Memahami Esensi Qurban


Om-Leehin.My.Id - TRADISI Qurban, hingga saat ini, telah menjadi bagian dari kegiatan umat Islam di seluruh belahan dunia. Dan mereka (baca: umat Islam) telah melaksanakannya sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kegiatan ritual yang menyertai pelaksanaan shalat ‘Īdul Adh-hâ.
Tetapi, pertanyaan yang harus diajukan: “apakah mereka melaksanakannya hanya sekadar sebagai sebuah tradisi, atau benar-benar telah melaksanakannya sebagai bagian dari kesadaran tauhîd ulûhiyyah mereka?” Karena Allah befirman:

لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَـٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ ۚ كَذَ‌ٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ ﴿٣٧﴾ 

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS al-Hajj/22: 37).

Qurban – dalam ayat tersebut – dinyatakan: “bukanlah sekadar kegiatan ritual untuk menyembelih hewan qurban. Tetapi, lebih jauh dari itu, dinyatakan oleh Allah sebagai perwujudan dari ketakwaan kepada Allah. Dan qurban yang dilakukan sebagai perwujudan dari ketakwaan itulah yang akan diterima oleh Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ sebagai ibadah qurban yang sesungguhnya.

Penjelasan

Qurban adalah sebuah istilah yang – bila dikembalikan kepada makna aslinya – bermakna “kedekatan atau pendekatan”, yang ketika dikaitkan dengan ibadah bermakna “upaya pendekatan diri seorang hamba kepada Khaliq-nya”. Simbolnya bisa berupa “penyembelihan hewan qurban”, sebagaimana yang dilakukan oleh umat Islam pada waktu hari raya “Idul Adha”, atau – sebenarnya – bisa dengan simbol lain yang tidak harus berupa penyembelihan hewan.

Memersembahkan “persembahan” kepada tuhan-tuhan adalah keyakinan yang dikenal manusia sejaka lama. Dalam kisah Habil dan Qabil yang disitir al-Quran disebutkan bahwa saudara kembar perempuan Qabil yang lahir bersamanya bernama Iqlimiya sangat cantik, sedangkan saudara kembar perempuan Habil bernama Layudza tidak begitu cantik. Dalam ajaran Nabi Adam ‘alaihis salâm dianjurkan untuk mengawinkan saudara kandung perempuan dengan saudara lak-laki dari lain ibu. Maka, dengan kebijakan itu, timbullah rasa dengki di hati Qabil terhadap Habil, sehingga ia menolak untuk melakukan pernikahan itu dan berharap bisa menikahi saudari kembarnya yang cantik. Lalu, untuk menyelesaikan perseteruan itu, mereka (Habil dan Qabil) bersepakat untuk memersembahkan “qurban” kepada Allah, dengan ketentuan: “siapa yang diterima qurbannya, itulah yang akan diambil pendapatnya dan dialah yang dianggap benar di sisi Allah. Selanjutnya, untuk melaksanakan kesepakatan itu, Qabil pun memersembahkan seikat buah-buahan dan Habil memersembahkan seekor domba dengan niat masing-masing. Dan ternyata, menerima qurban Habil, sebaliknya Dia (Allah) menolak qurban Qabil. Mengapa? Inilah sebuah peristiwa yang perlu dipahami sebagai sebuah pelajaran yang berharga.

Qurban ini juga dikenal oleh umat Yahudi untuk membuktikan kebenaran seorang nabi yang diutus kepada mereka, sehingga tradisi itu dihapuskan melalui perkataan nabi Isa bin Maryam. Tradisi keagamaan dalam sejarah peradaban manusia yang beragam juga mengenal persembahan kepada Tuhan ini, baik berupa sembelihan hewan hingga manusia. Mungkin kisah nabi Ibrahim ‘alaihis salâm yang diperintahkan menyembelih anaknya adalah salah satu dari tradisi tersebut.

Persembahan suci dengan menyembelih atau mengorbankan manusia juga dikenal dalam peradaban Arab pra-Islam. Disebutkan dalam sejarah bahwa Abdul Muthalib, kakek Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, pernah bernadzar, bahwa kalau ‘Ia’ diberi karunia 10 orang anak laki-laki, maka ‘Ia’ akan menyembelih salah satu anaknya sebagai qurban. Lalu, jatuhlah undiannya kepada Abdullah, ayah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Mendengar berita itu, kaum Quraisy melarangnya, agar tidak diikuti generasi setelah mereka. Dan akhirnya Abdul Muthalib pun sepakat untuk menebusnya dengan 100 ekor onta.

Karena kisah ini, pernah suatu hari seorang Badui memanggil Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam dengan panggilan: “Hai anak dua orang sembelihan!” Beliau hanya tersenyum. Dua orang sembelihan yang dimaksud dalam pernyataan itu adalah Isma’il ‘alaihis salâm dan Abdullah bin Abdul Muthalib.

Begitu juga persembahan manusia ini dikenal dalam tradisi agama masa Mesir kuno,  India, Cina, Irak dan dan umat manusia lainnya sebelum diutusnya Nabi Mummad shallallâhu ‘alaihi wa sallam sebagai Rasul Allah. Kaum Yahudi -- misalnya -- juga mengenal qurban manusia, hingga “Masa Perpecahan” (Diaspora). Kemudian lama-kelamaan qurban manusia diganti dengan qurban hewan atau barang berharga lainnya. Dalam sejarah Yahudi, mereka mengganti qurban dari manusia menjadi sebagian anggota tubuh manusia, yaitu dengan khitan. Kitab Injil – yang menjadi kitab umat Nasrani -- penuh dengan cerita qurban. Penyaliban Yesus menurut umat Nasrani merupakan salah satu qurban teragung. Umat Katolik juga mengenal qurban hingga sekarang, berupa kepingan “tepung suci”. Pada masa jahiliyah Arab, orang-orang Arab pun memersembahkan lembu dan onta ke Ka’bah sebagai qurban untuk tuhan-tuhan mereka.

Ketika Islam turun diluruskanlah tradisi tersebut. Islam mengakui konsep persembahan kepada Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ berupa penyembelihan hewan, namun diatur sedemikian rupa sehingga sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan dan bersih dari unsur penyekutuan (syirik) terhadap Allah. Islam memasukkan dua nilai penting dalam ibadah qurban ini, yaitu nilai historis berupa pengabadian kejadian penggantian qurban nabi Ibrahim ‘alaihis salâm dengan seekor domba – misalnya -- dan nilai kemanusiaan berupa pemberian makan dan membantu fakir miskin pada saat hari raya ‘Īdul Adh-hâ.

Jadi esensi qurban, dalam ajaran Islam -- bukanlah sekadar “penyembelihan hewan“ itu, yang pada akhirnya – hingga saat ini -- menjadi bahan yang diperdebatkan, dan sangat melelahkan, tetapi merupakan “pendekatan diri kepada Allah dengan simbol-simbol yang beragam“, termasuk hewan qurban itu, yang semuanya diorientasikan hanya untuk mencari ridha Allah semata-mata, sebagaimana yang diisyaratkan oleh Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dalam QS al-Hajj, 22:37 di atas.

Dari pemahaman yang tepat tentan Ibadah qurban, maka kita dapat mengambil beberapa pelajaran yang sangat berharga.

‘Ibrah (Pelajaran Penting) dari Ibadah Qurban


Kisah tentang Qurban, baik yang terjadi pada masa Nabi Adam ‘alaihis salâm,  terkait dengan dua orang puteranya, Habil dan Qabil, dan juga kisah yang terjadi pada masa Nabi Ibrahim ‘alaihis salâm, ketika diperitahkan oleh Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ untuk menyembelih puteranya (Isma’il), kini telah menjadi sebuah tradisi turun-temurun bagi umat Islam. Nabi Ibrahim ‘alaihis salâm yang sebenarnya pada saat itu -- secara pribadi -- berkeberatan untuk melaksanakannya, dengan kekuatan imannya, telah mengabaikan perasaannya, dan benar-benar bersedia untuk melaksanakannya dalam rangka mewujudkan ketaatannya kepada perintah Allah, sebagai satu-satunya Ilâh (Tuhan yang layak disembah). Inilah bagian dari kesadaran tauhîd ulûhiyyah yang diujudkan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salâm dalam bentuk ‘qurban’, yang layak dijadikan sebagai teladan bagi siapa pun yang hendak berqurban.

Nabi Ibrahim ‘alaihis salâm diutus oleh Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ. untuk mengorbankan puteranya (Isma’il), melalui mimpinya. Pada waktu itu Nabi Ibrahim ‘alaihis salâm yang gundah-gulana, akhirnya menceritakan perihal mimpinya kepada anaknya (Isma’il). Dan Isma’il pun berkomentar: “jika memang mimpi itu merupakan perintah dari Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ, maka segera laksanakanlah”, sebagaimana yang kita bisa fahami dari (makna) firman Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dalam QS ash-Shâffât/37: 102,

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah, apa pendapatmu." Ia (anaknya) pun menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insyâallâh kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

Kesungguhan serta keihklasan Nabi Ibrahim ‘alaihis salâm dengan menjalankan perintah Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ, dibalas dengan perubahan (pergantian) puteranya (Nabi Isma’il) dengan ‘hewan qurban’. Hingga pada akhirnya pun Isma’il tidak (jadi) tersembelih, karena kehendak Allah. Keteguhan serta kesabaran Nabi Ibrahim ‘alaihis salâm ini, telah memberikan suatu pelajaran bahwasanya Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ selalu memiliki jawaban yang terbaik atas semua perintah yang diberikan. Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dengan segala kemahasempurnaan-Nya telah memiliki alasan tertentu di dalam setiap ujian yang diberikan kepada seluruh hamba-Nya.

Dari keikhlasan Habil dan – juga – keteguhan iman yang dimiliki oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salâm beserta anaknya – Isma’il -- ini, kita dapat menarik  beberapa pelajaran, antara lain:

Pertama, makna berqurban adalah upaya pendekatkan diri kepada Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ. “Berqurban”, bermakna kesunggguhan untuk menyerahkan segalanya kepada Allah, sebagai perwujudan dari kesadaran Tauhîd Ulûhiyyah. Seperti -- misalnya -- Nabi Ibrahim ‘alaihis salâm yang telah mengikhlaskan puteranya (Isma’il) yang sesungguhnya sangat beliau cintai, dengan perintah Allah, beliau rela untuk mengurbankan puteranya tersebut. Hal ini tentu saja tidak akan mudah dilakukan, kecuali bagi orang yang telah memiliki keimanan yang kokoh, dan – utamanya – ber-tauhîd ulûhiyyah.

Kedua, dengan cara berqurban manusia tersebut diajarkan untuk berbagi kepada orang lain, seperti -- misalnya -- yang telah dipaparkan sebelumnya, bahwa Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ selalu memunyai alasan yang sangat kuat untuk memerintahkan para hamba-Nya untuk berqurban. Dengan adanya qurban ini kita dilatih untuk membuang sikap bakhil dan tamak dan menghadirkan sikap kedermawanan.

Ketiga, qurban bukanlah sekedar upacara ritual belaka. Dengan berqurban, manusia dilatih untuk membangun karakternya sebagai pribadi ‘pemberi’, dan melepas karakternya sebagai ‘peminta’. Karena Islam – dalam konsep zakat, misalnya --mengajarkan kepada umatnya untuk menjadi para muzakki, dan bukan ‘mustahiq’.

Demikian ulasan ringkas yang dapat penulis sampaikan tentang makna ‘qurban’, yang utamanya penulis rujuk pemahamannya dari QS al-Hajj/22: 37. Semoga bermanfaat.

Wallâhu ‘alamu bish-shawâb.

Sumber : Muhsin Hariyanto