitabnya Nailul Authar (8/340-341):

“Hadits Mu’adz (bin Zuhrah) mursal, karena dia tidak bertemu dengan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Dan hadits serupa telah diriwayatkan oleh ath-Thabrani di dalam al-Mu’jam al-Kabir dan ad-Daruquthni; dari hadits Ibnu ‘Abbas dengan sanad yang dha’if… dan ath-Thabrani (meriwayatkan) dari Anas, beliau berkata, “Adalah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam apabila berbuka puasa beliau mengucapkan:

بسم الله اللهم لك صمت وعلى رزقك أفطرت

“Dengan nama Allah, ya Allah untukmu aku berpuasa dan atas rizki-Mu aku berbuka puasa”.

Namun sanadnya lemah (pula). Karena di dalamnya terdapat Dawud bin az-Zabarqan, dan dia (periwayat) matruk (yang ditinggalkan haditsnya)”3.

Syaikh Abu ‘Amr Abdullah Muhammad al-Hammadi berkata:

“Ketahuilah! Semoga Allah memberkahi Anda; bahwa sesungguhnya doa ini telah diriwayatkan dengan berbagai lafazh (redaksi yang mirip antara satu hadits dengan yang lainnya), yang seluruhnya lemah dan tidak dapat dijadikan hujjah (dalil). Sehingga tidak bisa digunakan untuk beribadah, dan tidak boleh (seseorang) beribadah dengannya, disebabkan kelemahan sanad-sanadnya”4.

Lalu, apa doa berbuka puasa yang dapat kita amalkan?

Doanya adalah:

ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاء الله

/Dzahabaz zhamaa-u wabtalatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insyaa Allah/

“Telah hilang dahaga, telah basah urat-urat, dan telah tetap pahala, insya Allah”.

Hadits ini hasan, dikeluarkan oleh Abu Dawud (2357), ad-Daruquthni dalam Sunan-nya (2/185 nomor 25), dan lain-lain; dari Abdullah bin Umar. Dan al-Imam ad-Daruquthni mengatakan, “Sanad-nya hasan”. Al-Imam asy-Syaukani rahimahullah dalam Nailul Authar (8/341) menjelaskan:

“(Hadits ini) diriwayatkan oleh Abu Dawud, an-Nasa-i, ad-Daruquthni, dan al-Hakim; dari hadits Ibnu Umar

dengan tambahan lafazh:

ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاء الله

“Telah hilang dahaga, telah basah urat-urat, dan telah tetap pahala, insya Allah”.

Ad-Daruquthni mengatakan, “Sanad-nya hasan”.

3. Hadits Abu Hurairah radhiallahu’anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

من أفطر يوما من رمضان من غير رخصة لم يقضه وإن صام الدهر كله

“Barangsiapa berbuka puasa satu hari di bulan Ramadhan tanpa rukhshah (keringanan) yang diizinkan oleh Allah; niscaya ia tidak akan dapat menggantikannya (walaupun dengan berpuasa) sepanjang masa”.

Hadits ini dha’if. Hadits ini dikeluarkan dengan lafazh seperti di atas oleh Abu Dawud dalam Sunan-nya ( 2396). Dan lafazh serupa diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (723), an-Nasa-i dalam as-Sunanul Kubra (3265), Ibnu Majah (1672), Ahmad (14/554 nomor 9012), dan lain-lain. Al-Imam al-Albani t menjelaskan dalam kitabnya Tamamul Minnah fit Ta’liqi ‘ala Fiqhis Sunnah (halaman 396): “Hadits ini dha’if (lemah), dan al-Bukhari telah mengisyaratkan5 dengan perkataannya yudzkaru (yakni; telah disebutkan). Dan telah dilemahkan pula oleh Ibnu Khuzaimah, al-Mundziri, al-Baghawi, al-Qurthubi, adz-Dzahabi, ad-Damiri sebagaimana yang telah dinukilkan oleh al-Munawi, dan al-Hafizh Ibnu Hajar dan beliau menyebutkan tiga penyakit hadits ini; al-idhthirab, al-jahalah, dan al-inqitha’. Silahkan merujuk ke Fat-hul Bari (4/161)…”. Lihat pula Dha’if Abi Dawud (2/273-274), dan Dha’if at-Targhib wat-Tarhib (1/152 nomor 605), dan Dha’iful Jami’ ash-Shaghir (5462).

4. Hadits Abu Hurairah radhiallahu’anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

يقولُ اللهُ عزَّ وجلَّ : إنَّ أحَبَّ عبادي إلَيَّ أسرَعُهم فِطْرًا

“Allah berfirman: Sesungguhnya di antara hamba-hambu-Ku yang paling Aku cintai adalah yang paling segera berbuka puasa”

Hadits ini dha’if, dengan sebab adanya periwayat dha’if dalam sanadnya. Dikeluarkan oleh at-Tirmidzi (700), Ahmad (12/182 nomor 7241), dan lain-lain. Lihat Dha’iful Jami’ ash Shaghir (4041).

Dan cukuplah bagi kita hadits shahih dari sahabat Sahl bin Sa’ad as-Sa’idi radhiallahu’anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

لا يزالُ النَّاسُ بخَيرٍ ما عجَّلوا الفِطرَ عجِّلوا الفطرَ

“Manusia akan senantiasa dalam keadaan baik selama mereka menyegerakan berbuka puasa”.

Dikeluarkan oleh al-Bukhari (1957), dan Muslim (2/771 nomor 1098).

5. Hadits Anas bin Malik radhiallahu’anhu, beliau berkata:

سُئِلَ النبيُّ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ أيُّ الصومِ أفضلُ بعدَ رمضانَ قال شعبانُ لتعظيمِ رمضانَ قال فأيُّ الصدقةِ أفضلُ قال الصدقةُ في رمضانَ

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam ditanya: Puasa apa yang paling utama setelah Ramadhan? Beliau bersabda, “(Puasa) Sya’ban untuk mengagungkan Ramadhan”. Kemudian dikatakan kepada beliau: Sedekah apa yang paling utama?Beliau bersabda, “Sedekah di bulan Ramadhan”.

Hadits ini dha’if, dengan sebab adanya periwayat dha’if dan bermasalah dalam sanadnya.

Dikeluarkan oleh at -Tirmidzi (663), dan lain-lain. Lihat penjelasan terperincinya pada kitab Irwa-ul Ghalil (889), dan Dha’iful Jami’ ash-Shaghir (1023).

Dan cukuplah pula bagi kita hadits shahih dari sahabat Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu’anhuma, beliau berkata:

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم أجود الناس ، وكان أجود ما يكون في رمضان حين يلقاه جبريل ، وكان يلقاه في كل ليلة من رمضان فيُدارسه القرآن ، فالرسول الله صلى الله عليه وسلم أجودُ بالخير من الريح المرسَلة

Adalah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam orang yang paling dermawan, dan kedermawanan beliau paling tinggi pada bulan Ramadhan. Sesungguhnya Jibril ‘alaihissalam berjumpa dengan beliau pada setiap tahunnya di bulan Ramadhan hingga berakhir, dan beliau membacakan (memperdengarkan) al-Quran kepada Jibril. Maka jika Jibril berjumpa dengannya, Rasulullah `adalah lebih mulia (dermawan) dari angin yang berhembus. Dikeluarkan oleh al-Bukhari (6, 1902, 3220, 3554, 4997), dan Muslim (4/1803 nomor 2308), dan lafazh hadits di atas dalam Shahih Muslim.

6. Hadits Abu Hurairah radhiallahu’anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

أول شهر رمضان رحمة ووسطه مغفرة وآخره عتق من النار

“Permulaan bulan Ramadhan adalah rahmat (kasih sayang Allah), pertengahannya adalah maghfirah (ampunan Allah), dan akhirnya adalah pembebasan dari api neraka”.

Hadits ini dha’ifun jiddan (lemah sekali), atau munkar6. Tentang hadits ini, al-Imam al-Albani tmenjelaskan dalam kitabnya Silsilatul Ahaditsi adh-Dha’ifah wal Maudhu’ah (4/70 nomor 1569): “Dikeluarkan oleh al-‘Uqaili dalam ad-Dhu’afa (172), dan Ibnu ‘Adi (1/165), dan al-Khathib dalam al-Mudhih (2/77), dan ad-Dailami (1/1/10-11), dan Ibnu ‘Asakir (8/506/1); dari Sallam bin Sawwar, dari Maslamah bin ash-Shalt, dari az-Zuhri, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah; beliau berkata, Rasulullah `bersabda… dan kemudian beliau sebutkan haditsnya. Dan al-‘Uqaili berkata, “Tidak ada asal-usulnya dari hadits az-Zuhri”. Saya (al-Albani) katakan bahwa Sallam bin Sulaiman bin Sawwar, dia menurutku Munkarul Hadits (haditsnya munkar), sedangkan Maslamah tidak dikenal. Demikianlah yang juga disebutkan oleh adz-Dzahabi. Adapun Maslamah, maka Abu Hatim juga telah berkata tentangnya, “Matrukul Hadits (haditsnya ditinggalkan)”, sebagaimana disebutkan pada biografi beliau dalam kitab al-Mizan…”. Lihat pula Silsilatul Ahaditsi adh-Dha’ifah wal Maudhu’ah (2/262-264 nomor 871).

7. Hadits Abu Mas’ud al-Ghifari radhiallahu’anhu, beliau berkata:

سمِعتُ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم ذاتَ يومٍ وأهلَّ رمضانُ فقال لو يعلمُ العبادُ ما رمضانُ لتمنَّت أمَّتي أن تكونَ السَّنةُ كلُّها رمضانَ فقال رجلٌ من خزاعةَ يا نبيَّ اللهِ حدِّثْنا فقال إنَّ الجنَّةَ لتُزيَّنَ لرمضانَ من رأسِ الحوْلِ إلى الحوْلِ فإذا كان أوَّلُ يومٍ من رمضانَ هبَّت ريحٌ من تحتِ العرشِ فصفَّقت ورقُ أشجارِ الجنَّةِ فتنظرُ الحورُ العينُ إلى ذلك فيقلن يا ربَّنا اجعلْ لنا من عبادِك في هذا الشَّهرِ أزواجًا نقرُّ بهم وتقرُّ أعينُهم بنا قال فما من عبدٍ يصومُ يومًا من رمضانَ إلَّا زُوِّج زوجةً من الحورِ العينِ في خيمةٍ من درَّةٍ كما نعت اللهُ عزَّ وجلَّ { حُورٌ مَقْصُورَاتٌ فِي الْخِيَامِ } على كلِّ امرأةٍ منهنَّ سبعون حُلَّةً ليس منها حُلَّةٌ على لونِ الأخرَى وتُعطَى سبعين لونًا من الطِّيبِ ليس منه لونٍ على ريحِ الآخرِ لكلِّ امرأةٍ منهنَّ سبعون ألفَ وصيفةٍ لحاجتِها وسبعون ألفَ وصيفٍ مع كلِّ وصيفٍ صفحةٌ من ذهبٍ فيها لونُ طعامٍ يجِدُ لآخرِ لُقمةٍ منها لذَّةً لم يجدْه لأوَّلِه ولكلِّ امرأةٍ منهنَّ سبعون سريرًا من ياقوتةٍ حمراءَ على كلِّ سريرٍ سبعون فراشًا بطائنُها من إستبرقٍ فوق كلِّ فراشٍ سبعون أريكةً ويُعطَى زوجُها مثلَ ذلك على سريرٍ من ياقوتٍ أحمرَ موشَّحًا بالدُّرِّ عليه سُوران من ذهبٍ هذا بكلِّ يومٍ صامه من رمضانَ سوَى ما عمِل من الحسناتِ

Aku mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pada suatu hari menjelang Ramadhan, beliau bersabda, “Seandainya para hamba tahu apa yang terdapat pada bulan Ramadhan, niscaya umatku berangan-angan agar satu tahun seluruhnya bulan Ramadhan”. Lalu seorang dari Khuza’ah berkata, “Wahai Nabi Allah! Kabarilah kepada kami (keutamaan Ramadhan tersebut)!”.

Maka Rasulullah pun bersabda, “Sesungguhnya surga dihiasi untuk (menghadapi) bulan Ramadhan dari permulaan tahun ke tahun (berikutnya). Maka apabila masuk hari pertama di bulan Ramadhan, bertiuplah angin dari bawah ‘Arsy, dan berdesirlah dedaunan pohon-pohon surga. Kemudian para bidadari melihatnya , dan mereka berkata, Wahai Rabb kami, jadikanlah untuk kami dari hamba -hamba-Mu yang shalih di bulan ini para suami yang kami berbahagia dengan mereka dan mereka pun berbahagia dengan kami”.

Beliau pun kembali bersabda, “Maka tidaklah seorang hamba pun berpuasa satu hari di bulan Ramadhan, melainkan ia pasti akan dinikahkan dengan isteri dari kalangan bidadari di dalam kemah yang terbuat dari mutiara, sebagaimana Allah sifatkan mereka dalam firman-Nya: (Bidadari-bidadari) yang jelita, putih bersih, dipingit dalam rumah (kemah). [QS. Ar-Rahman: 72]. Setiap orang dari bidadari-bidadari tersebut memiliki tujuh puluh jubah, yang masing-masingnya berwarna berbeda dari warna jubah yang lainnya. Para bidadari itu pun diberi tujuh puluh jenis parfum, yang masing-masingnya beraroma berbeda dari yang lainnya. Mereka pun memiliki tujuh puluh ribu pelayan, yang masing-masing dari pelayan tersebut membawa nampan dari emas yang di atasnya terdapat makanan yang setiap suapan dari makanan tersebut memiliki kelezatan yang berbeda dari kelezatan suapan-suapan berikutnya. Kemudian para bidadari itu pun memiliki tujuh puluh ranjang terbuat dari permata berwarna merah, yang di atas setiap ranjang tersebut terdapat permadani yang bantalannya terbuat dari sutera . Dan di atas setiap permadani tersebut terdapat dipan-dipan. Demikianlah para suami mereka pun diberi hal yang sama. Mereka berada di atas ranjang yang terbuat dari permata merah yang dihiasi oleh mutiara, dan berpagarkan emas. Ini adalah balasan untuk satu harinya di bulan Ramadhan, belum termasuk pahala lainnya dari amal-amal baik yang ia kerjakan”.

Hadits ini maudhu’ (palsu)7

Syaikh Abu ‘Amr Abdullah Muhammad al-Hammadi berkata8:

“(Hadits ini) dikeluarkan oleh Abu Ya’la dalam Musnad-nya [sebagaimana dalam al-Matholibul ‘Aliyah (1/396) (1032)], dan asy-Syasyi dalam Musnad-nya (2/277) (852), dan Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya (3/160) (1886), dan al-Ashbahani dalam at-Targhib wat Tarhib (2/356) (1765), dan Ibnu Abid Dun-ya dalam Fadha-ilu Ramadhan (halaman 49) (22), dan al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman (3/313) (3634) dan dalam Fadha-ilul Awqat (halaman 158) (46), dan Ibnul Jauzi dalam al-Maudhu’at (2/547) (1119); dari jalan Jarir bin Ayyub, dari asy-Sya’bi, dari Nafi’ bin Burdah, dari Abdullah bin Mas’ud (atau dari Abu Mas’ud), ia berkata, Aku mendengar Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda di permulaan bulan Ramadhan… kemudian menyebutkan haditsnya”.

Hadits ini terkadang diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud, dan terkadang dari Abu Mas’ud al-Ghifari. Oleh karena itu, al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam kitabnya al-Matholibul ‘Aliyah (1/397) setelah beliau membawakan hadits ini, “Dan Ibnu Mas’ud bukanlah al-Hudzali yang masyhur, akan tetapi dia adalah al-Ghifari, (sahabat) yang lain”.

Dan yang menyebabkan hadits ini dihukumi palsu adalah karena di dalam sanadnya terdapat perawi yang bernama Jarir, yaitu Jarir bin Ayyub bin Abi Zur’ah bin ‘Amr bin Jarir al-Bajali al-Kufi. Seorang perawi hadits yang dihukumi oleh para ulama hadits; munkarul hadits (haditsnya munkar), atau dha’iful hadits (haditsnya lemah), atau bahkan pemalsu hadits9.

Al-Imam Ibnul Jauzi rahimahullah berkata dalam kitabnya al-Maudhu’at (2/549): “Hadits ini palsu (dipalsukan) atas nama Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, dan yang tertuduh memalsukannya adalah Jarir bin Ayyub”.

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani rahimahullah mengatakan dalam kitabnya al-Matholibul ‘Aliyah (1/397): “Jarir bin Ayyub menyendiri dalam (periwayatan) hadits ini, sedangkan dia sangat lemah sekali”.

Dan al-Imam asy-Syaukani rahimahullah menjelaskan pula dalam kitabnya al-Fawa-idul Majmu’ah (halaman 88): “Diriwayatkan oleh Abu Ya’la dari Ibnu Mas’ud secara marfu’ (sampai kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam), dan hadits ini palsu. Penyakitnya adalah Jarir bin Ayyub”.

8. Hadits Anas bin Malik radhiallahu’anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

مَنْ تأمَّل خَلْقَ امرأةٍ حتى يتبيَّنَ له حجمُ عظامِها من ورائِها وهو صائمٌ فقد أفطرَ

“Barangsiapa memperhatikan bentuk (rupa) seorang wanita hingga jelas baginya bentuk tulangnya dari balik pakaiannya sedangkan ia sedang berpuasa; maka batal (puasanya)”.

Hadits ini maudhu’ (palsu)10.

Hadits ini dikeluarkan oleh Ibnu ‘Adi dalam kitabnya al-Kamil fi adh-Dhu’afa (3/204), dan melalui jalannya Ibnul Jauzi mengeluarkan dalam kitabnya al-Maudhu’at (2/559), dan lain-lain; dari jalan al-Hasan bin ‘Ali al-‘Adawi, ia berkata: Telah mengkhabarkan kepada kami Kharasy bin Abdillah seorang pelayan Anas bin Malik, ia berkata: Telah mengkhabarkan kepada kami Anas bin Malik, beliau berkata: Rasulullah ` bersabda… kemudian menyebutkan haditsnya.

Pada sanad hadits ini terdapat dua orang perawi yang bermasalah, yaitu al-Hasan bin ‘Ali al-‘Adawi, ia seorang pemalsu dan pencuri hadits. Dan orang yang kedua adalah Kharasy bin Abdillah, seorang perawi yang majhul (tidak diketahui keberadaan periwayatannya) dan tidak dikenal.

Al-Imam Ibnul Jauzi t berkata dalam kitabnya al-Maudhu’at (2/559): “Ini adalah hadits palsu, dalam (sanadnya) terdapat dua orang pendusta, yang pertama; al-‘Adawi, dan yang kedua; Kharasy”.

9. Hadits Salman bin ‘Amir adh-Dhabbi radhiallahu’anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

الصائم في عبادة و إن كان راقدا على فراشه

“Orang yang berpuasa dalam (keadaan) beribadah, walaupun ia tidur di atas ranjangnya”.

Hadits ini dha’if atau dha’ifun jiddan (lemah sekali)11.

Hadits ini dikeluarkan oleh Tammam dalam Fawa-id-nya (2/49) (1109) dari jalan; Hasyim bin Abi Hurairah al-Himshi, dari Hisyam bin Hassan, dari Ibnu Sirin, dari Salman bin ‘Amir adh-Dhabbi, dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam.

Sanad hadits ini dha’if, disebabkan adanya beberapa perawi yang majhul dan dha’if, seperti Hasyim bin Abi Hurairah al-Himshi dan Hisyam bin Hassan yang telah disebutkan di atas.

10. Hadits Abu Hurairah radhiallahu’anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

الصومُ نِصفُ الصَّبرِ

“Puasa adalah setengah kesabaran…”.

Hadits ini dha’if (lemah)12.

Al-Imam al-Albani rahimahullah menjelaskan dalam kitabnya Silsilatul Ahaditsi adh-Dha’ifah wal Maudhu’ah (8/281 nomor 3811):

“Dikeluarkan oleh Ibnu Majah (1/531), dan al-Baihaqi dalam asy-Syu’ab (3/292/3577, 3578), dan al-Qadha’i dalam Musnad asy-Syihab (1/13); dari Musa bin ‘Ubaidah, dari Jahman, dari Abu Hurairah secara marfu’ (sampai Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam). Dan ini sanad yang dha’if, disebabkan Musa bin ‘Ubaidah, dan ia telah disepakati atas kelemahannya”.

Demikianlah beberapa hadits dari sekian banyak hadits lemah dengan segala jenisnya yang disandarkan kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam tentang seputar bulan Ramadhan, namun tidak sah dan tidak benar asalnya dari beliau Shallallahu’alaihi Wasallam.

Al-Imam Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah (181 H) telah berkata:

في صحيح الحديث شغل عن سقيمه

“Pada sebuah hadits yang shahih terdapat sesuatu yang menyibukkan dari (beramal dengan) hadits lemah”13.

Mudah-mudahan tulisan ringkas ini bermanfaat, menambah ilmu, iman dan amal shalih kita semua.

Wallahu A’lamu bish Shawab.

***

Penulis: Ust. Arief Budiman, Lc.

Artikel Muslim.or.id

____

  1.     Lihat kitab Tahdzirul Khillan min Riwayatil Ahaditsi adh-Dha’ifati Hawla Ramadhan, karya Abu ‘Amr Abdullah Muhammad al-Hammadi, cetakan Daar Ibnu Hazm, cetakan ke-1, tahun 1423 H / 2002 M, Beirut, Libanon ↩
  2.     Lihat kitab Fadha-ilu Syahri Rajab, karya al-Imam al-Hafizh Abu Muhammad al-Hasan bin Muhammad bin al-Hasan al-Khallal t (352-439 H), halaman 45, tahqiq Abu Yusuf Abdurrahman bin Yusuf bin Abdurrahman Alu Muhammad, cetakan Daar Ibnu Hazm, cetakan ke-1, tahun 1416 H / 1996 M, Beirut, Libanon ↩
  3.     Lihat pula at-Talkhishul Habir (2/202) karya al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani rahimahullah, dan Dha’iful Jami’ ash-Shaghir (631 dan 4350) karya al-Imam al-Albani rahimahullah ↩
  4.     Lihat kitab Tahdzirul Khillan min Riwayatil Ahaditsi adh-Dha’ifati Hawla Ramadhan, halaman 74 ↩
  5.     Dalam Shahih-nya, sebelum hadits ke-1935 ↩
  6.     Lihat kitab Tahdzirul Khillan min Riwayatil Ahaditsi adh-Dha’ifati Hawla Ramadhan, halaman 146 ↩
  7.     Lihat kitab Tahdzirul Khillan min Riwayatil Ahaditsi adh-Dha’ifati Hawla Ramadhan, halaman 151-155. Lihat pula Dha’if at-Targhib wat-Tarhib (1/149 nomor 596) ↩
  8.     Lihat kitab Tahdzirul Khillan min Riwayatil Ahaditsi adh-Dha’ifati Hawla Ramadhan, halaman 151 dan yang setelahnya, dengan sedikit pengurangan ↩
  9.     Lihat kitab Tahdzirul Khillan min Riwayatil Ahaditsi adh-Dha’ifati Hawla Ramadhan, halaman 207. Lihat pula Silsilatul Ahaditsi adh-Dha’ifah wal Maudhu’ah (13/640 nomor 6294) ↩
  10.      Lihat kitab Tahdzirul Khillan min Riwayatil Ahaditsi adh-Dha’ifati Hawla Ramadhan, halaman 207. Lihat pula Silsilatul Ahaditsi adh-Dha’ifah wal Maudhu’ah (13/640 nomor 6294) ↩
  11.     Lihat kitab Tahdzirul Khillan min Riwayatil Ahaditsi adh-Dha’ifati Hawla Ramadhan, halaman 207. Lihat pula Silsilatul Ahaditsi adh-Dha’ifah wal Maudhu’ah (13/640 nomor 6294) ↩
  12.     Lihat kitab Tahdzirul Khillan min Riwayatil Ahaditsi adh-Dha’ifati Hawla Ramadhan, halaman 287. Lihat pula Silsilatul Ahaditsi adh-Dha’ifah wal Maudhu’ah (8/281 nomor 3811), dan Dha’iful Jami’ ash-Shaghir (3581 dan 3582) ↩
  13.     Lihat al-Jami’ li Akhlaqir Rawi wa Adabis Sami’ (2/159), karya al-Imam al-Khathib al-Baghdadi t (463 H) ↩



Sumber: https://muslim.or.id/28116-hadits-hadits-dhaif-seputar-bulan-ramadhan.html

Serah Terima Sertifikat Syariah Halal PayTren dr MUI




Info Lengkap, Silahkan Langsung Konfirmasi via WhatsApp

085743466026

Agar Lebih Mudah Pendaftaran & Bimbingan